Deja Vu Pecas Ndahe

Mei 29, 2008 § 48 Komentar

Iwan Fals menendangkan lagu Galang Rambu Anarki (Opini) dengan pedih, 26 tahun silam. Hari-hari ini, syair lagu itu seperti sebuah deja vu

Galang Rambu Anarki anakku
Lahir awal Januari
Menjelang pemilu

Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
Menyambutmu

Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu
Ditandai BBM membumbung tinggi

Maafkan kedua orang tuamu kalau
(Tak mampu beli susu)
BBM naik tinggi (susu tak terbeli)
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi …

Lihat dan perhatikan. Setelah lebih dari seperempat abad, ternyata masalah kita masih sama: orang pintar tarik subsidi, harga BBM naik, susu tak terbeli, dan bayi-bayi kurang gizi.

Hari-hari ini sejarah berulang. Dan, sebetulnya kita tak pernah ke mana-mana. Jalan di tempat, bahkan sejak 26 tahun yang lalu.

Jadi untuk apa kita bikin pemilu, gonta-ganti presiden, dan pemerintahan, jika masalah yang sama tak pernah diselesaikan?

Buat apa kita capek-capek buang waktu, tenaga, dan dana kampanye, pasang iklan, pamer, tebar pesona, kalau kita ternyata tetap saja tak mampu menyelesaikan pekerjaan rumah yang sama?

Untuk apa? Kemubaziran? Ikhtiar? Atau ketololan?

Sebagai ilustrasi betapa sejarah, reaksi, dan suasana 26 tahun yang lalu ternyata mirip dengan yang terjadi hari-hari ini, saya ambil sebuah berita yang terbit pada Januari 1982 dari lemari arsip di pabrik saya. Dari berita itu saya tahu bagaimana berita-berita di media massa sekarang pun seperti lagu lawas yang diputar ulang.

***

“Kali ini Benar-benar Pahit”

KENAIKAN HARGA BBM MULAI TGL 4 JAN 1982, RATA-RATA DI ATAS 60%, DAN LANGSUNG DISAMBUT DENGAN KENAIKAN HARGA BARANG-BARANG DAN TARIF ANGKUTAN. SUBSIDI MEMANG HARUS DIPERKETAT.

BERBAGAI jenis kendaraan bermotor lepas maghrib mendadak membuat antrean panjang di pompa bensin Jalan Kertajaya, Surabaya. Ketika sesaat kemudian sejumlah satuan ABRI bersenjata lengkap tiba di situ, Sutrisno, karyawan pompa bensin di tempat itu, dengan cepat menangkap isyarat tersebut: Bensin pasti bakal naik.

Dugaan Sutrisno benar. Tanggal 3 Januari malam itu sesudah acara Dunia Dalam Berita, Menteri Pertambangan dan Energi Prof. Subroto tampil di layar TVRI mengumumkan kenaikan berbagai jenis Bahan Bakar Minyak.

Toh kenaikan premium di Indonesia yang Rp 240 masih di bawah harga premium di negara penghasil minyak Malaysia yang Rp 285 per liter. Dengan Wajah serius, Menteri Subroto yang biasanya suka tertawa itu mencoba menjelaskan alasan kebijaksanaan itu.

Menurut dia, jika harga BBM tidak dinaikkan maka subsidi pemerintah untuk BBM itu akan bertambah besar dalam tahun anggaran 1982/1983 mendatang.

Subsidi tersebut besarnya diperkirakan akan mencapai Rp 2,007 triliun sementara jumlah RAPBN 1982/1983 adalah Rp 15,6 triliun.

Jika jumlah subsidi BBM itu tidak dikurangi, Menteri Subroto mengkhawatirkan kemampuan pemerintah untuk membangun “akan sangat berkurang”. Karena itulah maka pemerintah memutuskan mengurangi subsidi tersebut secara besar-besaran dengan menaikkan harga jual BBM rata-rata di atas 60% dari harga sebelumnya. Dengan demikian maka subsidi BBM pada tahun anggaran mendatang hanya akan mencapai Rp 924 miliar, berkurang Rp 597 miliar dibandingkan APBN yang sedang berjalan.

Kendati terasa pahit, Dr. Boediono dari Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (dia sekarang Gubernur Bank Indonesia), menilai keputusan pemerintah itu sangat tepat. Menurut dia sudah setahun lebih harga BBM beku, selang harga berbagai komoditi sudah melonjak.

“Hanya saya pikir kenaikan itu baru terjadi sesudah (Mei) Pemilu,” kata Boediono. Pendeknya “persentase kenaikan BBM masih lebih kecil jika dilihat dari keseluruhan struktur biaya lokal.”

Tapi mengapa kenaikan BBM itu harus Januari? Mengapa tidak dimulai April menunggu habisnya tahun anggaran 1981/1982?

Keputusan pemerintah menaikkan BBM mulai Januari tampaknya berkaitan dengan hasil keputusan sidang OPEC 29 Oktober 1981 di Jenewa … (dipotong)

Dr. Boediono juga optimistis kebijaksanaan pemerintah itu tidak akan mengguncangkan harga komoditi nonminyak “Keguncangan baru terjadi jika ada yang mendramatisasi,” katanya.

Anggapan tersebut ternyata tidak seluruhnya benar. Harga berbagai jenis beras di Medan, misalnya, langsung naik antara Rp 15 – 20 per kg. Sayur-sayuran juga naik sekitar Rp 15 per ikat.

Harga minyak goreng di Pasar Jatinegara, Jakarta, juga naik. Merk Belco, misalnya, naik dari Rp 9.600 menjadi Rp 10 ribu per kaleng (isi 17 kg). “Harga baru ini ditentukan oleh pabriknya,” kata seorang karyawan. di Toko Mega Jaya, Jatinegara.

Di Pasar Jatinegara itu pula harga sayur mayur naik mengejutkan. Bawang merah, misalnya, mendadak mencuat dari Rp 600 menjadi Rp 1000 per kg.

Secara sporadis, berbagai jenis angkutan umum juga sudah mendongkrak tarif. Perusahaan “4848” (Bandung), misalnya, langsung menaikkan tarif angkutan taksi Jakarta-Bandung (dan sebaliknya) dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per penumpang.

Mobil Holden Kingswood yang dipakainya (mampu memuat lima penumpang sekali angkut) kelihatan tetap ramai keluar masuk di pangkalan perusahaan itu yang terletak di Jalan Prapatan dan Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Dari Jakarta, “4848” setiap hari rata-rata memberangkatkan 600 orang ke Bandung. Walaupun tarifnya naik “semua mobil kami terisi penuh,” kata Irawan Sarpingi, pemimpin perusahaan itu.

Presiden Taxi Jakarta sampai Selasa pekan ini belum menaik kan tarifnya. Angka di argometer masih menunjukkan 250 di saat taksi mulai bergerak. Setoran, tentu saja, juga tetap antara Rp 9.000 – Rp 14.000. Tapi para sopir sebagai penyewa yang harus membeli bahan bakar sendiri sudah mengeluh karena harus mengeluarkan uang lebih banyak. Akibatnya, tentu, keuntungan yang mereka peroleh makin sedikit.

Apa boleh buat. Karena Organda (Organisasi Angkutan Darat) Jakarta belum mengeluarkan ketetapan, Sahala Simanjuntak, Komisaris Utama PT President Taxi, tak bisa berbuat apa-apa.

Berbagai perusahaan bis antarkota yang merasa terikat pada Organda, juga tetap memasang tarif lama. Perusahaan bis Continental, misalnya, masih memasang harga Rp 8.500 per penumpang untuk jarak Jakarta-Surabaya. Juga tarif bis dari Medan ke Tebing Tinggi masih Rp 400 per penumpang. “Kami masih menunggu perubahan tarif angkutan dari pemerintah,” kata seorang kondektur bis Sumber Jaya di Terminal Teladan, Medan …

***

Ah, deja vu

Iklan

§ 48 Responses to Deja Vu Pecas Ndahe

  • Epat berkata:

    mungkin sebaiknya pemilu 2009 nanti bukan untuk memilih presiden, tapi untuk memilih rakyat saja. jadi rakyatnya dipilih-pilih, yang jelek dibuang kekekeke

  • munyuk anyaran berkata:

    bukan deja vu, memang modelnya orang Ngastinesia itu ya gini ndor… jadi kita bukan punya pengalaman 62 taun merdeka..

    kita cuman punya pengalaman merdeka 1 taun yang diulang2 selama 62 kali..
    ( sori kalo klise… 😛 )

  • gema berkata:

    kasian indonesia .. kapan ya pemerintahan sadar bahwa kebijakan yg mereka putuskan sama sekali ngga’ bijak..

    awal yg buruk untuk memperkuat slogan ..

    “indonesia bisa!.. (ancur2an)”

  • merahitam berkata:

    Saya jadi ingat percakapan saya lewat telepon dengan lelaki tua yang menetap di kaki Gunung Ungaran, beberapa hari yang lalu. Suara lelaki tua yang saya sayangi itu bergetar, saat beliau bilang: “Disini tak seperti di Jakarta. Jakarta masih menawarkan rejeki buat penduduknya. Tapi disini? BBM belum naik saja sudah banyak pabrik yang mem-PHK karyawannya. Apalagi nanti? Terus orang-orang yang di PHK itu mau kerja apa? Tak ada apa-apa disini. Pilihan satu-satunya hanya berjualan. Tapi kalau semua orang berjualan, yang beli siapa?”

    Sumpah ndoro. Saya cuma bisa terdiam mendengar lelaki tua yang saya kasihi sepenuh hati saya itu mengeluh. Saya gak tahu mesti ngomong apa.

    Apa ini saatnya kita serentak mulai mengulur tali kesempatan? 1 orang membantu 1 orang lain dan begitu seterusnya, sampai tali itu menjadi jaring yang menyentuh semua orang? Mungkinkah ndoro?

  • ngodod berkata:

    Ndoro…, uelok tenan… masih nyimpen koran taon 1982.
    soal kenaikan BBM, kok saya kehabisan kata. dah gak percaya sama sekali dengan politisi.

  • cK berkata:

    ah…postingan ini menandakan ndoro itu dari angkatan berapa… 😕

    *saya belum lahir taun 1982*

  • hanny berkata:

    mungkin benar apa kata Ibu Poppy Ismalina dari UGM, bahwa masyarakat Indonesia ini punya mekanisme kebertahanan yang sangat tinggi. Mereka mampu menyiasati segala tekanan hidup dan himpitan ekonomi sehingga tetap bisa survive hingga sekarang ini… potongan berita dari tahun ’82 itu malah memperjelas kenyataan yang diungkapkan Ibu Poppy.

    dan saya setuju dengan apa yang dikatakan merahitam. mungkin sudah saatnya kita bertanya; apa yang bisa kita lakukan untuk membantu melalui tindakan nyata–ya, andai 1 orang bersedia membantu 1 orang saja, dan seterusnya, seperti dalam kisah Pay It Forward.

    ya, saya ingin percaya bahwa kita akhirnya akan dapat menyentuh semua, merahitam. mungkin saya terlalu naif atau terlalu utopis. tapi, biarlah…

    😀

  • silly berkata:

    Again???…

    Oh My God… I have had enough about this. Udah makin merasa tak berdaya, dan tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya seperti berhadapan dengan segumpalan benang kussut yg ndak mungkin lagi dirapihin. well,… mungkin masih bisa… tapi pasti sulit dan njelimet… dan rasanya saya sendiri ndak punya kompetensi untuk merubah keadaan. Too weak, have no power to change the situation. Yg bisa saya lakukan sekarang hanya memulai dari diri sendiri, apa yg bisa saya lakukan, I did it best… sisanya I let God finished them, karena mengeluh juga hanya akan memperparah keadaan bukan???…

    Mengumpat pemerintah juga, gak guna, mereka ndak mungkin mendengar saya… (wong yg udah bekoar2 di depan gedung DPR aja mereka gak peduli).

    Hmmm… hanya bisa menghela nafas panjang… skeptis sama nasip anak2 negeri ini…

    So upset.. enough about this deja vu

  • mila berkata:

    saya tercenung waktu denger lagu ini diputer di i-radio kemarin. “galang kan seumuran denganku, berarti lagu ini lagu tahun 80-an, dan berarti kondisi waktu itu sama seperti sekarang. oh!” begitu yang terlintas di kepala. kok iso lho ya.. jan tenan indonesia iki..

  • Maznur berkata:

    Lha BBM itu kan kepanjangannya Bola Bali Mundhak kan ndoro, he he

  • kangtutur berkata:

    Aha, ada siaran tunda rupanya?
    *26 tahun lalu*

  • pema berkata:

    Indonesia…??? Sejarah selalu terulah..fyuiihhh….
    Koh Kwik dimana yach……???

  • detnot berkata:

    wealah, ternyata kita jln d t4 ya ndoro

  • kopdang berkata:

    Bukan, Tuan..
    Ini Bukan sekadar de Javu yang Tuan sampaikan..
    De Javu hanya ilusi..
    Ini ada dan pasti..
    negeri ini bukan jalan di tempat..
    tetapi mati lemas di tempat…

  • Iwan Awaludin berkata:

    Kenapa harus mencibir pemerintah? Bahkan banyak analis yang bilang, siapapun pemerintahnya pasti harus mengambil keputusan menaikkan harga BBM, termasuk jika anda yang jadi presiden.
    Lagi pula, Indonesia ngga perlu warga negara yang pesimis untuk membangun. Biar ajalah, yang pesimis-pesimis itu pada mati semua. Biar yang tinggal adalah orang-orang optimis, yang siap berbuat sesuatu untuk menjayakan Indonesia. Bukan orang yang kerjanya ngga, tapi ngomongnya banyak.

  • dina berkata:

    saya juga de javu soal banyaknya slogan Anti Amerika merebak pas pemilu lalu..
    Masalahnya duluu waktu Malari juga banyak slogan begituu cuma Anti Jepang!

  • suprie berkata:

    yah namanya endonesia … tapi kita harus optimis

  • pns gila berkata:

    Saya suka lagunya…

  • daus berkata:

    Negeri yang semakin demokratis ini jalan di tempat?

  • didats berkata:

    kabur ndoro, kabuur…
    kabur ke negara lain…

    ;))

  • david berkata:

    lho kok kayak bosnya si moncong putih nyanyiannya…, wihhhh koyoknya ni salah satu blger seleb yg akan ikut di PILKADA-kan …, selamat yaa ndoro

  • merahitam berkata:

    @ Hanny
    Rasanya memang terdengar seperti mimpi, tapi saya percaya, tidak mustahil untuk dilakukan. Puluhan tahun silam, saya yakin, menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat sendiri, hanya mimpi yang mengawang-awang. Tapi nyatanya impian itu mewujud. Tak ada hal yang tak mungkin.

  • ika berkata:

    seandainya saya punya pintu ajaib doraemon,saya pengen ke taun 1980 an itu,soalnya harga sembako murah gila,,,huehehehhehe..terus saya balik lagi ke masa sekarang dah jualan didepan rumah dengan harga separuhnya harga sekarang,,hueheheh untung besar saya..*sayang hanya khayalan,,,,huhuhuuh*

  • Adis berkata:

    Mengapa oposisi selalu merasa paling benar dan semakin merasa benar setelah membuka aib yang berkuasa?

  • iqranegara berkata:

    2 tahun setelah itu saya lahir (1984), berarti 2 tahun lagi saya juga punya anak ya Ndoro?

    dejavu

  • hanny berkata:

    @merahitam: ya, saya percaya bahwa kita yang harus memulai 😀

  • kw berkata:

    apakah artinya pemerintah itu tak pernah nemu ide yang lebih keren sama sekali selama 26 tahun?

    kasian sekali menjadi rakyat indonesia.

  • ika berkata:

    kalo menurut saya sendiri sih,bbm ndak perlu naek asal pemerintah serius memberantas korupsi dan suruh koruptor2 balikin duit rakyat, plus tunjangan anggota dpr diilangin, mereka harus rela hidup ga enak sama seperti rakyatnya. enak aja, rakyat yang suruh nanggung tapi pejabat2 gila itu sibuk minta naek tunjangan. belom lagi korupsi mereka yang gila2an itu. korupsi buat apa sih? apa buat mengkoleksi wanita simpanan? udah bau tanah ga tau diri pula. diotak saya, pejabat semuanya sama. tukang korup. tukang koleksi wanita simpanan. tukang tidur. tukang berkelit. tukang obral janji. NATO.

    harusnya pemerintahan sby jk lebih tegas untuk memberantas koruptor, kalo perlu koruptor dihukum seberat2nya dan bukannya cuman bayar denda sekian juta. Bupati semarang korupsi milyaran eh cuman didenda 130 juta dan penjara 2 taun, payah. oh i almost forget, mereka malah tadinya niatan menjadikan koruptor nomor satu negeri ini sebagai pahlawan khan? jadi kesimpulannya, memang ga ada yang bisa diharapkan dari pemerintah.

    kok rakyat miskin disamaain anak kecil sih..yang dikasi permen diem, ini dikasi BLT jangan2 dianggap cara untuk membungkam mulut rakyat miskin juga ;p

    Dengan ini saya nyatakan saya GOLPUT. pemilu taun 2004 adalah pertama dan terakhir saya nyoblos. pemerintah kita payah. they suck. that’s all.

  • Chic berkata:

    hmmmm.. lagu Iwan Fals itu menohok bener ya Ndoro? Anak saya yang baru mau akan lahir beberapa hari lagi ini juga lahir di masa di mana semua harga lagi pada melambung tinggi…

    aaah kasian…

    *ngarep gaji naek juga* 😛

  • taliguci berkata:

    Ngg..Anu ndoro.. Apa perlu, ngg.. ngg..
    *garuk-garuk kepala*

    Wes, Ndak jadi ndoro…

  • eucalyptus berkata:

    saya mendukung BBM NAIK!!!
    kalo perlu setinggi-tingginya..
    *hahahaaa..*

  • wawanwae berkata:

    mungkin puisi Deddy Wizwar tentang kebangkitan nasional pantas direnungkan di tengah kondisi serba sulit seperti sekarang ini.

    Bangkit itu Susah…
    Susah melihat orang lain susah
    Senang melihat orang lain senang

    Bangkit itu Takut…
    Takut untuk korupsi
    Takut untuk makan yang bukan haknya

    Bangkit itu Malu…
    Malu menjadi benalu
    Malu karena minta melulu

    Bangkit itu Marah…
    Marah bila martabat bangsa dilecehkan

    Bangkit itu Mencuri…
    Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

    Bangkit itu Tidak ada…
    Tidak ada kata menyerah
    Tidak ada kata putus asa

    Bangkit itu aku…
    Aku untuk Indonesia-ku

  • daniel berkata:

    mungkin dengan adanya BLT bisa membungkam mulut rakyat, tapi belum bisa membungkam kelaparan mereka…

  • puputs berkata:

    240 rupiah, sekarang 6000 rupiah, serem bener perbedaanya

  • tanpoaran berkata:

    saya sih ga bisa 100 persen nyalahin pemerintah, mereka pasti punya alasan kuat untuk naikin BBM.
    saya yakin banget.
    coba pikir,popularitas SBY pasti sudah turun dengan kenaikan BBM ini.yang mana seharusnya dihindari kalo dia memikirkan peluangnya di pemilu. padahal kalo dia mau, kan bisa saja pemerintah minjem dana ke LN buat nutupin defisit APBN. jadi jangan cuma melihat dari satu sisi..

    yang saya tidak setuju adalah BLTnya..
    mungkin seharusnya pake program padat karya,kredit usaha
    atau program lain yang ada “usahanya”. jadi nggak mendidik orang jadi malas.

  • Julia berkata:

    ck-ck-ck.. tampaknya Ndoro niy serng sehati dg saya..
    kmrn itu wkt Ndoro nguping, saya juga nguping *hihi*
    eh dini hari td sy posting BBM, koq ya Ndoro posting BBM juga..

    tp ya ampuuun koq bahas tahun ’81..? buat apa di inget2 Ndoro, wkt itu kan pasti Ndoro juga belom setua ini *wakakakkk*
    saya siy lebih seneng bahas thn ’98, waktu dolar masih 2.500.. *wkt itu ada yg bilang 5thn ke depan kurs nya bisa dibikin segitu lg.. mana buktinya???*

    udahlah Ndoro, mending dukung aja BBM naik walo sampe ke langit. coz demo juga percuma, di negri ini yg turun cuma kancut! heee

  • PuhMan berkata:

    ndoro …. abis ngintip… komik … buka-buka berkas pabrik… tak tambahi ndoro…

    RUBAH (Iwan Fals)

    Jaman berubah perilaku tak berubah
    Orang berubah tingkah laku tak berubah
    Wajah berubah, kok menjadi lebih susah
    Manusia berubah, ber-ubah-ubah

    Ganti yang dicari, yang ada komedi
    Revolosi dinanti, yang datang ashari
    Lembaga berdiri berselimut koorupsi
    Wibawa menjadi alat melindungi diri

    Pendidikan adalah anak tiri yang kesepian
    Agama sebagai topeng yang menjijikkan
    Kemiskinan merajalela, yang kaya makin rakus saja
    Hukum dan kesehatan diperjual belikan

    Saksi yang tertusuk oleh kepentingan Ngawur
    Pemerintah keasyikan berpolitik Ngawur
    Partai politik sibuk menuhankan uang Ngawur
    Ada rakyat yang lapar, makan daun dan arang

    Televisi sibuk mencari iklan
    Sementara banyak yang tunggu giliran
    Rakyat dan sang jelata menatap dengan mata kosong
    Dimana aku? apa ditelan Tsunami?

  • si koetoe berkata:

    januari 82 itu kan, bulan & tahun aku lahir..?
    aku kan bukan anaknya bang iwan..?

    *mau narsis malu..*

  • mbakDos berkata:

    deja vu terulang melulu

  • sawung berkata:

    heheh bisa aja ndoro.
    itu namanya DR budiono disinggung-singgung.
    berarti nanti 26 tahun lagi nama siapa ya? tinggal pilih salah satu pakar yang dukung 😀

  • novee berkata:

    semalem tarip tol juga ikut2an naek tuh Ndoro..
    siapa ya yg masih punya nurani di negri ini hmmm…

  • Arief berkata:

    BBM … naik naik ajah… lha wong memang kecenderungan minyak dunia juga naik hampir 2 kali lipat pada waktu kenaikan BBM terakhir. Mestinya Premium sekarang 8000/lt Ndoro…

    Yang saya sayangkan itu ya mahasiswa itu lho… apa yang di fakultas ekonomi ndak pada belajar soal keuangan dan tetek bengeknya itu ya… apa efeknya kalo BBM tetap di harga segitu. Apa taun depan ndak bangkrut Negara ini!?? Lha ini malah bikin kisruh…

    Demo ya demo, tapi tuntutannya diganti doong, jangan turunkan BBM, Tapi gantung koruptor. Suruh Lapindo bertanggung jawab penuh. Berantas tradisi “administrasinya sekian…” mereka mereka itu kan yang ngabisin uang negara dan menyengsarakan rakyat. Awasi juga pengalihan subsidi yang katanya transparan. Kalau janggal, Laporin aja KPK. mumpung lagi sakti…

  • Retty berkata:

    Ndoro kira-kira tahun 2014 itu sudah boleh ada calon independen ga ya? Mau nggak jadi calon? Tapi jangan berubah loh ya…janji loh yang berubah kondisi rakyat, bukan kantong ndoro…

    Jangan ada korban narkoba, jangan ada korban stress, jangan ada korban KDRT, dll…(Daftarnya boleh deh saya kerja bakti tulisin)…bisa nggak ndoro? Saya mau siap-siap tim kampanye nih…tapi kira-kira Indonesia itu bisa survive sampai kesana nggak ya? Permisi akh ndoro, mau baca ramalan nasib dulu….

  • bakulsempak berkata:

    benar ndoro…lantas solusinya??

  • Donny Verdian berkata:

    Di bawah matahari yang sama, tidak pernah ada sesuatu yang betul-betul baru, Ndoro. Semua hanya berulang-ulang mengikuti siklus sendiri-sendiri…

  • dobelden berkata:

    iwan fals for president 😀

  • ning berkata:

    saya kok jadi kepikiran gini, Ndoro…

    Gimana kalo kita lakukan istighotsah akbar, disepanjang jl. thamrin dan Bundaran HI.

    dengan suara yang kenceng kita doa bersama supaya semua orang mendengar dan menyaksikan.
    kira2 begini doanya:

    Si ‘A’nu.. (sbt namanya)yang sudah makan uang rakyat semoga SAKIT PERUT gak brenti2 biar kemana2 bawa eeknya yang bau sampai MATI!

    SI ‘B’anu..(sbt namanya) yang buat kebijakan tapi nyengsarain rakyat semoga kena STROKE sampai ajal menjemputnya!

    SI’C’anu..(sbt namanya ) yang menjual aset pribumi ke orang asing semoga badanya REMUK KETIMPA GEDUNG karena Gempa!

    SI ‘D’anu..(sbt namanya) yang merenggut kebebasan Hidup orang utk merdeka semoga menjdi STRESS & GILA dan menghuni RSJ seumur hidupnya!

    SI’E’nu..(sbt namanya)yang memeras rakyat dengan upetinya semoga MAti diTABRAK KONTAINER dan hncur Otaknya dimakan binatang!

    dst…dst..dst

    pasti mereka ketakutan, tuch… SECARA doa orang banyak & teraniaya itukan MANJUR! dgn cttn. harus Kenceng & khusuk!!

    (btw, sadis banget gak sich???) *bingung mode on*
    habisnya drpd frustasi mendingan berdoa pd Tuhan YME, krn cuma itu salah satu yg bisa kita lakukan.

    *sambil bayangin, mrk terngiang2 dgn doa diatas*
    Hiiiiiiii….,,,,,

  • Dian berkata:

    @Arief:

    tolong donk kang dapat 8000/lt dari mana itung2ane?
    yang dari fkultas ekonomi biar tau yang jelas ya…

    kalau biasa sama +uang administrasi, uang hura2, uang trasport pejabat ,uang….

    alahhhh… pecas ndahe…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Deja Vu Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: