Moral Pecas Ndahe

April 28, 2008 § 39 Komentar

Spanduk agitatif ini terpasang di jembatan penyeberangan di Jalan Daan Mogot — urat nadi yang menghubungkan Jakarta dengan kota satelitnya, Tangerang. Tiap hari puluhan ribu pengguna jalan melintas dan melihat spanduk itu.

moral dewi persik

Dengan warna kuning dan huruf besar, spanduk ini terlihat sangat mencolok, bahkan dari kejauhan. Meski agak sedikit terlipat di bagian atasnya, kita masih bisa dengan jelas membaca tulisan di spanduk itu: “Goyangan Dewi Persik Merusak Moral Bangsa.”

Saya ndak tahu persis sejak kapan spanduk itu dipasang. Tapi, kalau ndak salah spanduk itu masih satu serial dengan spanduk yang ini. Keduanya dibuat bersamaan dengan keluarnya pernyataan sikap para pejabat dan ulama Tangerang yang menolak Dewi Persik naik panggung di seluruh wilayah tersebut.

“Saya bukan mau membela Dewi Persik. Tapi, kenapa harus dia yang disebut ya, Mas?” tanya tetangga saya yang kebetulan juga melihat spanduk yang terpasang persis di depan kompleks perumahan kami itu.

Saya menggeleng tanda tak tahu seraya tersenyum. Tetangga saya lalu melanjutkan pertanyaannya. “Coba kalau kata ‘goyangan Dewi Persik’ itu diganti dengan kata ‘korupsi Al-Amin’ atau ‘tikus DPR’, berani nggak ya, Mas?”

Saya kaget. Ini pertanyaan politis dan agak nyerempet-nyerempet. Bisa berbahaya buat kesehatan. “Kalau Al-Amin kan belum terbukti bersalah, Pak. Dia belum tentu menerima suap. Lagi pula dia masih ditahan KPK, belum diadili,” saya mencoba menyanggahnya.

“Halah, Mas. Sampean ini mau ngeyel atau pura-pura ndak tahu? Dewi Persik kan juga belum tentu salah. Diadili saja belum pernah. Lah ini kok sudah ditulis-tulis begitu. Itu kan namanya character assassination. Itu namanya fitnah, Mas … ”

“Waduh, sampean pakai bahasa Inggris segala. Elok tenan, hehehe … ” saya mencoba bercanda untuk mengalihkan topik.

“Lah saya kan juga cuma ikut-ikut kata orang-orang di koran, Mas,” jawab tetangga saya tak kalah tangkas.

“Tapi, bener loh, Mas. Saya ini suka geli kalau lihat ada spanduk dengan kalimat seperti itu, seolah-olah moral bangsa kita bakal hancur lebur hanya gara-gara goyangan seseorang. Apa iya moral bangsa kita bakal rusak Mas, hanya karena goyang Dewi Persik?”

Saya tersenyum kecut meski tak sedang mengunyah kedondong muda. Pertanyaan tetangga, teman saya ngobrol di gardu ronda, itu benar-benar membuat saya terbuka hati dan pikiran.

Kalau dipikir-pikir sih, benar juga apa kata tetangga saya itu. Moral bangsa kita — kita??? elo kali, gue enggak — mungkin tak akan benar-benar remuk gara-gara melihat pantat yang bergoyang.

Goyangan bokong seorang penyanyi perempuan mungkin memang akan membuat syahwat lelaki menderu kencang. Tubuh Dewi Persik yang subur dan permai barangkali juga bisa bikin mata pria-pria seperti hendak meloncat keluar. Tapi apakah moral mereka juga akan goyah?

Saya ndak tahu. Saya kok merasa syahwat politik yang tegak mengacung justru lebih berbahaya buat moral bangsa. Mungkin saya salah dan terlalu berlebihan. Barangkali juga saya kurang pandai mengukur isi kepala orang — pembuat spanduk itu.

Menurut hemat saya, yang belum tentu hemat buat sampean, moral bangsa ini secara perlahan tapi pasti justru sedang dikoyak-koyak oleh aneka masalah yang sudah berakar urat seperti korupsi, kemiskinan, kebodohan, kezaliman, dan seterusnya itu. Bukan oleh goyangan.

Ah, entahlah. Saya ndak tahu …

“Halah, sampean ini mau berpendapat saja kok ragu-ragu sih, Mas. Sampean sudah mirip dengan Pak itu, siapa itu namanya …”

“Hush, sudah jangan diteruskan, Pak. Bisa gawat urusannya.”

Tetangga saya ngakak …

Iklan

§ 39 Responses to Moral Pecas Ndahe

  • Gage Batubara berkata:

    Al-Amin dan Dewi persik? Pembanding yang sempurna! Thanks Lae!

  • Totok Sugianto berkata:

    Tetangga sampeyan kok ya pikirannya sudah jauh kedepan ya Ndoro, tidak silau akan goyangan gergaji ataupun goyangan yang lain. memang seharusnya masalah2 korupsi seharusnya juga dibuat spanduk yg besar. misal si pejabat anu dicekal untuk masuk daerah tertentu.. nah itu kan lebih bermoral hehehe…

  • nothing berkata:

    ini kata iwan fals, *manusia setengah dewa*
    [masalah moral masalah ahklak, biar kami cari sendiri. urus saja moralmu urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau]

  • Didi Wahyudi berkata:

    Bener hemat sampeyan ndoro. Kalo setiap masalah di Indonesia ini dibikin spanduk dan dipasang di jalan-jalan, semua jalan yang terbentang dari sabang sampai merauke mungkin ngga bakalan cukup.

    Apalagi kalau dibebaskan memasangnya dan tidak ada ijin-ijinan, seperti kita yang bebas bikin blog dengan biaya sangat murah dan bahkan gratis.

    Kalau ada blogspot, kapan ada streetspot ya…

    Trus kalau sudah ada, sampeyan mau pasang spanduk apa ndoro ?

  • Aris berkata:

    wah tetangga sampeyan gaya bicaranya kayak Paklik Isnogud 🙂

  • poetra berkata:

    Saya ndak mau ikut komen ah. Saya emang ndak suka ama Dewi Persik –beberapa waktu lalu, karena dia menantang semua orang yang mencekal dia– dengan sikap sombongnya. Tapi IMHO itu ah.

    Saya kok sekarang jadi takut mengeluarkan pendapat ya, haha. Udahlah ndoro, ndak usah diterusin lagi..

  • silly berkata:

    Boleh jujur gak???… Saya eneg melihat goyangannya yang sampe harus merendahkan dirinya meliuk2 di LANTAI cuma seharga 5 juta/lagu… (CUMA SEGITUKAH HARGANYA???, kesian ajah kalo menurut saya).

    Untuk menyenangkan hati penggemar, saya pikir tidak dengan meliuk2 dilantai yg kotor dan mempertontonkan seluruh “PERLENGKAPAN LENONG”-nya pada publik. Ada anggota2 tubuh yg tetap harus kita hormati “ketertutupannya” bukan? 😀

    Tapi bahwa ini MERUSAK MORAL BANGAS??? Masyaolohhhh, plisss deh, Mosok MORAL BANGSA KITA hanya dinilai SEHARGA TUBUHNYA dewi persik, yang juga cuma dia hargain sendiri seharga 5juta/lagu???

  • leks berkata:

    saya tahu, Ndoro!!
    rakyat terlalu capek dengan cerita politik ngeselin itu, .. dan butuh penyegar hiburan syahwat ala Dewi Persik..
    kombinasi sempurna…..

  • kw berkata:

    mereka itu gak ada kerjaan ndoro.
    emangnya dia paling paham ttg moral bangsa?
    duh….

  • Anang berkata:

    Dewi memang bahenol.. *lhoo..

  • dadan berkata:

    kalo kolega dan lobbinya dewi persik sekelas lobbi dan kolega al-amin dan dpr tentunya ceritanya akan berbeda Oom.

    Makanya, daripada ribut sama kolega sendiri, mending sikat yang kecil-kecil dulu….

    wakakakaka….

  • isnan chodri berkata:

    dewi persik menggoyang al-amin? waduh gosip baru ini

  • ika berkata:

    ah saya jengah sama pemberitaan yang sukanya menghakimi itu,,masih buruk korupsi lah ketimbang umbar syahwat,,payah..negara payah,,,

  • Arief berkata:

    wealah ndoro… masak iya sih moral BANGSA — BANGSA gitu loh yang gedenya sak arat-arat ini — rusak hanya karena goyang…

    lha wong masalah yang lebih gede, lebih kritis, lebih urgent, dan lebih kompleks, dan yang lebih menyengsarakan rakyat aja banyak kok malah mikirin “bemper” belakang orang…

    seperti Jarwo Kuat bilang, “aya aya wae”…

    BTW, salam kenal ndoro.

  • Baja berkata:

    Salam kenal Ndoro..
    Saya sudah sering ngunjungin blog Ndoro, tapi baru kali ini berani post komentar.
    Kalau menurut hemat rakyat jelata seperti saya, segelintir orang dari bangsa ini benar-benar orang paling munafik di dunia.
    Jelas-jelas (hampir semua) dari mereka yang duduk di pemerintahan dan legislatif itu yang sudah tidak bermoral, eeeh malah bawa-bawa nama ‘bangsa’ terkait goyangnya Dewi Persik.
    Sebelum ngurus Dewi Persik, mending benahin moral sendiri, dalam arti tidak korupsi, tidak memiskinkan rakyat, tidak jual beli undang-undang, tidak jual beli perijinan, tidak jual beli hukum, dan segudang hal-hal bermoral lain yang harus diberantas.

    Terakhir, teruskan menulis ya Ndoro, saya masih tahap belajar nih, mudah-mudahan sedikit-demi sedikit bisa menyerap ilmu dari Ndoro.

  • Mas Kopdang berkata:

    Ragu berpendapat ..?
    ah pasti yang dimaksud adalah Mas Bambang itu..

  • mariskova berkata:

    Ndoro, passwordnya jangan pake ngitung2 dong. Yg disini rada bloon sama matematika 😀

    Btw, hati2 kalo ngobrol pas ronda. Ntar gara2 Ndoro ngobrolnya terlalu politis macem itu, program ronda se Indonesia dilarang. Kan gawat!
    Tp, saya kok masih sangsi kalo Ndoro mau ngikut ronda… hehehehe

  • munyuk pemalu berkata:

    sibuk koar2 ngurusin moral orang, moral pejabatnya dah bener belum? ngeselin ya…seolah dia udah lebih baik dibanding orang lain

    mo nulis juga ah. pagi2 dah emosi baca koran. soal moral diurusin, perut rakyatnya keroncongan

  • kiMi berkata:

    Saya pribadi sih tidak suka dengan Dewi Persik. Dan kalau dia dicekal ya bagus2 aja. Biar mampos! Biar tau rasa dia! Halah. *sirik mode ON*

  • rama berkata:

    yah.. biar kesannya mereka mengaspirasikan suara “rakyat” gitu.

  • Donny Verdian berkata:

    Lha piye Ndoro? Mereka kan lebih gampang reaktif tentang sesuatu yang sifatnya “dapat dirasakan langsung” yaitu birahi ketimbang sesuatu yang rumit (atau dirumitkan) seperti kasus korupsi misalnya.

    Lha piye nek para pejabat itu juga bikin spanduk tapi bukan soal dewi persik melainkan soal korupsi dsb.

    Biar adil 🙂

  • andrias ekoyuono berkata:

    Saya malah luar biasa resah dengan sikap DPR yang menolak digeledah KPK dengan sejuta alasan yang dibuat-buat, padahal MA aja mau digeledah, bahh sepet aku …..

  • bambam berkata:

    Hemat BBM wae,harganya mw naek….zzzz
    Kuwi tetanggane ndoro adine paklik isnogud ya..???koq persis bener ngomongnya..(tp seng iki rada lugu)..zzzz

  • yusdi berkata:

    mbak-seksi-yg-sok-seksi itu udah ditegur koq masih aja ngeyel ya? bung Roma kemana sih? kl ga bung Roma, belum takut dia. 😀

  • satria berkata:

    Pertanyaannya:
    Sehebat itu kah dewi persik sampai mampu menghancurkan moral bangsa ini hanya lewat goyangan atu sebegitu rapuh kah moral bangsa ini, sampai-sampai bisa hancur hanya karna goyangan permpuan?

  • daustralala berkata:

    Haha, tubuh kok permai.

  • yus berkata:

    yang banyak aja bikin spanduk kayak gitu..syaratnya order sama saya.. 😀

  • sintaro berkata:

    ndoro, spanduk kuning itu apa juga lahir dari kemiskinan dan kebodohan…???

  • Iwan Awaludin berkata:

    Wah, yang ngga bisa bikin spanduk marah nih. He he he he.

  • S a k t i berkata:

    katanya ada 3 perkara yang dapat mejatuhkan manusia (laki-laki kali yah maksudnya 😀 ):
    1. harta
    2. tahta
    3. wanita

  • stey berkata:

    Duuhh..sampe dibikin spanduk gitu?baru tau saya..

  • bama berkata:

    yg masang spanduk adalah pesaing dewi persik..

  • EsTehTawar™ berkata:

    Klasik. Meributkan hal2 yang tidak perlu diributkan. Kok ya sempat2 nya bikin spanduk begituan. 🙂

    Kapan Bangsa kita bisa maju ya kalo kayak gini. Berharap tanpa henti 😦

  • annots berkata:

    Gergajinya dewi persik sudah ngga menggigit, jadi waktu dipake malah ngrusak yang di gergaji -halah-

  • kishandono berkata:

    Menurut boros saya, kalau spanduk itu tidak membayar pajak reklame lebih baik diturunkan saja. Apa perlu diturunkan satpol PP satu tronton?

  • zeenqu berkata:

    Yang bikin spaduk kira-kira pake uangnya sapa ya?
    Ck..ck..ck…seandainya Dewi Persik bisa lebih rendah hati…. mungkin rakyat indonesia banyak yang ngasih amplop eh..salah simpati bukan iklan lho)…

  • Abihaha berkata:

    Kalo disambung dengan spanduk pada posisi bawah gambar, mungkin goyangan Dewi Persik juga memancing Flu ‘Burung’.

  • iqranegara berkata:

    “sedang dikoyak-koyak oleh aneka masalah yang sudah berakar urat seperti korupsi, kemiskinan, kebodohan, kezaliman, dan seterusnya itu…”

    masak Ndoro gak masukin masalah esek2? di tiap daerah hampir tiap hari ada kejahatan seks. itu juga udah “berakar urat”, “mendarah daging” malah

  • semoga pak bupati ato walikota ituh mau juga pasang banner di blog saya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Moral Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: