Hamburger Pecas Ndahe

September 19, 2007 § 31 Komentar

Para buruh pabrik, teman-teman saya itu, sering nggaya bila sedang berpuasa. Begitu tanda waktu Magrib tinggal sejam lagi, biasanya mereka langsung sibuk kasak-kusuk merancang dan mencari tempat ngabuburit.

Ada banyak pilihan, dan karena itu ada banyak kebingungan. Maklum, pabrik saya memang berada di kawasan yang dikelilingi para pedagang makanan yang beragam dan memang uenak-uenak.

Masalahnya, selera orang bisa beda-beda. Tiap orang pun datang dengan satu usulan. Ada yang usul buka puasa dengan soto ceker ayamlah, soto Betawilah, soto kikilah, sop kambinglah, dan sebagainya.

Kebetulan, kemarin sore ada sekelompok buruh yang memilih hamburger sebagai menu buka puasa. Paklik Isnogud langsung ngakak begitu mendengar rencana itu. Saya sampai harus menginjak kakinya supaya Paklik ndak terlalu terlihat sinis.

“Ssst … sudah, sudah, Paklik. Jangan kenceng-kenceng tertawanya, nanti mereka tersinggung.”

“Lah gimana ndak geli, Mas. Mosok buka puasa pakai hamburger? Kayak ndak ada makanan lain saja.”

“Ya sudah, biarin saja. Barangkali mereka memang sedang kebelet makan hamburger.”

“Halah. Nggaya. Seperti bule saja. Mbok ya buka puasa itu yang sederhana saja. Ngemil kurma kek, kolak pisang kek, nyeruput wedang jahe atau teh nasgitel [panas, legi, kentel] kek. Lah ini kok malah hamburger.”

“Wis, Paklik. Wis. Sudah. Selera orang kan boleh beragam. Sampean ndak boleh mentertawakan. Jangan samakan selera sampean yang agak ndesit, tahunya cuma sego kucing, dengan selera mereka, Paklik.”

“Iyo, iyo, Mas. Tapi, ngomong-omong, sampean tahu hamburger kan, Mas? Itu lo sepotong daging yang disusun kembali dari kehancuran dan diapit oleh dua belahan roti, dan kadang disertai potato chips alias kentang yang dipotong-potong, yang digoreng, dan sebenarnya bisa disebut sejenis kripik …”

“Ya tahu dong, Paklik. Saya memang ndesit, tapi kalau cuma burger ya tahu dong. Mbok sampean ini jangan terlalu meremehkan saya to …”

“Nah, saya punya cerita, Mas. Pernah ada masanya dulu, yah mungkin sekitar akhir 1970-an, ketika hamburger pertama kali dijual di Jakarta.

Waktu itu banyak anak dari kelas menengah ke atas yang sering nampak duduk di sudut-sudut kedai, menggoyang-goyangkan kakinya, menghadapi milkshake (minuman kental-manis yang bukan kolak, Mas), dan mulutnya repot menyesuaikan diri dengan sekian sentimeter tebal benda yang disebut hamburger itu.

Dan, bapak-ibu mereka pun pada manggut manggut, ‘Anak kita sudah seperti anak Amerika. Modern dan bergizi.’

No kidding. Hamburger sudah datang. Anak kita sudah seperti anak Amerika. Itu artinya bahwa hamburger merupakan satu tahap kemajuan, juga seperti-anak-Amerika dianggap demikian.

Maklumlah. Hamburger, yang tampangnya benar-benar jelek itu, memang punya prestise. Ia datang dari sebuah negeri maju. Ia secara sengaja atau tak sengaja dipromosikan dalam satu paket. Hidup modern yang menerobos, lalu mengendap, di benak kita.

Maka, dengan mudah pun kita menerimanya. Kalau perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dalam hal hamburger, itu berarti ia dicelupkan ke dalam sambal pedas – suatu kombinasi yang menurut seorang ahli sosiologi makanan disebut hamburger a la mestizo.

Tapi, orang Indian Tarahumara tidak makan hamburger. Suku bangsa yang hidup di pegunungan tinggi di utara Meksiko ini mempunyai menu yang menurut ukuran Amerika mirip menu orang kelaparan: cuma makan daging dua kali setahun. Selebihnya kalori mereka berasal dari jagung, kacang-kacangan, buah, sayur, kentang, atau telor kadang-kadang.

Meskipun begitu, orang Tarahumara toh biasa bertanding lari terus-menerus, sampai dua hari, sepanjang jarak 320 kilometer. Itu pun lazimnya didahului dua sampai lima hari persiapan: setengah puasa.

Tergerak untuk memanfaatkan orang Tarahumara, suatu ketika pemerintah Meksiko merekrut mereka sebagai atlet Olimpiade.

Mereka dimasukkan ke dalam pusat latihan, dan diperlakukan menurut resep atlet modern: makan beef steak banyak telor dan susu. Akibatnya: berantakanlah proses perut yang sederhana itu. Dan, kita tak pernah dengar ada juara maraton dari Meksiko.”

“Hahaha … ” saya ngakak mendengar cerita Paklik itu. Ada-ada saja ya …

Ngomong-omong, apa menu buka puasa sampean hari ini, Ki Sanak?

Iklan

§ 31 Responses to Hamburger Pecas Ndahe

  • Aris Heru berkata:

    teh manis hangat plus tempe mendoan .. wuid sedap. apalagi tempe pesanan yg dipesan 3 minggu lalu, baru datang tadi pagi.

  • kw berkata:

    kolak yang isinya pisang, kolang kaling, dan ubi. snacknya 3 macam panganan: risoles, terus aku gak tau namanya, dan satu lagi gak tahu juga namanya.

    terus segelas air putih netral (tak dingin tidak juga panas) dan secangkir teh panas manis.

    dan sefolder gambar-gambar bokep, whua whua whua…. 🙂

  • kambing oranye berkata:

    eiya mas, klo ga salah emang suku tarahumara ntu lari cuman buat kesenangan aja

    hehehe, ga kasian toh ma saya mas?

    anak kos…

    mu bli buka malesnya minta ampun, jadi cuman anggur onta (baca : korma) ma aer putih doank.

    btw, saya baru tau nasgitel tu teh, sya kira nasi goreng… hehehe

  • agus berkata:

    sudah hampir 2 bulan saya berada di Brisbane, Australia. dan selama ini tidak pernah sekalipun saya menyentuh makanan yg bernama hamburger itu disini. takut tercampur dgn daging yg gak halal, Ndoro.
    sampai puasa hari ketujuh ini menu buka puasa saya sederhana saja, diawali minum air putih 1 gelas, makan kurma 2 buah trus shalat magrib. setelah itu biasanya saya makan pasta ato kentang ditemani lauk kornet, ikan tuna ato ayam goreng masakan sendiri. sayurnya kalo gak sayur sop ya sayur lodeh ato sayur asem yg bumbunya (bumbu instant) saya beli di chinatown. saya makan nasi cuma 2 kali seminggu (hari sabtu-minggu), gak sempet masaknya. tidak seperti pasta yg cukup direbus selama 10 menit, nasi disini perlu diliwet dan makan waktu paling cepat 30 menit. lagian saya pikir kandungan gizinya beda2 tipis… 😀
    hiks… udah homesick nih, kangen anak-bini. tapi saya baru bisa pulang tgl 8 oktober… 😦
    *curlong*

  • tata berkata:

    Ketan si taburi kelapa wess endang tenann

  • mbahatemo berkata:

    glekh.. waduh, dadi ngelih..

  • nananias berkata:

    .. jadi inget ada pelari maraton yang sangat potensial di salatiga dulu itu, dikirimlah dia ke amerika untuk berlatih, tapi baru beberapa saat dia ngotot pulang ke indonesia karena … ngga suka disuruh pake sepatu kalo lari dan kangen singkong!

    orang itu biasa lari dari suruh ke salatiga dan balik ke suruh hanya untuk berangkat ke sekolah… suruh salatiga itu hmmm jauuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh 🙂

  • guntur berkata:

    seleraku podo paklik isnogud….sego kucing dan segelas kopi ndeso yang manis.

  • gembul berkata:

    wong kene meh buko wae mikir, opo yo iso buko. kok sampeyan posting hamburger, jan ora tepo sliro

  • andrias ekoyuono berkata:

    di lantai dasar pabrik saya ini banyak warung, seperti burger king, oh lala, pizza hut, XXI lounge, ataupun resto2 jepang di lt dasar atau lt 4. Tapi tetep aja kalo buka mendingan jalan kaki dikit ke sabang, dasar weteng ndeso kutu kupret 🙂

  • pinkina berkata:

    hikssss, Ndoro nyindirrrr akuuuuu, semalem aku buka hamburger di *W, deket kampus 😦 lha nang kampusku enek’e mek siomay, wes eneg mblenek aku.. akhire mangan sing praktis2 ben gak telat ngampus 😦

  • Bening berkata:

    Sambil menyelam minum air, sambil puasa sekalian diet cieeeh keren ndak tu ndoro ;). Jadi menunya : Air putih dan jus buah kombinasi. Trus sholat. Sesudah sholat baru makan cap cai. Nyam…nyamm… 🙂

  • peyek berkata:

    Tempe menjes, kopi & sebatang rokok filter!

  • pitik berkata:

    hamburger?ham kan daging babi asap to ndoro?lha buko kok malah mangan sing harom ki piye?
    nek aku kolak pisang+kolang-kaling samping pabrik kabel..btw sampeyan jare mengundang buka bersama?*menghembuskan isyu…*

  • Hedi berkata:

    Saya pilih warung nasi goreng di bawah pabrik sampeyan, deket parkir sepeda motor hehehe

  • Mbilung berkata:

    mangan konco ndoro …

  • didats berkata:

    ini ngomongin makanan indonesia?
    *gag mau komentar lebih lanjut*

  • zam berkata:

    tergantung panitia buka bersama Masjid Kampus UGM, ndoro..

    wikikikik..

    teh hangat, sukur-sukur kurma, dan sebungkus nasi gratis..

    hehehehe

  • yati berkata:

    mmm… katanya sebaiknya berbuka dengan yang manis2…jadi saya cukup ngaca, meliati wajah saya yg katanya manis….xixixi…

  • emhade berkata:

    Huahaha… Tapi asyik juga lho Ndoro, ndonga puasane pake bahasa Arab, ukuran puasane pake waktu Indonesia, trus bukanya hamburger ala western. Hemm… andaikan itu terjadi tak hanya di soal perut dan nggaya, pasti lebih sip! Rahmatan lil’alamin banget.

  • kalengkrupuk berkata:

    Paling enak sego kucing gejayan (yang deket pertigaan arah kanisius itu) pake sambel teri-nya yang mak-nyos, tambah tempe goreng anget dan segelas teh kental manis… sewu limangatus.. woalaah enak tenaaaaannnnn…. 🙂

  • kikie berkata:

    bergizikah hamburger gerangan?
    lama tidak makan burger. sejak berenti makan daging ..

  • galih berkata:

    warteg is the best!

  • ndahmaldiniwati berkata:

    nyruput teh anget ma gorengan=P~
    masalah menu makan besarnya serahkan pada warteg, saung sunda, warung padang, sate madura ato warung apapun yang antriannya ga’ panjang (derita anak kost-an);(

  • funkshit berkata:

    perut ndeso jangan dimasuki makanan aneh2 ..ngga cocok ndoro

    “Ngomong-omong, apa menu buka puasa sampean hari ini, Ki Sanak?”
    IGO :D:D bercanda dinks… air putih sama gorengan aja

  • Herman Saksono berkata:

    Ceritanya mirip sama bule yang datang ke Indonesia, lalu makan di warung sego kucing. Mencret2lah dia. Tapi seminggu kemudian, perutnya sudah beradaptasi, dan makin gemar makan makanan lokal jogja yang tidak higienis itu. Kabarnay sekarang dia hobi makan pecel di bonbin UGM.

    Untung manusia bisa beradapatasi ya ndoro?

  • swamie berkata:

    buka arab aja ndoro….

  • wongmumet berkata:

    hehehe, enek sing nyeletuk sego kucing, dadi pengen
    Ndoro kirimke sego kucing ke nabire iso ra yo?

  • abu hamzah berkata:

    ceritane paklik mirip banget sama Catatan Pinggirnya Goenawan Mohamad ya…????

  • mamaendang berkata:

    begitu bedug berbunyi, langsung kusosor bibir suamiku dengan mesra dan lama, dan batallah puasa kami
    ah.. aku memang istri yang luar biasa

  • sidjoe berkata:

    BUAT TEMEN-TEMEN yang berminat mencoba makanan malam khas solo

    DImbuka PADA TANGGAL 31 MEI 2008

    telah DImbuka warung hek SOLO di margonda,depok

    BUKA JAM 07.00 MALAM – SELESAI

    MENU :

    NASI KUCING Rp.2000
    NASI OSENG Rp.2000
    BRAMBANG ASEM Rp.1500

    TAHU n TEMPE BACEM Rp.500

    WEDANG JAHE (ORIGINAL) Rp.3000
    WEDANG JAHE PLUS-PLUS Rp.3500

    sate macem2 Rp.2000

    DLL.

    KAMI SERTAKAN DENAH PETANYA di web:

    klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hamburger Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: