Italia Pecas Ndahe

November 12, 2009 § 101 Komentar

Untuk memberantas korupsi, Italia melancarkan Operasi Tangan Bersih. Hasilnya, banyak korban yang bunuh diri dan meletakkan jabatan karena malu. Kita mungkin perlu meniru Italia.

suapIndonesia mirip Italia pada 1990-an. Wabah korupsi berkecamuk di setiap sudut. Dari yang namanya ”uang rokok” sampai komisi tingkat tinggi berseliweran dengan telanjang. Tak tersentuh.

Di Italia, korupsi sudah sedemikian parah sehingga perlu Operasi Tangan Bersih. Mulai dilancarkan pada awal 1992, temuan-temuan operasi itu membuat orang Italia kaget. Rakyat marah dan mempermalukan para politikus dan pengusaha yang bertahun-tahun menikmati kemewahan hasil korupsi.

Korban pun berjatuhan. Raul Gardini, seorang pengusaha terkemuka Italia yang dijuluki tukang sulap keuangan Italia dasawarsa 1980, bunuh diri karena malu atau tak bisa membayangkan disekap di sel tahanan. Ini kasus bunuh diri ke-12 setelah Operasi Tangan Bersih. Operasi yang dilancarkan Hakim Antonio Di Pietro itu tergolong pemberantasan korupsi terbesar di Eropa.

Di Pietro tidak pandang bulu. Bekas Perdana Menteri Giulio Andreotti dan Bettino Craxi ia seret ke ruang pengadilan. Perdana Menteri Guiliano Amato pun terpaksa mengundurkan diri pada Maret. Padahal pemilihan perdana menteri Italia berikutnya berlangsung September 1993.

Russel Miller, wartawan The Sunday Times Magazine, mewawancarai Carlo De Benedetti, orang nomor satu di Olivetti, yang membuat pernyataan penting di depan Hakim Di Pietro. Wawancara itu dilengkapi dengan reportase dan riset Peter Semler, yang membeberkan liku-liku korupsi di Italia, dan dimuat di The Sunday Times Magazine, pada Juli, 1993.

Tulisan mereka, yang pernah dimuat di majalah Tempo, memamerkan banyak hal. Tentang modus-modus korupsi, kekuasaan yang korup, juga upaya seorang hakim yang tak kenal lelah memberantas korupsi.

Lebih dari itu semua, laporan Miller merupakan karya jurnalistik yang jempolan. Layak dipelajari dan ditiru. Saya sengaja mengutip dan membaginya untuk sampean, sebagai pelajaran tentang bagaimana melawan korupsi.

Minggu pagi, pertengahan Mei 1993, sebuah BMW biru gelap tiba di Tribunale, pengadilan utama di Kota Milan, Italia. Carlo De Benedetti, orang nomor satu Olivetti dan pemilik surat kabar La Republica yang berpengaruh, keluar dari kursi belakang. Ia bergegas melewati barisan wartawan untuk menuju lantai IV. Tiga orang hakim yang sedang menunggu berharap Benedetti akan mengeluarkan pernyataan yang ditunggu-tunggu.

Di dalam ruangan, De Benedetti membaca keras-keras pernyataan yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dalam pernyataan itu ia mengakui bahwa dari 1988 sampai 1991, Olivetti telah membayar uang pelicin sebesar 4,6 juta poundsterling atau sekitar Rp 18,4 triliun untuk mendapatkan kontrak dari pemerintah. De Benedetti menyatakan ia bertanggung jawab atas penyogokan itu walaupun secara pribadi ia tidak pernah menyuap siapa pun.

Setelah membaca pernyataan itu, De Benedetti menyerahkannya pada hakim ketua, Antonio Di Pietro, yang sempat memesan kopi untuk menurunkan rasa tegang di dalam ruang sidang.

Kehadiran De Benedetti di Tribunale memang peristiwa penting dalam kasus korupsi terbesar di Eropa saat itu. De Benedetti adalah orang terakhir yang terlibat dalam skandal besar di Italia, yang mengguncangkan pemerintah Italia, merusakkan tatanan politik Italia, mengantarkan ribuan pengusaha dan politisi ke dalam penjara, dan menyebabkan terjadinya gelombang bunuh diri.

Hanya beberapa hari sebelum kedatangan De Benedetti ke Tribunale, para pemilik saham Olivetti dalam rapat umum pemegang saham menanyakan apakah perusahaan pernah membayar uang suap. Tanpa ragu-ragu, De Benedetti menjawab, “Tidak.”

”Itu sangat menyakitkan buat saya,” katanya mengingat kebohongan besar di depan umum itu. ”Tapi hanya jawaban itulah yang bisa aku sampaikan setelah aku minta bertemu dengan hakim, dan aku sudah berjanji tidak akan memberi tahu siapa pun sebelum bertemu hakim.”

De Benedetti, ayah tiga orang anak dan kakek dua cucu, tak menimbulkan kesan sebagai seorang taipan berpengaruh. Ia menguasai enam bahasa, ganteng, santai, dan sopan. Ia membantu saya melepas mantel, dan mendengarkan semua pertanyaan saya dengan hati-hati, seolah-olah ia memiliki seluruh waktu yang berputar di dunia ini. Namun, di balik kesopanan itu, tersembunyi intelektualitas yang tinggi dan pengaruh yang kuat. Jika dihadapkan pada pertanyaan yang tidak diinginkan, ia tersenyum minta maaf. ”Saya akan menjelaskan kenapa saya tidak tertarik menjawab pertanyaan itu.”

Ia, tentu saja, sudah menjelaskan berkali-kali kenapa ia sampai merasa dipaksa mengizinkan pembayaran uang suap. Itu hanya cara untuk bertahan hidup. Sampai 1987, penjualan Olivetti ke kementerian pelayanan pos Italia hanya 1 juta poundsterling.

Pada 1988, Olivetti mulai membayar upeti kepada beberapa pejabat, banyak dari uang itu disalurkan ke Partai Kristen Demokrat. Hasilnya, dari tahun 1988 sampai 1991, penjualan komputer Olivetti ke pelayanan pos nasional mencapai 260 juta poundsterling. Namun, pada akhir 1991, Olivetti memutuskan menyetop pemberian upeti. Tidak ada lagi permintaan yang datang, dan alasannya sudah jelas sekali.

‘Itu sangat lugu, bodoh, dan tidak jujur,” katanya, ”untuk mengatakan tidak ada satu pun yang sadar bahwa tingkat korupsi di negeri ini sudah sangat tinggi. Tetapi saya kira semua orang terkejut dengan fakta kedalaman korupsi. Perampokan sudah jadi soal yang biasa, sampai para petinggi di atas tidak tahu lagi berapa banyak orang di bawahnya yang memanfaatkan situasi itu.”

Walau sebenarnya sama saja dengan membakar diri sendiri, De Benedetti mengatakan dengan tegas mendukung mani pulite atau penyelidikan ”tangan bersih” dan berharap penyelidikan itu akan berhasil.

”Apa yang terjadi di Italia adalah revolusi yang sebenarnya, dalam pengertian rezim lama sudah jatuh total, dan penguasa saat ini, orang-orang Craxi dan Andreotti, sudah kehilangan kredibilitas untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi keragu-raguan dalam soal itu di kepalaku.”

”Kita mungkin punya 50 pemerintahan dalam 45 tahun ini, tapi faktanya selalu sama saja. Dalam setiap sistem politik yang ada, tingkat korupsi berlipat ganda secara geometris, bukan hanya secara matematis, jika makin lama orang bertahan di tampuk kekuasaan. Tingkat korupsi yang dibangun di Italia saat ini sudah sangat besar dan ia telah berhasil mengubah sistem demokrasi menjadi suatu rezim yang bisa bertahan terus-menerus.”

Dari manakah asalnya?

Sebuah gedung bernama Pio Albergo Trivulzio. Ini sebuah proyek yang didirikan oleh Partai Sosialis yang berkuasa di Milan untuk menunjukkan komitmennya pada kesejahteraan masyarakat. Gedung bercat kuning itu dikelilingi halaman luas dan menempati hampir seluruh blok di pusat kota.

Di gedung terbuka itu, di tengah-tengah keramaian orang, pemimpin Partai Sosialis, Bettino Craxi, menyampaikan pidato yang berlebih-lebihan tentang perhatian partai terhadap masyarakat. Mungkin saja tidak ada orang yang hadir yang menyadari adanya kepulan korupsi karena tentu saja korupsi membusuk jauh di bawah permukaan retorika politik.

Mario Chiesa, direktur partai setempat, adalah seorang apparatchik atau birokrat setia dalam Partai Sosialis yang mengorganisasi kampanye anak Craxi, Bobo, untuk menghadapi pemilihan lokal. Chiesa bisa mendapat pekerjaan itu, seperti semua orang yang bekerja di Milan, karena raccomandazioni, sistem yang diperluas dari rasa suka atau tidak suka terhadap seseorang dan pemberian uang suap. Sistem raccomandazioni itu selama beberapa tahun sudah menjadi minyak pelumas dalam kehidupan orang Italia.

Duduk dengan tenang di posisinya, Chiesa mengumpulkan tangenti atau uang sogok dari semua penyalur maupun kontraktor yang berhubungan dengan Pio Albergo Trivulzio. Tidak akan ada kontrak yang ditandatangani, tanpa bustarella, atau amplop kecil, yang ditinggal di meja direktur. Bahkan kontraktor penguburan harus menyetor uang suap, hanya untuk mendapat hak menguburkan seorang bekas penghuni kota. Hal itu terjadi tak lama sebelum Chiesa menanam modal di sebuah perusahaan real estate, dan sebelum ia dengan bangganya memiliki sebuah rekening pribadi di Bank Swiss.

Awal tahun lalu, Chiesa memberi tahu Luca Magni, seorang bos perusahaan jasa pembersihan, bahwa jika Magni ingin kontraknya diperbarui lagi, ia harus mengeluarkan uang 14 juta lira atau sekitar 6.400 poundsterling.

Dengan resesi yang sudah mulai menggigit Italia, Magni merasa soal uang suap sudah cukup. Ia segera menuju Tribunale, dan menyadari bahwa ia sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Antonio Di Pietro. Di depannya sudah ada hakim Di Pietro, bekas polisi yang bersemangat, yang berasal dari keluarga petani kecil di selatan Italia, yang tidak punya pandangan untuk berkompromi dalam menentukan hal yang benar dan yang salah.

Sejak ditunjuk sebagai staf penuntut umum pada hakim pemeriksa, Di Pietro sudah lama menunggu orang-orang seperti Magni datang ke kantornya. Sebagai seorang petugas hukum yang pertama kali menggunakan komputer di Milan, Di Pietro dengan rajin mencatat semua keping informasi yang mungkin ada hubungannya dengan uang suap. Dan ia yakin, walaupun tanpa bukti-bukti akurat, korupsi di Italia sudah menyebar luas lebih daripada yang disadari orang. Tidak ada peristiwa yang terlalu kecil baginya untuk tidak dicatat.

Ketika seorang wanita melempar jutaan lira dari jendela karena bertengkar dengan suaminya, Di Pietro berpikir bahwa uang itu mungkin saja hasil uang suap. Ia pun mencatat peristiwa itu dalam komputernya.

Di Pietro sudah lama curiga melihat Chiesa, dan mencatat bahwa istrinya yang sudah hidup terpisah, Laura, minta tunjangan perceraian yang jumlahnya sangat besar. Jumlah yang jauh di luar proporsi pendapatan suaminya yang sopan, sebagai seorang pegawai kecil di kantor bendahara. Ia tahu bahwa Mario Chiesa menghimpun dana tujuh juta poundsterling selama enam tahun menjadi direktur Pio Albergo Trivulzio, dan ia minta sebagian dari dana itu.

Pada 17 Februari 1992, Magni datang ke kantor Chiesa dengan menggunakan mikrofon tersembunyi dan membawa tujuh juta lira dalam bentuk cek, setengah dari jumlah yang diharapkan Chiesa. Beberapa menit setelah uang diserahkan, Di Pietro dan satu regu polisi Carabinieri menerobos masuk dan menemukan Chiesa sedang berusaha melenyapkan uang itu di dalam kloset kamar mandi (persis reaksi salah satu koruptor di Indonesia itu kan?). Tindakan Chiesa terlambat, dan ia segera jadi salah seorang tersangka.

Chiesa segera ditahan dan diperiksa di penjara yang terkenal kejam di Milan, San Vittore, tempat bekas teroris Brigade Merah dan tukang pukul mafia menjual obat-obatan dan mabuk-mabukan dalam suasana yang sempit dan berdesakan. Di Petro mengatakan Chiesa akan dilepas jika bersedia ”bernyanyi”.

Chiesa tahu banyak hal dan ia sadar tentang konsekuensi yang tidak menyenangkan jika ia ”bernyanyi” tentang apa yang ia ketahui. Akibatnya, ia bertahan di sel San Vittore selama beberapa minggu sebelum akhirnya setuju untuk bekerja sama. Dan ketika mulai bicara, tampaknya ia tidak bisa berhenti lagi. Dengan menyebutkan banyak nama sambil mengutip beberapa angka, ia sebenarnya melukis gambaran dari intrik-intrik, jaringan organisasi korupsi kelas tinggi yang merasuk di Kota Milan pada semua tingkatan.

Ia menjelaskan bagaimana perusahaan besar maupun kecil membayar uang suap untuk memperoleh kontrak-kontrak pemerintah, bagaimana Partai Sosialis dan Kristen Demokrat membagi-bagi uang suap itu dan meneruskannya ke partai partai yang lebih kecil sebagai uang tutup mulut. Bahkan Partai Komunis juga mendapat bayaran tutup mulut.

Ia membeberkan bagaimana patron politik bekerja, bagaimana rumah dan apartemen yang dimiliki perusahaan negara diberikan pada pendukung partai dengan tarif sewa yang sangat murah, bagaimana gaji dibayarkan untuk pekerjaan yang tidak pernah ada, bagaimana pensiun hanya diberikan pada orang-orang yang disenangi saja, bagaimana wartawan dibeli, bagaimana sekelompok besar penipu, tukang tadah, dan penggelap pajak mengambil untung dari sistem yang sudah busuk sampai ke akar-akarnya.

Dipersenjatai dengan arsip-arsip luar biasa dari Chiesa, Di Pietro mulai memanggil para tersangka untuk diperiksa. Makin banyak penahanan terjadi, makin banyak pula informan yang datang untuk menyelamatkan diri sendiri. Sampai akhir Mei, sebanyak 26 pegawai tingkat kecamatan, politisi lokal, dan pengusaha sudah ditahan dan didakwa dengan tuduhan korupsi.

Sebulan kemudian jumlah orang yang ditahan membubung tinggi sampai lebih dari 40 orang. Dan yang lebih penting, penyelidikan mulai menyebar ke Roma dan kota-kota lainnya. Penggelapan pajak, pelanggaran hukum, dan sekadar kepatuhan mengisi formulir resmi merupakan hal yang rutin di Italia. Namun, ketika satu rahasia terbuka, diikuti rahasia lainnya, dan jumlah orang yang ditahan makin banyak, orang Italia tetap terpesona, dan kemudian sedih, melihat parahnya kanker korupsi yang merembes dalam kehidupan mereka.

Politisi, yang dahulu terbiasa disapa dengan penghormatan yang menjilat dalam setiap acara keramaian, tiba-tiba menghadapi publik yang secara konfrontatif menyoraki, Ladri! Ladri! (pencuri-pencuri). Para pengemudi mobil ikut menunjukkan rasa muak mereka dengan cara Italia yang indah: mereka melempar uang koin dari jendela mobil jika melewati kantor partai atau kantor pemerintah.

Setelah diumumkan bahwa Gianni De Michelis, bekas menteri luar negeri yang gendut, berada dalam pemeriksaan dengan tuduhan menyelewengkan bantuan luar negeri, ia langsung dikelilingi oleh gerombolan orang yang marah di Venice. Bekas menteri yang terkenal dengan hobi mengurus rambut ke salon dan dansa di disko-disko itu dipaksa secara tidak senonoh pergi meninggalkan Venice lewat Grand Canal. Michelis memang menolak semua tuduhan.

Di Pietro diangkat menjadi pahlawan nasional. Setiap hari jika tiba di Tribunale, ia selalu dikelilingi gerombolan wartawan maupun fotografer dan ditepuki oleh orang-orang. Namanya juga mulai muncul di kaos-kaos oblong dan disanjung-sanjung lewat tulisan grafiti di tembok-tembok kota.

Hanya 12 bulan setelah Chiesa ditemukan sedang berusaha melenyapkan uang sogokan di toilet, lebih dari 2.300 orang dari posisi tinggi di kalangan politisi Italia maupun dari dunia pengusaha berada dalam proses penyelidikan. Sebanyak 1.356 surat penahanan sudah dikeluarkan.

Bettino Craxi didesak untuk mundur setelah selama 16 tahun memimpin Partai Sosialis. Dan Giulio Andreotti, bekas negarawan terkemuka Italia, yang tujuh kali menjabat perdana menteri, juga ikut diselidiki dengan tuduhan korupsi serta hubungan dengan mafia.

Diperkirakan pembayaran uang suap di Italia mencapai sekitar 65 persen dari defisit negara. Hampir semua pemimpin industri milik negara memberi maupun menerima pembayaran gelap untuk kontrak-kontrak.

Sergia Castellari, bekas menteri yang bertanggung jawab atas perusahaan negara, ditemukan meninggal di halaman vilanya di luar pinggiran Roma bulan Februari lalu. Ia menembak dirinya sendiri dengan pistol, dan diduga sedang mabuk dengan botol wiski yang masih tersisa setengah di sebelahnya. Cek besar dari perusahaan kontraktor ditemukan di rumahnya. Castelari adalah orang kedelapan dalam pembunuhan tangentopoli, istilah yang digunakan untuk skandal penyuapan.

Industri swasta juga patut dicela karena banyak pengusaha besar yang berada dalam penyelidikan. Salvatore Ligresti, kontraktor bangunan terbesar, sedang diperiksa Di Pietro di Tribunale ketika, ironisnya, para pekerjanya sedang membereskan atap gedung miliknya untuk membangun dua tingkat tambahan.

Parlo Berlusconi, adik Silvio Berlusconi, konglomerat media, ikut ditahan. Bahkan perusahaan raksasa Fiat, yang dipimpin oleh orang terhormat Giovanni Agnelli, juga jatuh dalam tuduhan penyuapan karena dua eksekutif top Fiat ikut ditahan. Salah satu eksekutif yang ditahan adalah penjabat kepala bagian keuangan.

Tuntutan reformasi politik yang mendalam tidak bisa ditahan-tahan lagi ketika dasar kekuatan dua partai utama, Sosialis dan Kristen Demokrat, hancur lebur. Tragisnya, usaha yang sia-sia dari politisi untuk membebaskan mereka dengan mencoba memindahkan penyelidikan dari hakim kepada kepala polisi, yang ditunjuk secara politis, justru menimbulkan kegemparan orang-orang dan membuat mundurnya pemerintahan koalisi.

Di tengah-tengah semua olok-olok itu, yaitu setengah politisi terkemuka, pengusaha, dan pegawai negeri dipenjara maupun sedang diawasi dengan ketat, seorang tokoh yang sangat berpengaruh memilih berdiri menjauh dan tiba-tiba menjadi kebal.

Ia adalah Carlo De Benedetti, bos perusahaan raksasa Olivetti, yang sering dipanggil dengan sebutan l’Ingegnere, sang insinyur. Ketika ia secara terbuka dan penuh simpati menolak untuk mengakui bahwa Olivetti pernah membayar uang suap, banyak orang yang menarik napas lega. Paling tidak ada juga satu orang yang berhasil berada di luar kebusukan. Tetapi itu terjadi jauh sebelum berita burung yang mengabarkan bahwa sang insinyur juga minta bertemu dengan Di Pietro.

Aha! Italia pada masa itu ternyata tak jauh berbeda dengan Indonesia. Hampir semua yang pernah terjadi di sana, juga berlangsung di sini. Bahkan sampai ke modus, pelaku, persengkongkolan, dan pengungkapannya. Tentu saja bukan sesuatu yang membanggakan.

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apa komentar sampean setelah membaca kisah di atas?

Iklan

§ 101 Responses to Italia Pecas Ndahe

  • aRuL berkata:

    Indonesia boro2 mau bunuh diri, ngaku bersalah aja ngak mau, malah bela diri, eh malah korbanin orang lain…

  • hedi berkata:

    kameren dulu aku sempet nonton dokumenter De Benedetti di mana ya, entah History atau BBC Knowledge…lupa

  • Obi-Wan berkata:

    Mantap, Ndoro! Yang kayak gini nih bole ditiru! 😀

  • kapan indonesia bersih ndoro? saya sih pesimis soalnya mayoritas orang kita pada korup, doyan suap, menghalalkan segala cara. kalo ada duit saya mau pindah ke negeri lain aja ndoro. malu jadi orang indonesia

  • roi berkata:

    moga-moga di Indonesia bisa kaya gitu Ndoro, dan itu rasa-rasanya bisa dicapai via perjuangan on-line ya?

  • DV berkata:

    Intinya harus ada yang berani mendobrak ya, Ndoro?
    Untuk diterapkan di Indonesia, berharap ada bos sebesar bos Olliveti di sini yang berlaku sama? Ah, kata orang Jawa sih nunggu bakdho kucing :))

  • wahyu hidayat berkata:

    bukan italia yg pecah ndase..tapi Indonesia tercinta ini ndoro
    sedih….kita ga punya hakim macam Hakim Antonio Di Pietro. Yg ada malah jaksa dan kapolri yg “bahu membahu” untuk anu ndor … (tears)

  • BerryBerry berkata:

    ah ndoro, mengharap endonesia bisa seperti italy bagai jauh panggang dari api..lha , gimana tidak sang penguasa mendapat dana buat kampanye kemaren dari mana yak?..ndor, coba diulas dong ttg century gate dg jernih tanpa tedeng aling2..

  • alisyah berkata:

    Mungkin keadaan di Indonesia jauh lebih kompleks lagi, para pejabat pemerintah sudah seia sekata untuk saling tolong menolong dalam memuluskan kelihaian mereka. Mudah-mudahan keadaan yang sama (operasi tangan bersih) juga akan terjadi segera di Indonesia.

  • oglek berkata:

    apakah kita perlu melempari setiap kantor kecamatan, kantor polisi, kantor partai dll dengan koin Ndor?

  • tokoribbon.com berkata:

    Sy optimis deh, negara kita pasti masuk KELUAR dari daftar negara terkorup. Mari kita berdo’a dan berusaha…kalau bukan kita, siapa lagi?

  • ndoro, bagaimana kah kita membuka bokor kita sendiri, menelanjangi diri kita, saudara kita, tetangga kita, orang tua kita.

    bagaimana carut marut negeri ini kita bongkar, kepala sekolah yg jadi kepala setelah bayar upeti sama kepala dinas, pns yg nyuap baru bisa lolos, tni dan polisi naik jabatan karena uang …

    ah ndoro, saya tak mampu berkata itu

  • caktopan berkata:

    materi yang maknyuss, ndoro…
    ada mirip2nya ama indonesia sekarang. tinggal tunggu cerita akhirnya…

  • didut berkata:

    menunggu pemimpin yg cukup provokatif utk melakukan hal yg sama, harapan minimnya sih KPK dpt terbukti tdk bersalah dan melanjutkan taringnya

  • si bloon berkata:

    jadi ingat waktu baca bukunya pak Robby Dhojan.

    “The Art of Turn Around”

    Saat dia menyelamatkan garuda dari krisis KKN. mungkin Garuda saat itu menjadi sample kecil italia saat itu.

    Pertanyaannya apakah Antonio Di Pietro versi Indonesia sudah Muncul?
    Dan Apakah ada Robby Djohan versi negarawan sudah muncul?

  • sawung berkata:

    di indonesia hakimnya dah gak ada ndor. hakim idealis rekrutan jaman soekarno udah pada pensiun

  • raynia berkata:

    Mantap Ndoro, sambil sarapan pagi dan berkhayal akan seperti apakah ending cerita dari semua kekisruhan ini..

  • burungtungku berkata:

    [bertanya]..apakah ada kecurigaan Century Gate sama Partai berkuasa saat ini??

  • Vavai berkata:

    Artikel yang sangat menarik, Ndoro. Kita mungkin hanya bisa berharap ada orang yang sebelum mati mau memberikan jasa baiknya untuk bangsa dan negara. Daripada mati tidak terhormat, membawa beban dan nama buruk kan jauh lebih baik mati dengan meninggalkan jejak kepahlawanan.

    Bolehlah orang memainkan sistem, toh ada saatnya ia yang dimakan oleh sistem.

  • bangsari berkata:

    endonesia, endonesia. mumet!

  • jarwadi berkata:

    jadi mereka mereka itu tidak perlu mengundurkan diri; cukup sekali bunuh diri saja; jangan dua kali 😀

  • Roy Rendra berkata:

    mari kita menjadi “Di Pietro”2 kecil di indonesia…..

  • bakulrujak berkata:

    orang indonesia kan bangga bisa korupsi.
    emang dikiranya korupsi gak butuh skill apa?
    hehehe

  • Mbah Jiwo berkata:

    sbenarnya ada contoh juga dari sistem hukum ISLAM. mau ndak?

  • borsalino berkata:

    mari kita mulai dari diri sendiri …
    sebagai pelajar dan mahasiswa : coba untuk tidak mencontek
    sebagai masyarakat : coba untuk tidak berbagi tips dalam pengurusan KTP dan SIM

  • anto berkata:

    Jalan ceritanya sama.Hasilny…..( sejauh ini ) masih beda bgt.

  • Chic berkata:

    ah inget diskusi kapan tauh sama si klien asal Italy itu. Lulusan Hukum Politik yang sama sekali tidak tertarik menggunakan ilmunya karena sebal sama pemerintahannya sendiri, malah sempet jadi DJ sebelum akhirnya dipaksa si kakek nerusin usaha keluarga. 😆 Ya ya, pernah dapet cerita ini lengkap dari si klien, dan katanya sih sampe sekarang belum bener-bener bersih juga pemerintahannya.. :mrgreen:

  • badr berkata:

    di kita azasnya praduga tak bersalah sih
    apa harus ada omelet eh revolusi dulu ya ndoro

  • Bodrox berkata:

    Mungkin benar, orang indonesia mesti belajar dari italia. Yup, kirimkan tim primavera aja buat belajar bersihin korupsi.. Tapi dana proyeknya jangan dikorup ya.

  • rental mobil berkata:

    patut di contoh tapi apa bisa diterapkan di Indonesia ???

  • padmanegara berkata:

    Indonesia, what a shame, meskipun di depan publik disuruh bersumpah tidak melakukan korupsi pun pasti mau, karena sumpahnya sumpah palsu, hanya menyelamatkan mukanya saja..

  • saya sih nunggu orang yang bakal nulis seperti artikel di atas itu ndor..

    siapa ya, kira2? tapi eh.. perkaranya sendiri kapan kelarnya, ya?

  • pakde Cholik berkata:

    Kalau mundur mungkin ndoro tapi kalau bunuh diri mungkin langka.
    Lagian nggak boleh kok bunuh diri,mendingan hidup bisa tibat dan memoerbaiki diri sebelum mati.
    salam hangat dari Surabaya

  • abu hisyam berkata:

    panjang amat artikelnya,hebat nulisnya

  • ocha berkata:

    kalau mental orang Indonesia itu sporitf, mungkin bisa, pakdhe… 😀

  • toko barcode berkata:

    dalam sejarah Indonesia rasa-rasanya belum pernah ada Pejabat Tinggi yang mau berbesar hati mundur sebelum dimundurkan paksa, Mbak kung Harto dulu ya di geruduk rame2 akhirnya mundur, masa’ seh semua harus pake people power untuk memaksa mundur orang-orang yang salah dan terbukti bersalah. Mungkin karena kebanyakan makan ” jangan bung (sayur rebung/ bambu) sehingga wajahnya jadi rai gedhek alias nggak tau malu. cape” deh………

  • bunebinar berkata:

    dicari 1000 di pietro untuk indonesia!

  • tukangpoto berkata:

    Saya kehabisan kata-kata, yang jelas keadilan akan datang pada setiap insan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, cepat atau lambat…( yakin )

  • zulhaq berkata:

    indonesia kapan yah, terbebas dari korup korup ituh 🙂

  • mesinitsteam berkata:

    apa bisa indonesia kayak itali

  • ruanghatiberbagi berkata:

    abot duwite timbang isine, (berat uang-nya dari pada malunya)

  • mare berkata:

    kapan yah bisa korupsi juga ?

  • kenyo berkata:

    lobby dan upeti ooooh jagonyaaaa….

  • Fikri Rasyid berkata:

    Komentar saya sederhana ndoro: bagaimana kondisi Italia sekarang, 19 tahun setelah insiden itu?

  • Indonesia harus bisa seperti Italy

  • encrottt berkata:

    boro boro ngaku salah….
    mending nangis tersedu2x…
    trus bayar tv buat liput keluarganya… wkwkkwkwkwkwkw… untuk cari simpati.. mana mungkin sih keluarga yg alim soleh begitu melakukan tindakan seperti itu…

    wkwkkkkwkww…. ini bukti kuatnya korupsi….

  • a'ak budi berkata:

    salam kenal pak ndahe

  • Bocah berkata:

    Bersyukur Ndoro, ternyata bukan cuma di Indonesia. Jadi kita kagak perlu malu, cukup bilang: tuh di Italia juga ada.

  • yans'dalamjeda' berkata:

    Wah…berarti Indonesia masih lebih unggul?! Wabah korupsi di Italia terjadi 1990 an, barangkali sekarang udah tak tersisa. Sementara sebelum 1990 an kekayaan Indonesia sudah dikorupsi. samapi malah marak dan semakin mewabah!
    tentu bukan suatu kebanggaan persis yang ndoro bilang!

  • DanielDPK berkata:

    kalo saja dinegeri ndorokakung ada banyak pejabatyang punya malu mungkin akan bisa bersih negara ini..jadi ingat joke jawa karena banyak pejabat dari kecil yang makan rebung (bambu anakan),makanya pas udah gede pada gak tahu malu alias “rai gedhek”…

  • Yudex berkata:

    kalo di Italia, mafia-mafia korupsi kaya gitu biasanya sih keren-keren, lha kalo di Indonesia, gak keren sama sekali…

    sangat-sangat gak elegan.

  • ndoro berkata:

    gimana indonesia mo bersih, udah bagus-bagus dipel malah disiram tahi… hahahaha

  • eko berkata:

    Sejarah selalu berulang. Kalo dulu Italia bisa bersih dari korupsi berharaplah sejarah tersebut berulang di Endonesa, saat ini, sekarang juga…..

  • Santoz berkata:

    Indonesia masih mimpi dengan pejabat2nya yg sangat korup..

  • dobelden berkata:

    menjelang iduladha saatnya memperbanyak nyari kambing hitam 😀

  • ada baiknya indonesia pecas ndahe, biar kapok semuanya…

  • Arema berkata:

    Saya kagum kang, Di Peitro kok masih bisa selamet, nda dibunuh, nda dikriminalisasiken walopun uda berani lantjang.
    Untuk kasus kita yang di Endonesa, saya rasa kalo Bank Century itu dibedah dah oleh KPK, maka akan banyak sekali yg terseret. Saya yakin banyak menteri dan pejabat, terutama yang berhubungan dengan pencairan dana 6.7 Trilyon itu akan terseret. Belum lagi kalo udah menyangkut dana sumbangan kampanye….
    Walah ngeri kang. Kapan negeri ini bisa maju kalo mau bersih aja susah?
    Saya juga agak kecewa dengan Pak SBY yang tidak segera menindaklanjuti rekomendasi dari tim 8 bentukannya sendiri. Atau jangan-jangan tim 8 cuma dibentuk untuk meredakan amarah masyarakat saja.

  • Dion berkata:

    Wah gerakan melempar uang receh didepan kantor Institusi yang bermasalah mungkin bisa di mulai nih Ndor.. rame kali yaa, hasilnya disumbangkan ke yayasan sosial..

  • ananta berkata:

    tulisan jurnalistik Russel Miller itu, diterjemahkan sendiri ya, ndoro. just feel curious about it.

  • abu salam berkata:

    Memang hanya kebersihan yang akan membawa kesehatan ndoro … bersih dari korupsi ya sehat jasmani dan ruhani, tapi lihat aja yang banyak korupsinya, tua sakit-sakitan mati aja susah dan keluarganya berantakan … kita doakan saja yang pada korupsi segera sadar kalo uang korupsi ga bisa dibawa mati buat nyuap malaikat munkar dan nakir ndoro …

  • sugeng berkata:

    Komentarku adalah “sebelum cicak ditelan hidup2 oleh para buaya, mari kita dukung dan hempaskan buaya ke dalam kandangnya !!”.

  • Soal chiesa rasanya bisa dikaitkan dengan ‘anggora’ aku tau tuh praktek dia dahulu. tau dari pacarku. ndoro mau tau juga 🙂 mungkin bisa membantu KPK

  • rendi berkata:

    koruptor2 di indonesia dah pada gak tau malu semua..
    lebih pas klo hukuman mati buat para koruptor diterapkan di Indonesia..biar pada tau rasa.

  • hanny berkata:

    bisa, indonesia bisa bersih, asal kita nggak putus asa dan nerima-nerima aja dengan keadaan yang ada.

  • Herman RH berkata:

    Kita juga bisa bersih. Apalagi biangnya (suharto) sudah lengser ke mana tau. Permasalahannya tinggal satu, yaitu budaya malu. Kalau kita tanya ke turis2, atau orang2 asing mereka bilang orang Indonesia itu pemalu sama orang asing. Tapi kayaknya ga malu sama uang, embat coy

  • Ali Zainal Abidin berkata:

    klo meletakkan jabatan karena tanggung jawab moral bisa ditiru, tapi klo mampu yach sampai selesai nyelesaikan tanggung jawabnya, bukannya malah lari, klo bunuh diri itu cuma orang2 bodoh yg pingin ikut niru.

  • si bodoh berkata:

    Harus ada Di Pietro ato judge bao yang berani mendobrak lingkaran setan korupsi. Minimal pimpinan negara harus tegas berkomitmen meneggakkan hukum dan melakukan operasi tangan bersih seperti di Italia.

  • simbah rudi berkata:

    sistem hukum di Indonesia sangat criminal friendly, ramah koruptor. Ketika seorang terindikasi melanggar hukum, maka dengan kekuatan finansial yang dimiliki, sebisa mungkin mencari alibi untuk membela diri, sukur2 sampe dibela belasan pengacara matre.
    Kapan ya di negara kita orang salah mau mengakui kesalahannya dengan jiwa besar tanpa takut opini publik yang berkembang atas dirinya, tanpa ragu menerima keputusan hukum dengan ikhlas, semata-mata menebus kesalahan yang balasannya akan diperhitungkan Tuhan di akhirat kelak.
    Pedihnya siksa neraka Tuhan tidak lebih menakutkan daripada hilangnya kekuasaan, kedudukan, pangkat, harta dan kebebasan hidup di dunia.

    pripun meniko ndoro?

  • simbah rudi berkata:

    Ketuhanan Yang Maha Esa telah tergantikan dengan Keuangan Yang Maha Kuasa di negeri antah berantah ini. Entahlah..

  • primacobacoba berkata:

    okok… boleh juga,mantab…

  • abee berkata:

    italia bisa, kenapa kita enggak? jangan pesimis, kisanak semuah…

  • dila berkata:

    italia emang joss…! jangan harap di kita….kage ade yang mempan strategi “noan wae” dasar muka badak lugu tapi jahat….seperti nya sudah mendarah daging…..
    harus langsung hukuman gantung,,mkn baru sadar semua…
    kasian donk rakyat kecil-kecil yang di kampung….rumah udah reot mau rubuh di huni sesak angota keluarga nya krn ga mampu bangun rumah…..anak-anak terlantar makan nasi bungkus 1 rame2….sekolah yang katanya gratis….tidak menyentuh,,,terlalu banyak birokrasinye…..
    sadarlah wahai pejabat2 kite,….kite semua masih susah…kini mulai lah dari kite sendiri tunjukkan..bahwa kita bisa hidup tanpa korupsi…

  • anne berkata:

    italia wow….good job… Indonesia…ehmmm mikir2 mau brenti korupsi..takut ga bisa ganti baclberry tiap bulan…hahaha

  • agus berkata:

    ayo semua Indonesia kita contoh italia…kapan lagi..?ampe rakyat kelaparan memberontak…?

  • ridwan berkata:

    ampe pecah ndase…..mikir para pejabat indonesia brenti korupsi and bersifat legowo mundur jika bersalah…

  • abughalib berkata:

    kunci sukses kemajuan indonesia adalah kemerdekaan yang sesungguhnya, kemerdekaan dari campur tangan bedebah asing itu yg paling penting. siapapun presidennya jika masih bernaung dibawah ketiak ame**** sampai kiamat indonesia akan tetap amburadul alias gombal…

  • azwar berkata:

    ndoro macem2 aja… engga mungkin biza meniru italy ? bikin pizza belum biza. entar penuh penjara dan kantor2 pada kosong… ck ck ck ck ck

  • hitamputih berkata:

    Tau deh kapan ini seperti italy…

  • mabukbahasa berkata:

    Indonesia pasti bisa!

    Syarat: presidennya mau gila2an membantai korupsi. Lihat Lee Kuan Yew di Singapur, Rongji di China.

    Di Italia, saya yakin ada think tank-nya, Ndoro. Personifikasi perubahan itu pasti ada pada seorang Ratu Adil yg melontarkan ide dan kenekatan. Siapakah dia?

    • Retty berkata:

      Ya mau tidak mau harus ada pemutusan akar, supaya generasi yang lebih muda tidak ikut dalam sistem…
      Setiap angkatan bisa demo, tapi begitu masuk sistem apakah mereka bisa merubahnya? Tanpa pemutusan itu, yang tidak ikut dalam sistem bisa terlempar ke luar…Kalau mampu sih seharusnya bisa, tapi mau atau tidak? Mungkin memang perlu orang berkharisma yang bisa memimpin terobosan ini…

  • cowoganteng berkata:

    yg pasti sikap cinta tanah air masih kurang. org-org di luar negeri mereka cinta tanah airnya sendiri…. Pejabat kita? org-org kita? sok-sok-an belajar di luar negeri, sok-sok-an ngomong bhs asing sok-sok-an pake produk asing… bawa ilmu dari negeri asing… tapi klo tetep tidak cinta tanah air, hasilnya NIHIL!

    apa akibat dari sok-sok-an tsb ?

    kadar kecintaan thd tanah air jadi ikut berkurang,

    hasilnya, pejabat kaga peduli lg sama rakyat, yg penting materi. lah cape-cape kuliah di negeri asing klo jadi pejabat g byk duit, makannya pada korupsi, klo ngga pun yg penting perut sendiri makmur…. dan rakyat? ah mending kerja di luar negeri.

  • chigi28 berkata:

    kalo disini bisa-bisa diakhir cerita Pahlawan kita di Pietro ikut dimunirkan ndoro kacian jadinya

  • dsusetyo berkata:

    Komentar saya ndoro: Saya yaqin dan percaya, pada akhirnya kita juga bisa memberantas korupsi di negeri kita. Tidak ada kejahatan yang abadi. Hanya waktunya yang tidak tahu, kapan?

    Yang perlu kita belajar dari kisah Itali itu adalah bagaimana bisa sang hakim begitu berani dan tidak pandang bulu.

  • dsusetyo berkata:

    Saya yaqin satu ketika korupsi juga bisa diberantas tuntas di negeri kita ini. Tinggal masalah waktu. Asal kita semua mau.

    Yang kita perlu belajar dari Itali itu kondisi apa yang bisa membuat sang hakim dapat begitu tegas dan tidak pandang bulu.

  • shita berkata:

    Kalau saja bisa di Indonesia, korupsi sudah sangat akut. Sudah gitu, ada kecenderungan menjadi era ketertutupan (misalnya: RUU Rahasia Negara masuk lagi ke daftar DPR, padahal belum diajukan sama pemerintah sebagai inisiator). Rasanya kalau bukan kiamat kecil di kalangan itu, susah mau jadi bersih. 🙂

  • dayat pribadi berkata:

    kita ngikut syp? jadi Hakim ataw koruptor atau masih kekeh jadi rakyak kecil sebagai “kekasih yg tak dianggap”…Hucksz

  • rob berkata:

    hmm bangsa kita emang gak pernah bisa memprioritaskan mana yang penting mana yang enggak. di depan depan ribut soal memberantas korupsi tapi begitu berhadapan dengan org punya duit nyalinya langsung ilang. entah ilang ato di tuker uang.
    lebih konyol lagi segrombolan orang yang ribut ribut demo soal porno aksi, inul goyang ngebor, poligami, ikutan miss universe ato enggak, dan MANOHARA … bwah!
    nurut gue ada beberapa hal yang perlu di beresin di negara kita ini dan itu butuh fokus gede banget
    1. berantas korupsi. mulai dari mana? mulai dari pimpinan tertinggi. dari ketua MPR , presiden turun sampe ke ketua RT. termasuk partai partai juga
    2. perbaiki pendidikan . caranya? bangun sekolah sekolah di setiap jarak 3 kilometer ( misalnya. perbaiki struktur penggajian guru ( jgn di korupsi … nyambung ke atas ya?)
    sekolah gratis, termasuk buku buku dan seragam ( kalo perlu gak pake seragam gak papa juga kali ya?)

    3. perbaiki enonomi negara. gimana caranya? gue gak bisa bilang banyak. tapi dengan mengurangi tunjangan DPR MPR dan walikota gubernur dan teman teman nya menjadi seperlunya saja. uang yang tersedia , bisa untuk bayar utang negara, bisa juga untuk membuka peluang kerja. cuman negara ini doang yang mendorong rakyatnya doyan mengemis dengan ngasi duit bulanan, yang di korupsi juga sih akhrinya sama petugas desa

    Indonesia itu kaya kok kata guru guru gue , kok kenyataan nya gak banget?

  • Maknya Wulung berkata:

    Semoga harapan itu ada..

  • Erenus hezekiah berkata:

    untuk apa sih
    para petinggi2 kita dipilih, seharusnya mereke itu bisa berpikir
    mereka terpilih itu untuk apa??
    apakah mereka dipilih untuk mementingkan perutnya sendiri
    atau untuk mensejahterahkan rakyat
    semoga tahun-tahun yang datang kita bisa berubah
    never give up

  • arsyadgafar berkata:

    Sebenarnya ada cara yang lebih gampang.
    Rakyat Indonesia supaya jadi koruptor semua.
    Pasti tidak ada yang miskin…he..he…he…

  • eka berkata:

    mari dukung operasi tangan bersih di indonesia.he.. kata orang tua tangan bersih itu sehat, oleh karena itu sebelum makan harus cuci tangan terlebih dahulu biar tidak jadi penyakit.hehe
    kalau sudah jadi penyakit seperti ini siapa yang bisa menyembuhkan?? pemerintahkah? hukumkah? atau sistem pemerintahannya yang harus dirubah???

  • […] dari kasus “Pemberantasan Korupsi di Italia”, setidaknya ada 3 agenda pemberantasan […]

  • tuaffi berkata:

    wew.. saya baru tahu ini. telat sekali yahh.. hehe

  • cen Indonesia kudu wani mbedhel koyo itali masalah korupsi iki…masalahe mung siji ndoro, niat po ora pemimpine?
    josss ndoro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Italia Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: