Italia Pecas Ndahe

November 12, 2009 § 101 Komentar

Untuk memberantas korupsi, Italia melancarkan Operasi Tangan Bersih. Hasilnya, banyak korban yang bunuh diri dan meletakkan jabatan karena malu. Kita mungkin perlu meniru Italia.

suapIndonesia mirip Italia pada 1990-an. Wabah korupsi berkecamuk di setiap sudut. Dari yang namanya ”uang rokok” sampai komisi tingkat tinggi berseliweran dengan telanjang. Tak tersentuh.

Di Italia, korupsi sudah sedemikian parah sehingga perlu Operasi Tangan Bersih. Mulai dilancarkan pada awal 1992, temuan-temuan operasi itu membuat orang Italia kaget. Rakyat marah dan mempermalukan para politikus dan pengusaha yang bertahun-tahun menikmati kemewahan hasil korupsi.

Korban pun berjatuhan. Raul Gardini, seorang pengusaha terkemuka Italia yang dijuluki tukang sulap keuangan Italia dasawarsa 1980, bunuh diri karena malu atau tak bisa membayangkan disekap di sel tahanan. Ini kasus bunuh diri ke-12 setelah Operasi Tangan Bersih. Operasi yang dilancarkan Hakim Antonio Di Pietro itu tergolong pemberantasan korupsi terbesar di Eropa.

Di Pietro tidak pandang bulu. Bekas Perdana Menteri Giulio Andreotti dan Bettino Craxi ia seret ke ruang pengadilan. Perdana Menteri Guiliano Amato pun terpaksa mengundurkan diri pada Maret. Padahal pemilihan perdana menteri Italia berikutnya berlangsung September 1993.

Russel Miller, wartawan The Sunday Times Magazine, mewawancarai Carlo De Benedetti, orang nomor satu di Olivetti, yang membuat pernyataan penting di depan Hakim Di Pietro. Wawancara itu dilengkapi dengan reportase dan riset Peter Semler, yang membeberkan liku-liku korupsi di Italia, dan dimuat di The Sunday Times Magazine, pada Juli, 1993.

Tulisan mereka, yang pernah dimuat di majalah Tempo, memamerkan banyak hal. Tentang modus-modus korupsi, kekuasaan yang korup, juga upaya seorang hakim yang tak kenal lelah memberantas korupsi.

Lebih dari itu semua, laporan Miller merupakan karya jurnalistik yang jempolan. Layak dipelajari dan ditiru. Saya sengaja mengutip dan membaginya untuk sampean, sebagai pelajaran tentang bagaimana melawan korupsi.

Minggu pagi, pertengahan Mei 1993, sebuah BMW biru gelap tiba di Tribunale, pengadilan utama di Kota Milan, Italia. Carlo De Benedetti, orang nomor satu Olivetti dan pemilik surat kabar La Republica yang berpengaruh, keluar dari kursi belakang. Ia bergegas melewati barisan wartawan untuk menuju lantai IV. Tiga orang hakim yang sedang menunggu berharap Benedetti akan mengeluarkan pernyataan yang ditunggu-tunggu.

Di dalam ruangan, De Benedetti membaca keras-keras pernyataan yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dalam pernyataan itu ia mengakui bahwa dari 1988 sampai 1991, Olivetti telah membayar uang pelicin sebesar 4,6 juta poundsterling atau sekitar Rp 18,4 triliun untuk mendapatkan kontrak dari pemerintah. De Benedetti menyatakan ia bertanggung jawab atas penyogokan itu walaupun secara pribadi ia tidak pernah menyuap siapa pun.

Setelah membaca pernyataan itu, De Benedetti menyerahkannya pada hakim ketua, Antonio Di Pietro, yang sempat memesan kopi untuk menurunkan rasa tegang di dalam ruang sidang.

Kehadiran De Benedetti di Tribunale memang peristiwa penting dalam kasus korupsi terbesar di Eropa saat itu. De Benedetti adalah orang terakhir yang terlibat dalam skandal besar di Italia, yang mengguncangkan pemerintah Italia, merusakkan tatanan politik Italia, mengantarkan ribuan pengusaha dan politisi ke dalam penjara, dan menyebabkan terjadinya gelombang bunuh diri.

Hanya beberapa hari sebelum kedatangan De Benedetti ke Tribunale, para pemilik saham Olivetti dalam rapat umum pemegang saham menanyakan apakah perusahaan pernah membayar uang suap. Tanpa ragu-ragu, De Benedetti menjawab, “Tidak.”

”Itu sangat menyakitkan buat saya,” katanya mengingat kebohongan besar di depan umum itu. ”Tapi hanya jawaban itulah yang bisa aku sampaikan setelah aku minta bertemu dengan hakim, dan aku sudah berjanji tidak akan memberi tahu siapa pun sebelum bertemu hakim.”

De Benedetti, ayah tiga orang anak dan kakek dua cucu, tak menimbulkan kesan sebagai seorang taipan berpengaruh. Ia menguasai enam bahasa, ganteng, santai, dan sopan. Ia membantu saya melepas mantel, dan mendengarkan semua pertanyaan saya dengan hati-hati, seolah-olah ia memiliki seluruh waktu yang berputar di dunia ini. Namun, di balik kesopanan itu, tersembunyi intelektualitas yang tinggi dan pengaruh yang kuat. Jika dihadapkan pada pertanyaan yang tidak diinginkan, ia tersenyum minta maaf. ”Saya akan menjelaskan kenapa saya tidak tertarik menjawab pertanyaan itu.”

Ia, tentu saja, sudah menjelaskan berkali-kali kenapa ia sampai merasa dipaksa mengizinkan pembayaran uang suap. Itu hanya cara untuk bertahan hidup. Sampai 1987, penjualan Olivetti ke kementerian pelayanan pos Italia hanya 1 juta poundsterling.

Pada 1988, Olivetti mulai membayar upeti kepada beberapa pejabat, banyak dari uang itu disalurkan ke Partai Kristen Demokrat. Hasilnya, dari tahun 1988 sampai 1991, penjualan komputer Olivetti ke pelayanan pos nasional mencapai 260 juta poundsterling. Namun, pada akhir 1991, Olivetti memutuskan menyetop pemberian upeti. Tidak ada lagi permintaan yang datang, dan alasannya sudah jelas sekali.

‘Itu sangat lugu, bodoh, dan tidak jujur,” katanya, ”untuk mengatakan tidak ada satu pun yang sadar bahwa tingkat korupsi di negeri ini sudah sangat tinggi. Tetapi saya kira semua orang terkejut dengan fakta kedalaman korupsi. Perampokan sudah jadi soal yang biasa, sampai para petinggi di atas tidak tahu lagi berapa banyak orang di bawahnya yang memanfaatkan situasi itu.”

Walau sebenarnya sama saja dengan membakar diri sendiri, De Benedetti mengatakan dengan tegas mendukung mani pulite atau penyelidikan ”tangan bersih” dan berharap penyelidikan itu akan berhasil.

”Apa yang terjadi di Italia adalah revolusi yang sebenarnya, dalam pengertian rezim lama sudah jatuh total, dan penguasa saat ini, orang-orang Craxi dan Andreotti, sudah kehilangan kredibilitas untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi keragu-raguan dalam soal itu di kepalaku.”

”Kita mungkin punya 50 pemerintahan dalam 45 tahun ini, tapi faktanya selalu sama saja. Dalam setiap sistem politik yang ada, tingkat korupsi berlipat ganda secara geometris, bukan hanya secara matematis, jika makin lama orang bertahan di tampuk kekuasaan. Tingkat korupsi yang dibangun di Italia saat ini sudah sangat besar dan ia telah berhasil mengubah sistem demokrasi menjadi suatu rezim yang bisa bertahan terus-menerus.”

Dari manakah asalnya?

Sebuah gedung bernama Pio Albergo Trivulzio. Ini sebuah proyek yang didirikan oleh Partai Sosialis yang berkuasa di Milan untuk menunjukkan komitmennya pada kesejahteraan masyarakat. Gedung bercat kuning itu dikelilingi halaman luas dan menempati hampir seluruh blok di pusat kota.

Di gedung terbuka itu, di tengah-tengah keramaian orang, pemimpin Partai Sosialis, Bettino Craxi, menyampaikan pidato yang berlebih-lebihan tentang perhatian partai terhadap masyarakat. Mungkin saja tidak ada orang yang hadir yang menyadari adanya kepulan korupsi karena tentu saja korupsi membusuk jauh di bawah permukaan retorika politik.

Mario Chiesa, direktur partai setempat, adalah seorang apparatchik atau birokrat setia dalam Partai Sosialis yang mengorganisasi kampanye anak Craxi, Bobo, untuk menghadapi pemilihan lokal. Chiesa bisa mendapat pekerjaan itu, seperti semua orang yang bekerja di Milan, karena raccomandazioni, sistem yang diperluas dari rasa suka atau tidak suka terhadap seseorang dan pemberian uang suap. Sistem raccomandazioni itu selama beberapa tahun sudah menjadi minyak pelumas dalam kehidupan orang Italia.

Duduk dengan tenang di posisinya, Chiesa mengumpulkan tangenti atau uang sogok dari semua penyalur maupun kontraktor yang berhubungan dengan Pio Albergo Trivulzio. Tidak akan ada kontrak yang ditandatangani, tanpa bustarella, atau amplop kecil, yang ditinggal di meja direktur. Bahkan kontraktor penguburan harus menyetor uang suap, hanya untuk mendapat hak menguburkan seorang bekas penghuni kota. Hal itu terjadi tak lama sebelum Chiesa menanam modal di sebuah perusahaan real estate, dan sebelum ia dengan bangganya memiliki sebuah rekening pribadi di Bank Swiss.

Awal tahun lalu, Chiesa memberi tahu Luca Magni, seorang bos perusahaan jasa pembersihan, bahwa jika Magni ingin kontraknya diperbarui lagi, ia harus mengeluarkan uang 14 juta lira atau sekitar 6.400 poundsterling.

Dengan resesi yang sudah mulai menggigit Italia, Magni merasa soal uang suap sudah cukup. Ia segera menuju Tribunale, dan menyadari bahwa ia sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Antonio Di Pietro. Di depannya sudah ada hakim Di Pietro, bekas polisi yang bersemangat, yang berasal dari keluarga petani kecil di selatan Italia, yang tidak punya pandangan untuk berkompromi dalam menentukan hal yang benar dan yang salah.

Sejak ditunjuk sebagai staf penuntut umum pada hakim pemeriksa, Di Pietro sudah lama menunggu orang-orang seperti Magni datang ke kantornya. Sebagai seorang petugas hukum yang pertama kali menggunakan komputer di Milan, Di Pietro dengan rajin mencatat semua keping informasi yang mungkin ada hubungannya dengan uang suap. Dan ia yakin, walaupun tanpa bukti-bukti akurat, korupsi di Italia sudah menyebar luas lebih daripada yang disadari orang. Tidak ada peristiwa yang terlalu kecil baginya untuk tidak dicatat.

Ketika seorang wanita melempar jutaan lira dari jendela karena bertengkar dengan suaminya, Di Pietro berpikir bahwa uang itu mungkin saja hasil uang suap. Ia pun mencatat peristiwa itu dalam komputernya.

Di Pietro sudah lama curiga melihat Chiesa, dan mencatat bahwa istrinya yang sudah hidup terpisah, Laura, minta tunjangan perceraian yang jumlahnya sangat besar. Jumlah yang jauh di luar proporsi pendapatan suaminya yang sopan, sebagai seorang pegawai kecil di kantor bendahara. Ia tahu bahwa Mario Chiesa menghimpun dana tujuh juta poundsterling selama enam tahun menjadi direktur Pio Albergo Trivulzio, dan ia minta sebagian dari dana itu.

Pada 17 Februari 1992, Magni datang ke kantor Chiesa dengan menggunakan mikrofon tersembunyi dan membawa tujuh juta lira dalam bentuk cek, setengah dari jumlah yang diharapkan Chiesa. Beberapa menit setelah uang diserahkan, Di Pietro dan satu regu polisi Carabinieri menerobos masuk dan menemukan Chiesa sedang berusaha melenyapkan uang itu di dalam kloset kamar mandi (persis reaksi salah satu koruptor di Indonesia itu kan?). Tindakan Chiesa terlambat, dan ia segera jadi salah seorang tersangka.

Chiesa segera ditahan dan diperiksa di penjara yang terkenal kejam di Milan, San Vittore, tempat bekas teroris Brigade Merah dan tukang pukul mafia menjual obat-obatan dan mabuk-mabukan dalam suasana yang sempit dan berdesakan. Di Petro mengatakan Chiesa akan dilepas jika bersedia ”bernyanyi”.

Chiesa tahu banyak hal dan ia sadar tentang konsekuensi yang tidak menyenangkan jika ia ”bernyanyi” tentang apa yang ia ketahui. Akibatnya, ia bertahan di sel San Vittore selama beberapa minggu sebelum akhirnya setuju untuk bekerja sama. Dan ketika mulai bicara, tampaknya ia tidak bisa berhenti lagi. Dengan menyebutkan banyak nama sambil mengutip beberapa angka, ia sebenarnya melukis gambaran dari intrik-intrik, jaringan organisasi korupsi kelas tinggi yang merasuk di Kota Milan pada semua tingkatan.

Ia menjelaskan bagaimana perusahaan besar maupun kecil membayar uang suap untuk memperoleh kontrak-kontrak pemerintah, bagaimana Partai Sosialis dan Kristen Demokrat membagi-bagi uang suap itu dan meneruskannya ke partai partai yang lebih kecil sebagai uang tutup mulut. Bahkan Partai Komunis juga mendapat bayaran tutup mulut.

Ia membeberkan bagaimana patron politik bekerja, bagaimana rumah dan apartemen yang dimiliki perusahaan negara diberikan pada pendukung partai dengan tarif sewa yang sangat murah, bagaimana gaji dibayarkan untuk pekerjaan yang tidak pernah ada, bagaimana pensiun hanya diberikan pada orang-orang yang disenangi saja, bagaimana wartawan dibeli, bagaimana sekelompok besar penipu, tukang tadah, dan penggelap pajak mengambil untung dari sistem yang sudah busuk sampai ke akar-akarnya.

Dipersenjatai dengan arsip-arsip luar biasa dari Chiesa, Di Pietro mulai memanggil para tersangka untuk diperiksa. Makin banyak penahanan terjadi, makin banyak pula informan yang datang untuk menyelamatkan diri sendiri. Sampai akhir Mei, sebanyak 26 pegawai tingkat kecamatan, politisi lokal, dan pengusaha sudah ditahan dan didakwa dengan tuduhan korupsi.

Sebulan kemudian jumlah orang yang ditahan membubung tinggi sampai lebih dari 40 orang. Dan yang lebih penting, penyelidikan mulai menyebar ke Roma dan kota-kota lainnya. Penggelapan pajak, pelanggaran hukum, dan sekadar kepatuhan mengisi formulir resmi merupakan hal yang rutin di Italia. Namun, ketika satu rahasia terbuka, diikuti rahasia lainnya, dan jumlah orang yang ditahan makin banyak, orang Italia tetap terpesona, dan kemudian sedih, melihat parahnya kanker korupsi yang merembes dalam kehidupan mereka.

Politisi, yang dahulu terbiasa disapa dengan penghormatan yang menjilat dalam setiap acara keramaian, tiba-tiba menghadapi publik yang secara konfrontatif menyoraki, Ladri! Ladri! (pencuri-pencuri). Para pengemudi mobil ikut menunjukkan rasa muak mereka dengan cara Italia yang indah: mereka melempar uang koin dari jendela mobil jika melewati kantor partai atau kantor pemerintah.

Setelah diumumkan bahwa Gianni De Michelis, bekas menteri luar negeri yang gendut, berada dalam pemeriksaan dengan tuduhan menyelewengkan bantuan luar negeri, ia langsung dikelilingi oleh gerombolan orang yang marah di Venice. Bekas menteri yang terkenal dengan hobi mengurus rambut ke salon dan dansa di disko-disko itu dipaksa secara tidak senonoh pergi meninggalkan Venice lewat Grand Canal. Michelis memang menolak semua tuduhan.

Di Pietro diangkat menjadi pahlawan nasional. Setiap hari jika tiba di Tribunale, ia selalu dikelilingi gerombolan wartawan maupun fotografer dan ditepuki oleh orang-orang. Namanya juga mulai muncul di kaos-kaos oblong dan disanjung-sanjung lewat tulisan grafiti di tembok-tembok kota.

Hanya 12 bulan setelah Chiesa ditemukan sedang berusaha melenyapkan uang sogokan di toilet, lebih dari 2.300 orang dari posisi tinggi di kalangan politisi Italia maupun dari dunia pengusaha berada dalam proses penyelidikan. Sebanyak 1.356 surat penahanan sudah dikeluarkan.

Bettino Craxi didesak untuk mundur setelah selama 16 tahun memimpin Partai Sosialis. Dan Giulio Andreotti, bekas negarawan terkemuka Italia, yang tujuh kali menjabat perdana menteri, juga ikut diselidiki dengan tuduhan korupsi serta hubungan dengan mafia.

Diperkirakan pembayaran uang suap di Italia mencapai sekitar 65 persen dari defisit negara. Hampir semua pemimpin industri milik negara memberi maupun menerima pembayaran gelap untuk kontrak-kontrak.

Sergia Castellari, bekas menteri yang bertanggung jawab atas perusahaan negara, ditemukan meninggal di halaman vilanya di luar pinggiran Roma bulan Februari lalu. Ia menembak dirinya sendiri dengan pistol, dan diduga sedang mabuk dengan botol wiski yang masih tersisa setengah di sebelahnya. Cek besar dari perusahaan kontraktor ditemukan di rumahnya. Castelari adalah orang kedelapan dalam pembunuhan tangentopoli, istilah yang digunakan untuk skandal penyuapan.

Industri swasta juga patut dicela karena banyak pengusaha besar yang berada dalam penyelidikan. Salvatore Ligresti, kontraktor bangunan terbesar, sedang diperiksa Di Pietro di Tribunale ketika, ironisnya, para pekerjanya sedang membereskan atap gedung miliknya untuk membangun dua tingkat tambahan.

Parlo Berlusconi, adik Silvio Berlusconi, konglomerat media, ikut ditahan. Bahkan perusahaan raksasa Fiat, yang dipimpin oleh orang terhormat Giovanni Agnelli, juga jatuh dalam tuduhan penyuapan karena dua eksekutif top Fiat ikut ditahan. Salah satu eksekutif yang ditahan adalah penjabat kepala bagian keuangan.

Tuntutan reformasi politik yang mendalam tidak bisa ditahan-tahan lagi ketika dasar kekuatan dua partai utama, Sosialis dan Kristen Demokrat, hancur lebur. Tragisnya, usaha yang sia-sia dari politisi untuk membebaskan mereka dengan mencoba memindahkan penyelidikan dari hakim kepada kepala polisi, yang ditunjuk secara politis, justru menimbulkan kegemparan orang-orang dan membuat mundurnya pemerintahan koalisi.

Di tengah-tengah semua olok-olok itu, yaitu setengah politisi terkemuka, pengusaha, dan pegawai negeri dipenjara maupun sedang diawasi dengan ketat, seorang tokoh yang sangat berpengaruh memilih berdiri menjauh dan tiba-tiba menjadi kebal.

Ia adalah Carlo De Benedetti, bos perusahaan raksasa Olivetti, yang sering dipanggil dengan sebutan l’Ingegnere, sang insinyur. Ketika ia secara terbuka dan penuh simpati menolak untuk mengakui bahwa Olivetti pernah membayar uang suap, banyak orang yang menarik napas lega. Paling tidak ada juga satu orang yang berhasil berada di luar kebusukan. Tetapi itu terjadi jauh sebelum berita burung yang mengabarkan bahwa sang insinyur juga minta bertemu dengan Di Pietro.

Aha! Italia pada masa itu ternyata tak jauh berbeda dengan Indonesia. Hampir semua yang pernah terjadi di sana, juga berlangsung di sini. Bahkan sampai ke modus, pelaku, persengkongkolan, dan pengungkapannya. Tentu saja bukan sesuatu yang membanggakan.

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apa komentar sampean setelah membaca kisah di atas?

Iklan

§ 101 Responses to Italia Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Italia Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: