Gula-gula Pecas Ndahe

Agustus 26, 2008 § 56 Komentar

Baiklah perempuan gula-gula, kan kujawab senandikamu dengan biji-biji pelangi yang kusemai di musim semi. Di sini.

Ya, di sini; di tempat kita biasa meringkus jemu jadi batu. Di tepian sungai yang deras airnya melarungkan untaian keluhmu.

Tentu kau belum lupa pada larik-larik irisan sembilu yang tertoreh saat itu. Bahwa kita mungkin tak akan melancong ke mana-mana. Tak juga di titik nol, tanpa koma. Sebab, jalan kita merayau di antara kelimun deru debu-debu senja.

Memang hanya aku yang bisa mendusin tidurmu di tubir-tubir malam yang lengas. Cuma suaraku pula yang menggiring bahagiamu di hari-hari sepanas Gurun Gobi. « Read the rest of this entry »

Setan Pecas Ndahe

Agustus 25, 2008 § 76 Komentar

Sebuah berita menggelitik saya baca di koran sebelah. Di sana tertulis bahwa sekarang sedang musim serba setan. Ada rawon setan, ketoprak setan, lontong setan, pil setan, dan seterusnya.

Saya jadi mikir, ada ndak ya politikus setan? Caleg setan? Pejabat setan? Koruptor setan? Pakar setan? Blogger setan? Plurker setan? Cerpen setan?

He-he-he … seru juga ya kalau semua hal kita tambahi kata setan. Ndoro setan? Woh …

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah bertemu setan?

Cergamnista Pecas Ndahe

Agustus 23, 2008 § 49 Komentar

Jadi ini dia sambungan cergam dari blog Pakde Burung. Cergamnista ini sekadar catatan dari kisah yang tercecer dari acara peluncuran Cerpenista di Yogyakarta tempo hari.

« Read the rest of this entry »

Rembulan Pecas Ndahe

Agustus 22, 2008 § 65 Komentar

Perempuan itu bermata rembulan. Hangat dan meneduhkan. Parasnya setenang Danau Kelimutu. Aku bertemu dengannya di tepi pagi yang getir. Selepas purnama kelima di tengah musim semi.

Tubuhnya wangi melati. Senyumnya segar tomat ranum. Rambutnya gelap malam tanpa bintang. Langkahnya seriang kupu-kupu di taman bunga.

Ia tengah berlawalata menyusuri sepi saat kami bersua. Kami lalu berbincang ringan di pojokan lapangan rumput, di atas bangku kayu mahoni. Di atas, kulihat langit biru tebal. Awan menggeletar jemu dikalang angin selembut beludru.

Aku ingat, perempuan itu duduk setelah meletakkan secangkir kembang warna-warni di atas meja. Sekilas kulihat ada roncean mawar hutan di kepalanya.

“Mari, temani aku duduk di sini melewati sunyi,” ia meminta.

Aku mengangguk, dan duduk di sampingnya. « Read the rest of this entry »

Tikabanget Pecas Ndahe

Agustus 21, 2008 § 66 Komentar

Selamat ulang tahun, Nduk! Maaf, kami hanya bisa memberi kado ini …

kado untuk tika
[dibuat oleh budayawan ituh]

Salam dan doa dari kami bertiga.

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah mengucapkan selamat kepada Tikah ituh?

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Agustus, 2008 at Ndoro Kakung.