Museum Pecas Ndahe

November 3, 2014 § 27 Komentar

Philips adalah cerita tentang kerja keras, keuletan, dan inovasi tanpa henti. Saya melihat jejak cerita itu di kota kelahirannya Eindhoven, Belanda.

Eindhoven, menurut Wikipedia, luasnya sekitar 88 kilometer persegi dan populasinya 213.809 jiwa (1 Januari 2010), menjadikannya sebagai kota terbesar kelima di Belanda dan terbesar di Provinsi Brabant Utara.

Akhir September lalu saya terbang ke Eindhoven atas undangan PT Philips Indonesia. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Negeri Kincir Angin.

Terus terang saya penasaran ingin melihat langsung seperti apa wajah kota yang melahirkan perusahaan kelas dunia. Saya juga ingin merasakan setiap denyut aktivitas kota yang memiliki klub sepakbola masyhur PSV Eindhoven itu.

Rasa penasaran saya terjawab setelah saya memasuki kota yang jauhnya sekitar dua jam perjalanan naik bus mini dari Amsterdam. Eindhoven berada di bagian selatan Belanda.

Saat itu hari Minggu. Masih pagi, sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Angin musim gugur mengelus kulit. Saya melihat papan digital pengukur suhu di pinggir jalan menunjukkan angka 12 derajat Celsius.

Hmmm … waktunya minum kopi.

Hotel tempat saya menginap berada persis di jantung kota Eindhoven. Semula saya mengira pusat kota adalah wilayah yang ramai. Tapi ternyata di Minggu pagi itu suasananya masih sepi. Warga kota tampaknya lebih memilih meringkuk di rumah daripada berkeliaran di jalan. Hanya satu dua orang terlihat joging di trotoar.

Sesekali terdengar bunyi bel sepeda yang dikayuh pengendaranya melaju bersicepat dengan angin. Mobil pribadi dan bus angkutan umum pun jarang lewat.

Kota yang senyap, saya membatin.

Saya menuliskan status itu di Path. Dan tak berapa lama seorang teman berkomentar dengan agak meledek, “Ngapain jauh-jauh ke udik, Ndor? Sini ke Amsterdam saja.”

Saya tersenyum membaca komentar itu. Tapi saya justru merasa beruntung. Kota yang sepi terasa lebih nyaman. Apalagi buat orang seperti saya yang baru datang dari kota metropolitan yang sibuk dan nyaris tak pernah tidur, Jakarta.

Tapi Jakarta tak punya Philips, perusahaan elektronik yang pernah membuat Eindhoven pernah begitu riuh. Di kota kecil inilah Keluarga Philips memulai perjalanan usaha yang kelak ditulis dengan tinta emas dalam buku sejarah.

Keluarga Philips terdiri dari Frederik Philips (ayah), Gerhard (sulung), dan Anton (bungsu). Sang ayah adalah pedagang tembakau, pemilik pabrik rokok dan sebuah bank kecil. Dialah penyokong utama modal awal perusahaan.

Gerhard adalah inovator dalam keluarga itu, orang yang menciptakan produk-produk Philips. Sedangkan Anton adalah pemasar yang menjual penemuan-penemuan kakaknya ke pasar.

Keluarga inilah yang bahu-membahu membangun Koninklijke Philips Electronics N.V. atau Royal Dutch Philips Electronics Ltd. Masing-masing memainkan peran sesuai latar belakangnya secara kompak untuk membesarkan perusahaan yang kelak terkenal di seluruh dunia.

Berdiri pada 1891, pada awalnya bisnis Philips sebenarnya susah-payah. Sampai kemudian Anton masuk dan mengelola penjualan produk Philips hingga mencapai masa keemasan.

Saya melihat jejak sejarah panjang mereka di Museum Philips yang berada di seberang hotel tempat saya menginap. Museum itu dulunya adalah bengkel pertama Philips, tempat Gerhard bekerja dan menciptakan bola lampu pijar yang legendaris.

Sekarang bangunannya tentu saja sudah berubah menjadi lebih modern. Bangunannya terdiri dari dua lantai, dilapisi oleh dinding kaca. Dan bengkel pertama itu berada di bagian tengah museum.

Terus terang saya takjub melihat tempat kelahiran Philips. Seperti yang terlihat dalam video ini, bengkel pertama Philips tak terlalu luas, kurang lebih seukuran lapangan basket.

Di dalamnya penuh dengan perkakas yang terletak di atas meja kerja dan almari kaca tempat menyimpan produk-produk Gerard. Siapa sangka, dari bengkel sederhana itu lahir inovasi-inovasi yang melambungkan nama Philips ke pentas dunia.

Di ruang lain museum yang nyaman itu, saya menemukan benda-benda yang akrab dengan masa kecil saya dulu. Ada walkman, kaset, radio 2 band, dan sebagainya. Benda-benda itu sekarang sudah jadi vintage, koleksi para penggemar benda kuno.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Anak-anak sekarang mungkin asing dengan barang-barang elektronik semacam itu. Tapi justru produk klasik seperti itulah yang pernah mengantarkan Philips ke masa kejayaannya.

Pada masa sebelum dan sesudah Perang Dunia II, bisnis Philips mengalami pasang-surut. Pada awal 2013, Philips Electronics terpaksa mengakhiri sejarah panjangnya sebagai perusahaan produk elektronik. Mereka menjual seluruh bisnis elektronik kepada Funai Electric dari Jepang. Philips kini fokus pada bisnis produk-produk lampu dan peralatan medis.

Di museum Philips itu, saya seperti terlempar ke masa silam dan membayangkan sosok Gerhard sedang sibuk di meja kerjanya dengan bola-bola lampu pijar yang kelak menerangi seluruh dunia dan mengharumkan nama keluarganya.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apa yang terlintas di benak sampean setiap kali mendengar kata Philips?

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 27 Responses to Museum Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Museum Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: