Kabut Pecas Ndahe

September 3, 2007 § 17 Komentar

Malam seperti itu, hujan sering turun
Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas
Kulit terasa lekat
Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang
Kaki-kaki telah bergegas
Orang mencari tempat dan atap — Fred de Silva

Bukan cuma hujan yang menepati janji. Di Puncak, kabut justru nyaris tak pernah ingkar janji untuk datang di senja hari.

Seperti sore itu, beberapa puluh meter menjelang Merlimba Garden, kabut mulai membungkus jalanan, lalu perlahan turun seperti kelambu putih menutup ranjang.

Saya menginjak rem, mengoper gigi, lalu belok kiri menuju pintu gerbang taman. Seorang petugas parkir menyambut ramah. Senyumnya mengembang seraya tangannya mengangsurkan selembar karcis.

“Lurus saja, Pak,” katanya. Tangannya menunjuk ke sebidang lahan kosong persis di depan Merlimba Kitchen, tempat makan favorit Diajeng.

Saya celingukan seperti rusa masuk kampung, mencari-cari sosok Diajeng atau paling tidak mobil merah hadiah ulang tahun dari papinya itu di tempat parkir. Tapi, tak ada. Saya lihat halaman parkir di sebelah kanan taman juga kosong. Jangan-jangan Diajeng tak jadi datang?

Aneh. Seaneh gerimis yang mendadak jatuh. Saya segera meninggikan kerah baju dan berlari kecil menuju Merlimba Kitchen. Seorang pelayan bergegas menyambut di pintu. “Berapa orang, Pak?” ia bertanya dengan ramah.

“Sendiri. Eh, sebetulnya saya ada janji dengan seorang teman. Saya ndak tahu apakah dia sudah datang atau belum?” jawab saya sambil mencari-cari sosok Diajeng.

“Dari tadi belum ada tamu lain tuh, Pak. Barangkali Bapak mau menunggu sambil pesan minum dulu?”

“Iya deh,” jawab saya seraya menuju meja di pojok, tempat favorit Diajeng. “Saya minta kopi, Mbak.”

Mbak pelayan itu mengangguk dan berlalu.

Asyem tenan. Dalam hati saya mengutuk diri saya sendiri yang kelupaan membawa handphone. Beginilah nasib orang zaman sekarang yang sudah begitu tergantung pada handphone. Tanpa handphone, saya ndak bisa mengontak Diajeng. Saya ndak tahu apakah dia masih on the way atau membatalkan janji. Di mana dia sekarang?

Jarang-jarang Diajeng datang terlambat atau ingkar janji. Biasanya justru saya justru yang datang telat kalau kami rendevouz di suatu tempat.

Di luar, gerimis berubah menjadi hujan. Ah, saya jadi ingat kumpulan cerita pendek Nugroho Notosusanto, Hujan Kepagian, tentang mereka yang bertempur dan tewas untuk tanah airnya, dalam usia begitu muda. Mereka ibarat hujan yang jatuh terlalu pagi mungkin, karena cuaca terlalu buruk.

Sesungguhnya memang tak banyak orang tahu betapa cuaca bisa jadi buruk. Kita juga ndak tahu bahwa kita bisa nangis, bisa kecewa, bisa marah, bisa terluka atau lebih dari itu β€” bukan karena soal-soal biasa.

Memang tak selalu orang tahu pasti apakah cuaca akan membaik atau justru memburuk. Kita hanya bisa meramal, seperti nyanyian Bob Dylan itu. You don’t need a weatherman to know which way the wind blows …

Pelayan datang membawakan secangkir kopi. “Silakan, Pak,” katanya ramah sambil meletakkan cangkir di meja.

“Terima kasih, ya,” jawab saya seperlunya.

Sambil menunggu Diajeng datang, saya menyesap kopi perlahan. Hmmm, nikmat betul kopi panas di tengah hujan yang mendinginkan suasana ini. Air hujan menghapus kabut. Tapi, matahari tak nampak juga. Sudah kesorean rupanya.

Saya mengingat-ingat pesan Diajeng tadi. Kutunggu di tempat senja memerah dan kabut turun. Apakah saya salah tempat? Rasanya mustahil. Tak ada lagi tempat seperti itu dalam kamus kami berdua selain di Merlimba Garden. Apakah saya salah tebak?

Sedetik berubah jadi semenit. Menit-menit berlalu. Tak terasa sudah hampir sejam saya menunggu. Pelayan datang lagi, “Sudah mau pesan makan, Pak?”

“Eh, belum. Nanti saja, sebentar lagi,” jawab saya.

Saya mulai kehilangan kesabaran. Resah. Berkali-kali saya melihat ke arah pintu gerbang. Satu dua mobil masuk. Tapi, bukan Diajeng. Lama-lama saya nyerah.

Kalau begini caranya, mending saya balik kucing saja. Pulang. Bodo amat dengan Diajeng. Bukan saya yang butuh, tapi dia. Saya memang sudah berjanji pada maminya untuk mencari dan menyampaikan pesannya. Tapi, kalau ndak ketemu seperti ini, ya nanti bilang saja ke mami apa adanya.

Saya sudah hendak berdiri ketika tiba-tiba seorang pelayan datang dengan tergesa. Setengah berlari. “Maaf Pak … Bapak menunggu Diajeng, ya?”

Saya kaget bin heran. “Iya, kok tahu?”

“Anu Pak, ada telepon untuk Bapak. Katanya dari Diajeng,” katanya sedikit tergagap.

“Oh ya?” jawab saya ndak kalah heran.

“Iya, Pak. Silakan Pak, pakai teleponnya di dekat kasir. Mari saya antar,” jawab pelayan itu seraya membalikkan badan.

Saya mengikutinya dari belakang. Saya bertanya-tanya dalam hati. “Di mana Diajeng. Kenapa dia telepon? Kenapa …”

Ah, saya ndak berani menduga-duga …

Iklan

§ 17 Responses to Kabut Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kabut Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: