Kucing Pecas Ndahe

Januari 21, 2011 § 118 Komentar

Bagi sebagian orang, kucing itu binatang peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Tapi buat mereka yang tak suka, kucing bisa saja dianggap sebagai hewan pengganggu.

Seperti kucing di kantor saya. Hewan berkaki empat ini hilir-mudik bebas setiap hari di sekitar kantor. Mereka makan, minum, merayu pasangan, dan berkegiatan seksual tanpa malu-malu. Yah, namanya juga kucing.

Tak cuma itu. Kucing-kucing yang hidup di sekitar kantor saya pernah memicu kehebohan dan kejengkelan. Saya ingat beberapa insiden di kantor yang ditimbulkan oleh para kucing beberapa tahun yang lalu. Mereka beraksi seenaknya, mengacak-acak meja, bahkan mengencingi sepatu seorang kawan.

Insiden kucing mengencingi sepatu itu paling saya ingat karena hampir seisi kantor membicarakannya di milis internal. Judul tretnya menyeramkan, sekaligus menggelikan, PERANG MELAWAN KUCING.

Perang dipicu oleh dua ekor kucing. Mereka kami beri nama dengan anggun. Yang satu Siska — singkatan dari “sisa katering”. Kami menyebutnya begitu karena kucing betina itu memang suka menggerayangi makanan sisa katering di pabrik. Yang satu lagi namanya Katerin, ya dari asal kata “katering” itu.

Semula Siska dan Katerin kami anggap sama seperti anggota pabrik lainnya. Dia punya status dan kedudukan yang sama pula dengan para buruh. Artinya, dia boleh tinggal dan mencari makan di kantor yang sama — sampai sebelum kejadian yang menjengkelkan itu terjadi.

Insiden itu terbuka setelah seorang kawan mengirim surel (surat elektronik) ke milis. Dia mengeluh dengan sangat sopan dan halus tentang ulah kucing yang mulai mengganggu itu. Begini isi emailnya:

Dear warga pabrik penyayang kucing,
Semalam, sewaktu saya hendak mengenakan sepatu dan kaus kaki yang saya parkir di bawah meja, saya mendapati kedua item tersebut telah basah.

Setelah saya endus, ternyata keduanya basah oleh air kencing kucing. Saya yakin itu adalah air seni kucing karena berbau tidak sedap dan begitu menyengat hidung.

Kekacauan yang ditimbulkan oleh Siska, Katerin, dan anggota keluarganya tidak hanya tragedi sepatu itu saja. Saya juga sering memergoki mereka mengacak-ngacak boks katering yang masih utuh di atas meja. Selain itu beberapa waktu lalu salah satunya membombardir ruang desain dengan air seninya yang membuat awak desain bekerja dengan aroma asam kecut.

Mohon maaf kepada segenap warga pabrik penyayang kucing, tapi saya sudah tidak tahan dengan siksaan Siska CS. Mohon solusinya.

Terimakasih atas perhatiannya.

nb: Semalam saya bertemu Siska di tangga, saya lempar sepatu dia.

Terus terang saya ngakak begitu membaca suret itu. Tapi tidak dengan para buruh yang lain. Mereka kontan mengirim surel balasan sebagai reaksi spontan dan ungkapan kejengkelan sekaligus keprihatinan atas nasib Mas Jabrik. Ada yang usul agar Siska diusir, “Dikeplok pakai koran atau diguyur air,” tulis seseorang.

Ada lagi yang mengajukan usul, “Gimana kalo kita pelihara anjing aja? Dijamin si Siska dan Katerin cs akan ngeriiiiiiii dipelototin …. si doggy.”

Tapi ada juga yang membela Siska. Dia menulis begini (dengan sedikit perbaikan ejaan), “Sebagai orang yang kadang-kadang suka kucing, saya setuju pabrik dibersihkan dari hewan yang berkeliaran di dalam pabrik. Tapi, Siska dan teman-temannya itu jangan ditendangin ya….”

Aneka surel lalu berseliweran di milis. Setiap komentar menunjukkan kepribadian si penulis. Seorang buruh yang menyukai urusan keamanan, misalnya, menulis tentang buruknya sistem keamanan di pabrik sebagai pangkal soal merajalelanya para kucing.

Menurut dia, “Yang penting pengamanan di lantai satu, jadi begitu mereka masuk langsung aja diusir. Mereka biasanya masuk dari pintu samping dekat tempat absen. Dulu setahu saya sudah ada langkah pengamanan dari bagian umum dengan mengunci pintu itu tapi sekarang udah gak lagi. Malah kadang pintunya ngablak terus. Pintu lobi juga kadang ngablak. Ya jelas aja kucing jadi leluasa keluar-masuk.”

Para pecinta seni dan ilmu pengetahuan tak mau kalah. Mereka segera meriset dan mengusulkan jalan tengah dengan landasan argumen pendapat para tokoh dunia tentang kucing.

Salah seorang di antara mereka menulis, “Untuk bahan pertimbangan sebelum memutuskan nasib si Siska. Ada beberapa kutipan dan fakta tentang kucing. Hanya beberapa saja, kalau ditulis semua, butuh beberapa halaman.

“Kucing paling mungil adalah mahakarya.” — Leonardo da Vinci

“Tidak ada hadiah yang lebih agung dari rasa sayang seekor kucing.” — Charles Dickens, penulis novel terkenal sezaman Twain.

“Orang yang tidak pedulian menganggap suara berisik kucing berkelahi yang membuat jengkel. Ia salah. Yang membuat jengkel adalah tata bahasa yang dipakai kucing.” — Mark Twain, penulis terbesar abad ke-19.

“Jika manusia dikawinsilangkan dengan kucing, kualitas manusia akan meningkat tapi kualitas kucing menurun.” — Mark Twain.

“Saya tak pernah paham mengapa perempuan bisa mencintai kucing. Kucing itu suka kebebasan, tidak suka mendengarkan, cuek jika dipanggil, suka keluar malam, dan kalaupun di rumah lebih suka sendirian atau tidur. Dengan kata lain, kucing memiliki semua kebiasaan laki-laki yang dibenci perempuan, tapi perempuan tetap mencintai kucing.” — Jay Leno, komedian.

“Kalau saja saya bisa menulis semisterius kucing.” — Edgar Allan Poe, penulis cerita misteri.

Julius Caesar si penakluk dan Napoleon si penakluk Eropa memiliki “aelurophobia” alias takut kucing.Adolf Hitler, yang dikenal keji, benci kucing. Nama lain yang benci kucing: Jengis Khan dan Alexander the Great.

Sebaliknya Florence Nightingale, perempuan obsesi menolong korban perang ditiru Palang Merah, memiliki lebih dari 60 kucing selama ia hidup. Nama lain yang sayang kucing adalah Sir Winston Churcill, Abraham Lincoln, dan — setiap muslim pasti tahu: Nabi Muhammad.

Saat Ronald Reagan menjadi Gubernur California, ia menandatangani Perda yang melarang orang menendang kucing.

Sir Isaac Newton, penemu teori gravitasi, juga menemukan pintu kecil untuk kucing agar para kucing di rumahnya bisa keluar masuk rumah dengan gampang.

Saya jadi mikir, ini milis atau ensiklopedia ya? Eh, rupanya polemik kucing belum berhenti. Seorang sekretaris memberi nasihat lewat sebuah surel yang isinya:

Untuk penggemar kucing dan kelompok anti kucing. Setelah membaca beberapa kutipan penting tentang kucing, diusulkan agar para kucing hanya dapat berkeliaran sejauh mengikuti syarat yang sesuai dengan kutipan tokoh-tokoh dunia sebagai berikut:

1. Kucing yang direkrut untuk berkeliaran harus bertubuh mungil.
2. Punya rasa sayang, terutama terhadap pemilik kaos kaki yang keleweran dan tentu harus tahu kaos kaki itu bukan untuk dikencingi.
3. Kucing harus memiliki tatabahasa yang baik, agar pada saat berkelahi karyawan hanya mendengar bahasa dan suara-suara yang mudah dimengerti. Redaktur Bahasa perlu sekali-kali mengoreksi bahasa perkelahian mereka.
4. Para kucing harus bisa menulis artikel (jangan hanya cerita misteri). Lumayan kan buat temen pas deadline.
5. Kucing harus dilengkapi dengan pelindung tubuh dan helm supaya tidak cedera sewaktu-waktu ditendang oleh kelompok antikucing.
6. Kucing harus memakai pampers, supaya tidak kencing sembarangan.
7. Bagi yang akan menjalankan kawin silang dan mencintai kucing, harus dianggap sebagai masalah intern dan bisa berkonsultasi dengan SDM.

Mudah-mudahan persyaratan ini bisa memfasilitasi semua pihak yang berhubungan dan antikucing.

Salam.

Kenangan tentang perang melawan kucing itu tiba-tiba membuat saya merasa begitu beruntung bekerja di kantor ini.

>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah sampean suka kucing?

Iklan

§ 118 Responses to Kucing Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kucing Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: