Pancasila Pecas Ndahe

Juni 2, 2008 § 36 Komentar

Ahad pagi kemarin mestinya waktu yang menyenangkan buat saya. Burung-burung bernyanyi riang. Matahari hangat melenakan. Rumput hijau segar. Udara wangi daun-daun. Angin sepoi-sepoi.

Hati saya nyaman dan relaks, seperti lagu yang didendangkan Commodores itu, Easy Like Sunday Morning.

Sayang, kenikmatan itu cuma sebentar. Begitu melihat televisi, Ahad menjadi tak mudah lagi seperti senandung Lionel Richie itu.

S’why I’m easy ….. easy like Sunday mornin’,
It’s why I’m easy ….. easy like Sunday mornin’ …

Jalan protokol Thamrin-Sudirman menjadi lautan merah. Kawasan Monas berdarah-darah. Dan, warga Serang lintang pukang mengejar sebuah extravaganza.

Di sela hiruk-pikuk di hari libur itu, samar-samar saya teringat, kemarin kita merayakan Hari Lahir Pancasila. Aha, siapa yang masih ingat kelima sila yang luhur itu?

Mungkin gelombang massa berpakaian warna merah yang pagi hari kemarin memadati kawasan Monas masih mengingatnya. Barangkali pemimpin rombongan yang naik mobil golf dan berteriak lantang di podium itu masih mengingat semua sila, lengkap dengan butir-butirnya.

Buktinya ia mampu mengamalkan sila persatuan Indonesia dengan menyindir sang seteru yang telah menggusur kursinya.

Oh iya, barangkali Sinterklas yang naik pesawat di langit Serang itu juga masih ingat. Karena itulah ia kemarin mengamalkan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan menebar duit Rp 100 juta dari udara.

Tapi, sila mana yang masih diingat oleh para pemegang kunci nirwana itu ketika mereka menggebah anak-anak dan ibu-ibu di kaki monumen emas? Sila berapa yang mereka pakai untuk menggebuk sesama? Apakah itu pengamalan sila ketuhanan yang maha esa? Kemanusiaan yang adil dan beradab?

Saya ndak tahu. Di gudang ingatan saya hanya ada cerita Paklik Isnogud tentang Eli Sagan yang menjelaskan kenapa sebuah kesewenang-wenangan bisa terjadi.

“Begini, Mas,” kata Paklik memulai kisahnya. “Sagan berbicara tentang masyarakat-masyarakat majemuk. Ia berbicara tentang masyarakat yang tak lagi bisa disebut primiif, yang tak menggunakan lagi sistem pertalian keluarga dalam mengatur kebersamaan: suatu masyarakat yang sudah punya birokrasi tersendiri yang mulai lengkap.

Masyarakat semacam ini, dalam konsep Sagan, adalah masyarakat peralihan. Sifatnya sementara: sebuah jembatan besar antara masyarakat primitif di hutan-hutan dan masyarakat arkais seperti dalam kerajaan Mesir kuno.

Keadaan, karena itu belum stabil, dan yang meruyak adalah pelbagai bentuk kecemasan. Orang cemas akan masa silam yang primitif, yang menenggelamkan individualitas dalam kungkungan keluarga, tapi orang juga cemas untuk mulai berdiri sendiri.

Ketakutan itulah yang menyebabkan sebuah masyarakat, sampai hari ini, memerlukan korban. Ketakutan menyebabkan agresi. Dengan melihat orang lain runtuh, sebuah kelompok dalam masyarakat agaknya akan merasa sedikit lebih enak.

Pada saat orang-orang yang dianggap “kuat” di sebuah masyarakat merasa cemas akan daya kemampuan mereka sendiri, pihak yang tak berdaya pun diinjak: Hitler mengirim Yahudi ke ruang gas; orang kulit putih menyisihkan orang hitam dari hidup yang patut.

“Jika kehidupan masyarakat selalu merupakan peralihan, jika perubahan selalu terjadi, adakah itu berarti kecemasan akan selalu bersama kita, Paklik? Bagaimana pula kesewenang-wenangan dan sikap aniaya yang terbit dari dalamnya?” tanya saya penasaran.

Paklik membuang pandangan ke langit yang mengelam. Parasnya keruh. Matanya mencari sisa benderang bintang dan rembulan: cara elegan untuk mengelak pertanyaan yang enggan dijawabnya.

Iklan

§ 36 Responses to Pancasila Pecas Ndahe

  • Dony berkata:

    Saya juga heran, kenapa ya hari minggu kemarin itu justru banyak kejadian-kejadian aneh, ada oposan yang sibuk mengumpulkan massa, ada yang sibuk memukuli orang lain, ada yang sibuk buang duit 100juta. Ternyata hari minggu bukan lagi hari santai…

  • Silly berkata:

    ahhh, iya… ndak sengaja saya juga liaht beritanya diseputar 6 tadi sore… duhh, ada apa sich mereka… Apasih maunya mereka?, ndak ngerti dech… Kelompok yg menamakan diri pembela aliansi tertentu ini dengan membabi buta menghajar manusia lain, I mean, haduhhh… manusia lohhh… bukan menghalau binatang liar…

    Yang dipertontonkan ditelevisi tadi sore sungguh sangat tidak layak untuk ditonton oleh bangsa yang mengaku beradab seperti kita ini. Menghajar kepala bapak tua yg udah beruban pake TOA, pake kayu/tongkat, tendangan… pukulan… tonjokan… masyaolohhh… bawa2 bendera salah satu agama lagi… duhhh… kemana hati nuraninya… 😦

    hmmm… cuma bisa bilang, semoga bangsa ini masih dikasihani oleh YANG EMPUNYA KEHIDUPAN INI… (Oh God, don’t you see we had had enough.. please give us the way out for this nation)

    Sorry, suka kebawa2 perasaan soalnya kalo liat yg begini2. Selamat malam Indonesia… semoga tidurmu nyenyak malam ini…

    Silly

  • Anang berkata:

    memang negri yang anomali, aneh, nyata

  • kopdang berkata:

    “Takut apada ketakutan itu sendiri..”
    entah kata siapa..saya cuma meminjam perkataan Gs Dur tadi pagi, di Perspektif WIMAR..

  • dilla berkata:

    lebih baik hidup di hutan saja, ndak ada bedanya sama di kota..malah bisa temenan sama singa si raja hutan sama kera-kera yang lucu…
    *udah pusing ini ngeliat negara yang semakin gak jelas juntrungannya*

  • Eka Yudha berkata:

    Yach itulan Indonesia Ndoro, yang makin lama makin absurd dan makin bias saja 🙂 Sorry ndoro kalo gak nyambung, makasih sudah mampir ya Ndoro, silaturahminya semoga langgeng selalu. Amin Amin Amin

  • edy berkata:

    turut prihatin atas hilangnya sila kedua… 😥

  • Amrul berkata:

    bingung aing…

    hehe

  • kw berkata:

    selalu saja mereka itu norak, kampungan dan tak beradab. celakanya polisi kok diem aja?

  • rusydi berkata:

    Gundul gundul pacul cul gembelengan,

    Menungsa uteke gundul dul gembelengan

  • jed berkata:

    Ada yang tahu berapa skor tes IQ nya kapolda?

  • serdadu95 berkata:

    “Paklik membuang pandangan ke langit yang mengelam. Parasnya keruh. Matanya mencari sisa benderang bintang dan rembulan: cara elegan untuk mengelak pertanyaan yang enggan dijawabnya”.

    …Dan sayup-sayup terdengar lagu “Land Of Confusion”-nya Genesis…

    “There’s too many men… too many people… making too many problems…And not much love to go round. Can’t you see… This is a land of confusion…”

  • Erwin Baja berkata:

    Akh, cerdas sekali komentar dari @ Jed..:-)

  • delgembes berkata:

    Cuman 100jt, dan masih bisa dinikmati yg dapet, dan yg denger berita….
    Lha kalo kayak Prabowo, Wiranto, Sutrisno Bachir, belanja iklan Rp. 3M, apa ga’ lebih gendeng…?

  • ning berkata:

    terus bergerak ndoro…
    meski udara indonesia ini MANDEG!

    mungkin negeri ini jgn lagi dipercayakan pada Militer.
    yang hanya tau kekerasan, dlm nyelesaiin masalah.

  • Wazeen berkata:

    ahhh bubarkan sajalah perecok itu, kok pulisi cuma bisa menenangkan mereka, jadi ingat film Gangs of New York.

    @kopdang,
    “Takut kepada ketakutan itu sendiri”-itu katanya Foucault…

  • pns gila berkata:

    hapal pancasila bukan berarti mampu menghayatinya…

  • edratna berkata:

    Pagi hari, begitu buka koran Kompas, kemudian mendengarkan radio, saya langsung malas kemana-mana, karena diberitakan akan ada bermacam acara yang tumplek bleg di daerah Sudirman Thamrin sampai Monas.. Dan karena hari Sabtu udah keluar rumah, ya leyeh-leyeh aja di rumah, mendengarkan musik, menonton VCD, membaca dsb nya.

    Hari Sabtupun saya sekedar ke Gramedia di PIM, ternyata orang berjubel di Mal, saya jadi bingung kok nggak nyambung ya…yang demo teriak minta BBM turun…di Mal berdesakan…yang membedakan hanyalah lampu PIM menjadi agak remang-remang

  • hanny berkata:

    saya: “paklik, kira-kira apakah paklik bersedia apabila kami calonkan menjadi presiden?”

    Paklik membuang pandangan ke langit yang mengelam. Parasnya keruh. Matanya mencari sisa benderang bintang dan rembulan: cara elegan untuk mengelak pertanyaan yang enggan dijawabnya.

    😀

    *mengapa adegan ini terasa sangat familiar? hmm… saya tak tahu pasti :)*

  • baratayudha berkata:

    ndoro cumak mau komen tentang Sinterklas keblinger yg menebar duit Rp 100 juta dari udara………..

    Lha kalo memang ikhlas mau berbagi mbok ya bukan dengan cara yg biadab gitu. Kalo liat di tv, niat baik itu kan malah bisa membuat celaka. Rakyat kita kan sudah capek antre minyak tanah, beli gas murah kompornya mleduk, dll. Perbuatan amal dan niat baik tapi caranya sungguh tidak manusiawi.

  • dobelden berkata:

    ah… klo melihat hiruk pikuk seperti inih… saya jadi merindukan hidup ditengah belantara hutan sumatera.. sepi sunyi dan damai..

  • Yahya Kurniawan berkata:

    Ah, ternyata negeri ini benar-benar negeri mimpi (mbuh ra ngerti maksude :mrgreen: )

  • daus berkata:

    Masih “percaya” Pancasila?

  • Ady Wicaksono berkata:

    Pakdhe,… sebar 100jt itu kan sindiran nyata buat pemerintah dengan BLT-nya, itu bener2 langsung dan tunai dibanding pemerintah yang pake acara antri panjang sampai yang tua2 bisa klenger buat ngantrinya

    soal manusiawi apa ndak pakdhe gak bisa judge lho, tapi tanya yang menerima sebaran 100jt itu alias objek pelakunya, apa mereka merasa tidak diperlakukan manusiawi, nah itu baru objektif…

    maaf pakdhe, karena kita ini golongan orang yang menonton jadi kadang sok lebih manusiawi dari orang yang ditonton

    hehehe

  • Ndoro Seten berkata:

    sudah banyak yang lupa dan melupakan pancasila rupanya….

  • baratayudha berkata:

    apapun alasannya, sebar duit itu adalah cara berbagi yg biadab. Kenapa?

    Karena banyak cara yg beradab untuk ngritik pemerintah tapi ndak bikin klenger ato babak belur rakyat.

    om sintingklas ini gak mbayangke kalo rakyat yg terima sebaran duit itu bisa baku hantam krn berebut. Dan kejadian tho…

  • Rystiono berkata:

    Loh…pemegang kunci nirwana itu bener ndoro…tapi bener e dewe…

    Hahahahaha…mereka menjalankan perintah Imamnya, tapi bukan perintah Allah dan Rasul-Nya.

    Hukum saja mereka!

  • munyuk pemalu berkata:

    udahlah, bubarkan FPI!

  • asal bukan silangkangan
    😀

  • ufi yusuf berkata:

    jadi yang perlu diperbaiki filosofinya atau pengamalannya?

  • ning berkata:

    Yang saya ingat, hari minggu kemarin adalah hari MUSIBAH, Ndoro…

  • tele berkata:

    Nyebar duit bikin banyak yang luka2 aja.
    Mending di bagiin di kantor pos buat orang2 yang nggak kebagian BLT.

    Tapi ndoro, aku ndak ngerti karo tindakan manusia2 yang terobsesi sama jihad itu ?

  • nanas berkata:

    Ndoro,kok jadi judeg liat negoro iki yo,
    njawab daus “yo iyo tho, masih percaya pancasila” yg ga dipercaya itu manusiane..hehe.

    katane yg nggebuki orang pawai itu ngakunya marah krn yg ikut pawai adalah organisasi kriminal dan mrusak nama Islam. lha baru tau saya, kalo nggebuki org sampe berdarah2 itu bukan tindak kriminal dan mrusak nama Islam tho?

  • PuhMan berkata:

    ndoro …
    Seperti perlombaan ya ndoro Lomba kesewenang-wenangan,
    semua pihak sudah keblablasan ber angkara murka
    sekarepe udele dewe ndak ada lagi tatanan dimana masing-masing kelompok hanya untuk mengibarkan benderanya sendiri dan mendakwa bendera lain adalah musuhnya
    sementara Sang Saka Merah Putih entah kemana

    kuyakin Bunda Pertiwi pasti merintih pedih

  • Julia berkata:

    ya gitu deh.. kl aparat udah ga bisa dipercaya untuk menegakkan hukum, walhasil semua org jd merasa pantas jd polisi.. hehe
    tp trus terang ga brani berkomentar lebih dr itu krn ga tau duduk persoalan yg sebenar nya..
    banyak omong, pasti banyak salah nya
    yg jelas jgn terprovokasi & pandai2 memilah & memilih beritalah..
    *jgn sampe malah jd tontonan pelaku perpecahan.. disaat semua rusuh, dia lg senyum2 bahkan ketawa guling2..*

  • carkhu_037 berkata:

    Pancasila sekarang mah dah lain. Ndak lagi 1. Ketuhanan yang maha esa 2. Kemanusiaan yang adildan beradab …dst
    Sekarang dah simoel n praktis. “Pancasil Sila 1 sampai sila 5 belom ada perubahan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pancasila Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: