Esek-esek Pecas Ndahe
April 10, 2008 § 51 Komentar
Berita di koran yang ringkas dan cergas pagi ini.
Adalah Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang mengeluarkan statistik itu. “Ini tentu memalukan kita semua, karena mayoritas penduduk bangsa ini beragama Islam,” katanya.
Meutia juga mengatakan bahwa mayoritas pengakses situs esek-esek itu berusia antara 15-17 tahun. “Usia anak termuda pengakses situs itu berusia 11 tahun,” ujar Meutia.
Bukan soal malu atau tidak, Bu. Saya cuma penasaran saja. Bagaimana mungkin anak-anak dan remaja membuka situs begituan? Lah orang tua mereka pada ke mana? Bukankah para bijak bestari dan pendidik negeri ini sudah wanti-wanti agar para orang tua selalu mendampingi anak-anak mereka ketika membuka Internet?
Perlukah dibuat aturan atau undang-undang yang memberi sanksi kepada orang tua yang tak mendampingi anak-anak ketika berselancar di Internet?
Al Amin Pecas Ndahe
April 9, 2008 § 41 Komentar
Siapakah sesungguhnya orang-orang yang duduk di Senayan itu? Wakil rakyat? Wakil partai politik? Pengontrol pemerintah atau gerombolan tikus lapar?
Saya ndak tahu. Yang jelas, penangkapan Al Amin, anggota DPR dan suami pedangdut Kristina, sekali lagi memperlihatkan kian buramnya wajah orang-orang pilihan rakyat itu.
Padahal “Al Amin” itu, kalau saya ndak salah, artinya “yang terpercaya”. Apakah dia juga bisa dipercaya?
Saya ndak tahu. Yang jelas, suap, sogok, semir, servis adalah praktek tercela yang celakanya menghinggapi beberapa wakil rakyat kita. Gosip dan rumor mengabarkan tindakan yang digolongkan sebagai korupsi itu bahkan mewarnai hari-hari mereka — dan membuat kita prihatin.
Saya ingat, Paklik Isnogud juga pernah dengan masygul bercerita bahwa daya rusak korupsi yang terbesar justru memang terjadi pada saat suram seperti sekarang: kita tak tahu lagi di mana yang salah dan bagaimana mengatasinya.
“Korupsi ialah kanker yang akhirnya mengeremus harapan dan kepercayaan kita, Mas,” kata Paklik. “Ia meludahi kemungkinan bahwa di sekitar masih ada orang yang bersih.
Pada tingkat yang paling destruktif itulah korupsi membawa semacam pemerataan: semua orang dianggap cuma cari untung sendiri-sendiri.”
Saya masih ingat, setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya itu, guntur menggelegar. Hujan turun deras. Langit menggelap. Dan malam semakin kelam …
Blokade Pecas Ndahe
April 9, 2008 § 44 Komentar
Entah karena komunitas IT sudah bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informasi M. Nuh Senin malam lalu, atau karena sebab lain, saya sudah bisa mengakses kembali situs Youtube dan Multiply melalui jaringan XL mulai tadi malam.
Dua situs itu, juga beberapa situs lain seperti Rapidshare dan MySpace, terblokade sejak Sabtu kelabu pekan lalu setelah Pak Nuh meminta semua anggota APJII dengan segala daya dan upaya membendung film Fitna di mana pun dia berada.
Saya menduga blokade dibuka karena pada pertemuan Senin malam itu ada salah satu petinggi XL yang ikut hadir.
Pada pertemuan itu, Pak Nuh menjelaskan bahwa pemerintah tak berniat menutup situs seperti Youtube. Sasaran pemerintah hanyalah film Fitna. Bahasa tubuhnya menyiratkan bahwa ia tak menduga akibat dari permintaan itu ternyata berekor panjang.
Ketika beberapa peserta pertemuan mengatakan niat itu ternyata memakan korban yang tak perlu, ibarat membakar lumbung hanya untuk mengejar seekor tikus, Pak Nuh berjanji akan membicarakan masalah itu dengan anggota APJII.
Terus terang saya tak tahu apakah pertemuan Pak Nuh dan APJII sudah terjadi atau belum. Yang jelas, untuk sementara ini, akses Internet lewat XL sudah agak pulih kembali.
Sayang, akses melalui TELKOMNet Instan di rumah saya ke Youtube, Multiply, MySpace, dan Rapidshare masih belum bisa. Saya ndak tahu apa sebabnya.
Saya juga tak tahu apakah provider lain juga masih memblokade atau justru sudah membuka akses. Silakan kawan-kawan memberi laporan pandangan mata …
Button Pecas Ndahe
April 8, 2008 § 94 Komentar
Seorang hamba Tuhan mengirimkan button ini. Dia mengatakan maha karya ngeselin ini dibuat, dan kalau bisa disebarkan kepada teman-teman seprofesi saya dan para blogger yang berminat, agar tak terjadi kesalahan dalam mengutip pernyataan seseorang.

Monggo, Ki Sanak. Sampean boleh ikut memakai dan menyebarkan button itu. Tapi, saya ndak ikut tanggung jawab kalau sampean lalu mendapatkan SMS bernuansa ancaman dari yang tokoh yang sering mengirim SMS itu, hehehehe ….
Family Pecas Ndahe
April 7, 2008 § 84 Komentar
Malam ini, para komunitas blogger akhirnya bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh, di lantai 7 kantornya. Saya hanya ingin melaporkan secara singkat bagaimana pandangan Pak Nuh terhadap blog dan blogger.
Komentar itu keluar setelah ada yang bertanya tentang pendapat dan sikap Pak Nuh terhadap adanya seseorang yang menjelek-jelekkan blog dan blogger dan membuat geger ranah blog.
Beginilah jawaban Pak Nuh:
“Saya kira komunitas blogger itu tak perlu distabilo. Sama sekali ndak ada niat kami untuk memusuhi. Kami justru ingin mendorong komunitas blogger sebagai pendorong dinamika baru, pencerahan masyarakat.
Kalau dirunut perjalanannya, di mana saya ikut terlibat, seperti yang pernah saya sampaikan pada Pesta Blogger 2007, saya bahkan mendorong blogger itu sebagai komunitas baru untuk menyebarkan fungsi pendidikan, pemberdayaan, dan memberi fungsi pencerahan masyarakat. Semua itu dikemas dalam bingkai membangun bangsa. Oleh sebab itu blogger itu part of our family.
“Ndak mungkin bapak menyembelih anaknya sendiri. Kalau ada kawan-kawan atau orang yang mengatakan bahwa blogger is our common enemy, ya harus dijawil. Saya kira nanti tugas kami yang akan menyampaikan bahwa ndak ada yg namanya musuh itu.
Kita justru membangun komunitas blogger ini bersama-sama.”
Begitulah Ki Sanak, pandangan dan sikap Pak Nuh sebagai wakil pemerintah, yang resmi dan tak memakai embel-embel “pakar”, terhadap kita semua, para blogger.
>> Baca juga … :
– Laporan lengkap Romi Satrio Wahono
– Mengunduh rekaman pertemuan di blog Pitra.
– MoM in English version di blog Koencoro.
– Cuplikan video berita di SCTV.
