Cemara Pecas Ndahe

Agustus 29, 2007 § 19 Komentar

Di bawah bukit-bukit yang kering. Di tengah pucuk-pucuk cemara mendesau. Pada dasarnya kita semua adalah pelaku, sekaligus saksi setiap peristiwa. Kita beraksi dalam lakon yang berubah setiap hari.

Kita bertarung. Terluka. Berpeluh. Menangis dan tertawa. Kita menjadi bagian dari sejarah peradaban. Dan, sejarah bukanlah sebuah kreasi show business.

Sejarah terukir di jalanan, di dalam keraton, di balik gedung parlemen, di lapangan, juga di atas ranjang.

Lalu apakah itu marijuana, warna-warni psikedelik, kliyeng-kliyeng yang hangat, seks yang longgar? Sebuah pemberontakan atau kerusuhan yang bergairah?

Saya merenung-renungkan kembali petikan percakapan saya dan Diajeng itu dalam perjalanan menuju Merlimba Garden, tempat senja memerah dan kabut turun. Saya agak-agak antara lupa dan ingat kenapa kami tiba-tiba bercakap soal hidup, takdir, sejarah, juga karma.

Mungkin setelah Diajeng membaca novel James Redfield, Celestine Prophecy. Mungkin setelah kami bercinta penuh gairah semalaman di apartemennya. Mungkin juga setelah … Ah, entah. Saya tak bisa mengingatnya. Terlalu banyak waktu yang telah kami lewatkan bersama. Terlalu banyak kenangan yang abadi di masa lalu …

Diajeng adalah hamparan laut luas tak bertepi. Bercakap dengannya itu tak ada habisnya. Kami bisa bercakap tentang apa saja bila bertemu sambil menyesap bercangkir-cangkir kopi hangat di sebuah kedai. Kami bisa melakukan kegiatan apa saja yang buat orang lain mungkin tak ada artinya. Menghitung jumlah bintang di atas The Peak, memandang takjub bulir-bulir gerimis yang membasahi kaca jendela sebuah hotel di Carita, menanti embun jatuh dari ujung dauh teh di Puncak.

Mengingat keping-keping keintiman masa lalu seperti itu membuat saya seperti menelan biji duku. Pahit. Barangkali ini yang disebut orang sebagai kesedihan yang mengasyikkan itu.

Saya berusaha membuang kenangan lama itu ke arah jalan tol Jagorawi yang lempang. Tumben, sore-sore begini lalu lintasnya agak sepi. Saya langsung menginjak pedal gas lebih dalam. Tapi, di lajur sebelah kanan saya, seekor Jaguar perak metalik seri X-Type ternyata lari lebih kencang ketimbang gerobak Jepang saya yang sudah layak masuk museum itu. Asyu!

Ah, biarin. Yang penting saya tetap bisa segera sampai di Merlimba Garden di Puncak sebelum matahari terbenam. Diajeng pasti sudah sampai di sana. Seperti biasa, ia pasti sudah menunggu dalam kesabaran yang belum pernah tertandingi perempuan mana pun dalam kehidupan saya.

Saya ingat, Diajeng memang sering menunggu saya dalam malam-malam yang panjang berteman kesepian. Seperti ketika saya mendapat tugas ke Swedia, menghadiri undangan sebuah perusahaan telepon genggam. Kalau sudah begitu, biasanya Diajeng mengirim e-mail seperti ini.

To: mas@hotmail.com
From: diajeng@hotmail.com
Subject: kangen cemara

Belahan jiwa,
Hari ini tepat sepekan kamu berada di Stockholm. Aku nggak tahu kamu lagi ngapain ketika membuka e-mail ini, Mas. Yang jelas aku makin kesepian di sini. Perasaanku tak menentu. Ada kekangenan sekaligus kekesalan di hati.

Kangen karena ternyata sebenarnya aku mulai menginginkan kehadiranmu di dekatku, Mas. Kesal karena kamu nggak pulang-pulang. Padahal urusan sudah beres, kan? Jadi kenapa kamu masih di situ? Asyik sama gadis-gadis bule ya? Huh!

Belahan jiwa,
Asal kamu tahu saja, aku getting insane belakangan ini. Setiap hari aku cuma memandangi frame berisi foto kita berdua yang sedang berpelukan dan kupajang di atas komputer. Kamu tentu masih ingat kan Mas, bagaimana kita membuat foto itu?

Waktu itu, kalau nggak salah ingat, kita abis jalan-jalan dan kehujanan sampai basah kuyup. Tiba-tiba kamu punya ide gila untuk bikin foto berdua dalam keadaan basah kuyup. Berhubung kita lagi di Pasaraya, kamu langsung menyeretku ke bilik foto di basement itu.

Kamu bilang, kamu mau mewujudkan rencanaku yang belum kesampaian saat itu: bikin foto berdua. Uh, asal kamu tahu aja Mas, aku kan malu sebenernya ketika itu. Apalagi waktu mbak-mbak yang jaga bilik foto itu mesem-mesem ngliat tingkah kamu yang maunya pelukan terus.

Sampai sekarang aku masih suka senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian itu. Kamu emang gila kadang-kadang. Tapi harus kuakui, foto itu jadi unik. Bajumu basah kuyup kayak tikus kecebur got. Dan, posemu itu loh, hehehe… aku nggak bisa membayangkan apakah kamu mau melakukannya lagi sekarang.

Hahaha …. Kamu pasti membaca e-mail ini sambil cemberut sebel dan dalam hati kamu bilang, “Awas kalau ketemu di Jakarta nanti ya ….”

Belahan jiwa,
Selain ngliatin foto, kamu tahu apa yang selalu aku lakukan dua hari terakhir ini? Aku selalu membuka lemari dan mencari baju-bajumu yang tertinggal di apartemenku. Kuambil satu per satu, lalu kuciumi. Termasuk underwear-mu, hehehe …

Kucari-cari adakah bau tubuhmu yang masih tertinggal di sela-sela kain itu. Gila memang, tapi asal kamu tahu aja, itu cara manjur untuk mengobati kerinduanku padamu. (Uuuuh, pasti kamu ngetawain deh caraku ini. Kamu emang nggak sayang aku sih, Mas … Huh!)

Tapi, memang itulah yang bisa kulakukan saat ini ketika kamu nggak ada. Kadang-kadang nyesel juga aku nggak menerima ajakanmu buat ikut saja sekalian ke Swedia. Ah, seandainya saja urusan pameranku di Jakarta beres, aku pasti nggak mikir dua kali deh. Tapi kan kamu tahu sendiri, banyak urusan yang mesti diselesaikan di sini.

Eh, mami udah nggak ngambek lagi tuh. Tadi, pagi mami mampir ke sini bawain spagheti carbonara buatannya sendiri. Dia bilang masakannya itu sebenarnya buat arisan di rumah. Tapi, karena kebanyakan, sisanya dikasih ke aku.

Mamiku baik ya, Mas? Biar ngambek, ternyata masih juga inget sama aku yang lagi kesepian ditinggal belahan jiwanya, hehehe ….

Anyway, enak juga loh rasanya. Kamu mesti coba juga sekali-sekali. Mami juga sempet nanyain kenapa kamu nggak pulang-pulang. Katanya, dia udah nunggu oleh-oleh dari kamu.

Belahan jiwa,
Waktu nulis e-mail ini, aku sempet nglirik kalender. And you know what? Hari ini tanggal 18 November. Yes, our great day. Uh, kamu pasti lupa deh. Buktinya nggak nelpon aku hari ini. Aku jadi inget, bertahun-tahun yang lalu kita biasanya merayakan hari ini cuma berdua di Cafe Cemara 6: that historical place for us.

Seperti biasa kamu selalu memesankan aku cappucino dan tiramisu kegemaranku. Lalu kita ngobrol ngalor-ngidul nggak ada juntrungannya sembari cekikikan berdua sampai malem. Uh, I really miss that time … Kapan kita terakhir melakukannya ya? Dua atau tiga tahun yang lalu? Uh, rasanya udah berabad-abad kita nggak ke sana lagi ya? Tempat itu masih ada kan, say?

Belahan jiwa,
Aku merasa banyak hal yang nggak kita lakukan lagi belakangan ini. Saat-saat berdua, pelukan-pelukan, mesra-mesraan, gigitan di telinga, atau adu hidung kesukaan kita itu. Tapi, kamu terlalu sibuk akhir-akhir ini, Mas. Pergi mulu. Huh, sebel!

Kamu sering melupakan apa yang seharusnya kita lakukan untuk kita sendiri. Kamu merasa gitu juga nggak sih? Pokoknya, kalau kamu pulang nanti, kita akan mengubah semuanya ini. Kita harus memperhatikan diri kita lagi. Kita harus meluangkan waktu buat kita sendiri. Awas ya kalau nggak …

Sweet kisses
Diajeng, yang lagi kangen Cemara, bukan kamu, weeeek …

Saya tersenyum mengenangkan surat itu. Surat itu hanya satu di antara surat lain yang hampir tiap hari masuk ke inbox. Untunglah, Scandic Hotel di seberang Central Station, Stockholm, tempat saya menginap memang menyediakan akses internet super kencang sehingga saya gampang membuka dan membalas e-mail Diajeng.

Tapi, biasanya saja tak pernah membalasnya. Kesibukan membuat laporan membuat mata saya tak sanggup terbuka lebih lama di depan komputer. Setelah membaca surat, saya langsung berangkat ke peraduan. Tidur. Jadilah Diajeng yang uring-uringan sendiri karena merasa tak diperhatikan.

Apakah sekarang Diajeng juga sedang merasa tak diperhatikan karena sudah menunggu terlalu lama di Merlimba? Sudah berapa batang rokok yang dihabiskannya? Saya tak tahu.

Yang jelas, pucuk pinus dan cemara di taman itu sudah mulai terlihat. Jalan menikung. Jarak semakin dekat. Kabut mulai turun. Jantung saya berdegup semakin kencang, tak sabar bertemu Diajeng …

Iklan

§ 19 Responses to Cemara Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cemara Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: