Spasi Pecas Ndahe

Februari 14, 2008 § 34 Komentar

Bahkan sebaris kalimat pun butuh spasi, jarak yang memisahkan antara satu kata dengan yang lain.

Spasi hanyalah penanda, sementara saja, agar tak membingungkan.

Toh hidup tak selalu berjalan di atas garis lurus tanpa putus. Ada kalanya sebuah rehat menyela, agar kita berjarak, dan memandang lebih jernih.

Begitu pula sebuah relasi. Ia juga butuh spasi. Sejenak.

Aku pasti kembali. Itu pasti. Kota kita cuma terpisah 50 menit kok, Jeung.

Sampai nanti … kita bikin pesta Valentine sendiri.

Lembaga Pecas Ndahe

Februari 14, 2008 § 29 Komentar

Kadang-kadang saya berpikir, perlukah kita punya lembaga seperti Lembaga Sensor Film? Perlukah sebenarnya sebuah karya — apapun itu bentuknya — dilihat dulu, lalu ditentukan boleh beredar atau tidak? Bagian mana yang boleh ditengok, dan yang mana tak boleh diintip orang?

Entah. Saya ndak tahu jawabannya. Saya bukan orang film. Bukan pemain atau pekerja film. Karena itu, ketika ada ribut-ribut soal sensor dan lembaga penyensor, saya lebih suka mendengarkan. Menyimak. Belajar.

Saya cuma blogger kelas kambing yang tak punya kambing seekor pun. Karena itu, saya lalu bertanya pada telaga yang teduh dan menyejukkan, siapa lagi kalau bukan, Paklik Isnogud.

Orangnya sedang melamun di mejanya ketika saya datang. Di depannya ada secangkir kopi yang hampir habis dan sebatang rokok lintingan yang masih menyala.

Setelah mengucapkan salam, saya pun langsung memberondong Paklik dengan aneka pertanyaan tentang film, sensor, dan lembaga sensor.

“Begini ya, Mas. Menurut hemat saya, yang belum tentu hemat buat sampean, Lembaga Sensor Film itu institusi yang sebenarnya tak punya hak untuk mengatakan bahwa dialah yang paling berkompeten memutuskan apa yang baik dilihat dan tak baik dilihat orang.”

“Loh kenapa, Paklik?” « Read the rest of this entry »

Pacaran Pecas Ndahe

Februari 13, 2008 § 49 Komentar

Mestinya saya blog walking, melakukan riset, demi memenuhi permintaan saudara Herman Laksono, blogger kondang dari Jogja itu. Dia meminta saya [tanpa membayar] menulis tentang Lembaga Sensor Film yang tengah jadi sorotan Masyarakat Film Indonesia itu.

Tapi, saya malah mendapatkan kutipan menarik dari Una, R Husna Mulya:

Pasangan yang berpacaran, jangan terburu-buru tergoda untuk terlibat intim secara seksual. Karena yang akan membuat suatu hubungan kuat, bukan keintiman secara seksual, tetapi ikatan emosional. Pacaran adalah waktu untuk membangun kenangan bersama, waktu untuk saling mengenal sedetil mungkin. Berusaha untuk mengetahui apa yang paling disukai, apa yang paling ditakuti, apa yang membuat sedih, apa yang paling berarti, apa cita-cita dan mimpi masa depan masing-masing, dan lain-lain. Dan bersabar untuk tidak melakukan hubungan seksual, sampai saatnya tiba. Sehingga indah dan membahagiakan.

Apakah sampean setuju pada pendapat dia?

Avolution Pecas Ndahe

Februari 13, 2008 § 29 Komentar

Rokok baru?

Lagi-lagi Paman Tyo yang membelikannya ketika saya menemani dia bekerja. Paman memang baik dan suka memberi meski duitnya tak meteran lagi.

Kalau sampean juga mau diberi, kontaklah dia. Siapa tahu stoknya masih ada. Ya kan, Paman?

Perlambang Pecas Ndahe

Februari 12, 2008 § 28 Komentar

Pohon. Langit. Dan burung dara. Ya, ini tentang perlambang. Kartu-kartu yang terbuka di atas meja.

Ah, tapi tentu saja tetap susah kuurai. Aku bukan penujum yang sanggup menafisir lambang dan simbol-simbol. Aku cuma perahu kecil yang tengah mencari bintang utara.

Tapi aku tahu. Ada baiknya kalau aku menuruti kata penafsir takdir itu saja: menjadi pohon. Supaya bisa merindangi. Meneduhkan … hatimu yang gelisah.

Sebab, kamu burung dara. Dan aku langit. Kita bertemu di ujung ranting. Titian yang rapuh dan getas.

Ah, inikah makna lambang-lambang itu? Hanya kamu yang tahu …

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Februari, 2008 at Ndoro Kakung.