Mudik Pecas Ndahe

Oktober 9, 2007 § 32 Komentar

Hari-hari ini ribuan warga mulai kabur meninggalkan Jakarta, tempat mereka hidup dan mencari nafkah sehari-hari.

Jalanan diwarnai mobil-mobil yang mengangkut koper dan dos-dos karton. Terminal-terminal sesak dipadati para penumpang. Begitu juga pelabuhan air dan udara. Para perantau pulang mudik.

Sampean mudik juga, Ki Sanak? Saya tidak.

Apa sebenarnya makna mudik itu? Sekadar pulang kampung? Perjalanan kembali ke sangkan paraning dumadi? Atau sebuah ritual tahunan para perantau?

Buat Paklik Isnogud, “Pulang” mengandung dua arti. Orang itu balik ke rumah yang ia diami di Jakarta, atau ia naik sepur dan kembali ke udik, seperti yang dilakukan ratusan ribu manusia di sekitar Lebaran.

“Soalnya, sebagai orang yang punya ikatan emosi begitu kuat dengan tanah leluhur di desa, bagaimana sih, kita bisa merasa diri sebagai ‘orang Jakarta’, Mas? Jakarta itu rantau tanpa induk semang.

Bagaimana kita bisa merasa sayang akan taman-taman kota ini, pepohonannya, kaki limanya, bangunan-bangunan, bahkan pengkolan-pengkolannya?”

“Saya ndak tahu, Paklik.”

“Buat saya, mungkin juga sampean, Jakarta seperti kehilangan suatu simpul, juga lambang bersama yang hidup — simpul bagi orang yang di Menteng ataupun di Pondok Indah, di Tanjung Priok ataupun di Kampung Melayu.

Jakarta menyajikan banyak hal, tapi adakah sesuatu yang membikin dia unik, berharga untuk dipertahankan, diteruskan?

Kita mungkin memang jenis orang yang menyimpan kepusingan seorang yang belum berlabuh: seseorang yang tak cukup mencintai tempat asal, tapi juga gagal menambatkan hati ke tempatnya yang baru.

Jakarta toh hanya menadahi kita, tak membentuk. Sebaliknya, kita cuma mengakomodasikan tuntutan-tuntutannya, tapi tak mengasimilasikan diri.

Ada seorang ahli yang mengatakan, di kota seperti ini kita tak hanya menyaksikan proses urbanisasi. Kita juga menghadapi proses ruralisasi.”

“Proses ruralisasi? Apa itu, Paklik?”

Suatu arus manusia dan cara hidup yang masuk ke dalam kota, tapi malah membikin kota itu seperti udik – dengan jumlah kelahiran dan kematian bayinya, dengan takhayul dan ketidakbebasannya.

Setiap kota, juga penghuninya, selalu punya kisah masing-masing. Sebuah kota memang bisa bercerita banyak hal.

‘Kota-kota, seperti halnya mimpi, terjadi karena hasrat dan ketakutan,’ kata tokoh Marco Polo kepada Kublai Khan dalam salah satu kisah ajaib Italo Calvino.

Hasrat kita mungkin hasrat yang lain, ketakutan kita mungkin ketakutan lain, sehingga kita tak merasa ikut menjadikan Jakarta. Dan, karena itu kita mudik setiap tahun, Mas.”

Ki Sanak, saya ucapkan selamat jalan kepada sampean yang mudik. Hati-hati di jalan dan sampai jumpa lagi di Jakarta pekan depan.

Iklan

§ 32 Responses to Mudik Pecas Ndahe

  • mbahatemo berkata:

    mas ndoro ndak mudik?
    marco polo aja mudik kok.. ๐Ÿ˜›

  • iphan berkata:

    ayo mudik… jakarta sepi wess…

  • kw berkata:

    terimakasih. selamat lebaran juga. angpao nya kelupaan ya? ๐Ÿ™‚

    sampai jumpa lagi di jakarta, BULAN DEPAN ndoro…

  • adidassler berkata:

    Cuti Idul Fitri berarti Mudik. Mudik berarti kembali ke udik. Udik berarti kampung. Yaaa… Aku pulang kampung… Aku pulang ke Kampung Bonek tercinta…

  • Abi_ha_ha berkata:

    Kota (Jakarta) terlalu busuk untuk dijadikan identitas ndoro. Yang terpaksa ikut busuk atau minimal mentolerir kebusukan untuk bertahan hidup di kota, bisa sementara merasa bersih dan fitri seperti muasalnya di kampung dulu.
    Atau yang jengah atas kebusukan kota, lebih rela menyandarkan identitasnya di kampung-kampung yang menurut mereka lebih bersih.
    Alhamdulillah, walaupun cuma untuk 4-5 hari, fitrah manusia memang ingin bersih.

  • PeTeeR berkata:

    salam kenal Ndoro… Ini pertama kalinya saya comment do istananya ndoro ini setelah berbulan2 maen sering maen ke sini. hehehe….
    Mudik buat saya bisa terjadi karena kerinduan kita akan sebuah suasana khas yang tidak kita dapatkan di tanah perantauan. Setiap orang pasti punya “suasana khas” yang berbeda tapi yang jelas suasana di rumah sendiri, di tengah kehangatan keluarga pasti sulit kita temukan di tempat lain.
    Selamat mudik buat semua yang lagi pada mudik.

    Ptr.

  • nananias berkata:

    … tapi malah membikin kota itu seperti udik – dengan jumlah kelahiran dan kematian bayinya, dengan takhayul dan ketidakbebasannya.

    baru tahu saya antitesis dari kalimat diatas adalah karakter kota.

  • hanny berkata:

    Ah! Kota-kota Imajiner-nya Calvino! Nggak nyangka Ndoro baca juga hihihihi kirain bacaannya cuma Tempo ;p

  • Anto berkata:

    Wong kita di Jakarta terpisah dari orang tua.Jadi ya musti mudik dong!

    Inilah satu-satunya moment paling tepat untuk saling maaf memaafkan dan kembali mensucikan diri.Setelah selesai menempa diri ( puasa 1 bulan,dengan segala tantangan untuk mengendalikan hawa nafsu );merupakan hari fitri yang sangat sakral bagi kaum muslimin;dan kembali ke masalah orang tua,kita harus membuka diri seterbuka mungkin KARENA KITA PASTI PUNYA DOSA KEPADA ORANG TUA KITA.

    Semoga kita JAUH-JAUH ke JAKARTA meninggalkan kampung halaman tercinta;meninggalkan orng tua kita…..TIDAK HANYA demi MATERI dan kepentingan DUNIAWI.

    Selamat hari raya Idul Fitri,moho maaf lahir & batin.

  • adipati kademangan berkata:

    apa artinya mudik ? hadirnya badan ke kampung halaman ato meminta maaf ?
    kalo saya pulang kampung bukan pada lebaran, apakah bisa dikatakan mudik ?
    kalo saya meminta maaf melalui telepon ato teleconference, bisa dikatakan bermaaf – maafan ?

    ato mudik hanya euforia masyarakat saja karena bisa bersama2 orang yang mengadu nasip di jakarta. Padahal orang kan bisa pulang kampung bukan di hari lebaran.

    apa yang membedakan pulang pada lebaran dan bukan lebaran.

    paklik isnogud mungkin punya jawabanya …

  • kalengkrupuk berkata:

    Tidak setiap hari saya bisa ketemu sama Simbok saya di kampung, nDoro… Dan lebaran adalah sebuah momentum untuk ketemu dan sungkem ke beliau. Jadi, semoga lebaran kali ini saya bisa mudik deh… (dan dalam perjalanan mampir ke tukang pijet di kilometer sekian… heheheheh).

    ๐Ÿ™‚

  • gita berkata:

    loh ndoro ndak ke jogja jugah? saya tahun ini ikut ritual mudik ndoro…

  • dewi berkata:

    kenapa disebut mudik ndoro? apa itu singkatan dari me-udik (kembali udik)?? ๐Ÿ˜›

    saya lebih suka menyebutnya “pulang”, mengunjungi salah satu tempat dimana hati saya ada.

  • Anang berkata:

    sampai jumpa di surabaya ndoro.

  • Saya juga mudik… ke Jakarta… ๐Ÿ™‚

  • funkshit berkata:

    jogja podo waee.. sing pelajar pada pergi ke kampungnya masing2… yang pekerja dari jauh mudik ke jogja

  • galih berkata:

    udah gak sabar pingin mudik besok !

  • gaussac berkata:

    met liburan, met mudik ndoro

  • yati berkata:

    ga mudik, ndoro?

  • mr.bambang berkata:

    Besok malam berangkat mudik ke kampung halaman naik kereta dari stasiun senen. Laporan Selesai.

  • nananias berkata:

    .. ga ada joran di gambarnya. oiya ga mudik dink ๐Ÿ˜€

  • eckonop berkata:

    filosofi mudik = kembali fitri

  • Hedi berkata:

    Saya ga mudik, jadi harusnya bisa ketemu kapan aja ๐Ÿ˜›

  • Totoks berkata:

    Gimana dengan Ndoro? Mudik kemana? Ikut Sido Muncul apa Bintang Toedjoe, atau jangan2 sudah daftar Mudik Gratis bersama Holcin. Semakin rame aja ya Ndoro mudik gratis tahun ini. http://totoks.blogspot.com/2007/10/fenomena-mudik-bersama.html

  • Leo berkata:

    Maaf lahir bathin

  • Lidya berkata:

    jadi ndoro ga mudik?
    sama dong, lw jg ga mudik…
    rencana sih mo jalan2 keliling jkt n k bogor…
    maklum br 1 bln disini jadi mo cari tempat2 asyik buat dikunjungi, ada referensi?

    btw, u pesta blogger udah full book ya? hiks padhl pingin ikutan…

    met Lebaran semua…

  • kenny berkata:

    nggak mudik ndoro, jaga kandang bebek aja

  • caplangโ„ข berkata:

    enak dong ga mudik
    bisa merkosa jalanan jakarta ๐Ÿ˜€

  • Lidya berkata:

    halo ndoro…
    baru inget,,,
    kemarin LW sempet nge-link blog ndoro di blog ku… jd blog ndoro jadi link “famous” bareng wimar witoelar..
    tp lupa minta ijin ๐Ÿ˜ฆ
    mohon pngertiannya ndoro ya, soalnya lid baru aj bikin blog jadi blm paham betul “tata krama” di dunia blogger…

    hehe… mohon maap lair batin..
    SLmt Idul Fitri ^^

  • gembhuk berkata:

    mudik bagi wong jowo juga bermakna “ngumpulake balung balung pisah”. biasanya setelah setahun berpisah di rantau orang-orang akan kumpul lagi di kampungnya dalam satu keluarga saat mudik lebaran sekaligus bermaaf-maafan, artinya fenomena mudik ini pasti terjadi setiap tahun dengan tujuan mulia seperti itu. Akan tetapi ekses negatif yang sering terjadi malah saling pamer kekayaan (mobil,baju oleh2 dan lain-lain)

  • Paman Tyo berkata:

    Selamat Lebaran, Ki Sanak. Maafkan saya. Semoga panjenengan kaberkahan. Jangan lupa bantu kaum dhuafa kayak saya melalui dompet Braun Buffel (asli) panjenengan.

  • savic berkata:

    ndoro, seleranya boleh juga: kota-kota imajiner calvino. tapi buku itu gak laku tuh. orang indo selera bacanya parah. knapa gw tau? karena gw penerbitnya, hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mudik Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: