Kunang-kunang Pecas Ndahe

April 4, 2017 § 22 Komentar

Kapan terakhir kamu melihat kunang-kunang? Di mana?

Pertanyaan ini saya ajukan di Twitter, Path, dan Facebook, pagi ini. Jawabannya beragam, ada yang serius, ada pula yang bercanda.

firefly_glow.jpg.560x0_q80_crop-smart

Foto pinjam dari situs Mother Nature Network.

Seperti apa jawaban-jawaban itu? 

Salah satu pengikut di Twitter menjawab begini,

Saya tak tahu berapa usianya sekarang, mungkin 20-an tahun. Berarti sudah lama sekali dia tak melihat kunang-kunang.

Yang lain menjawab seperti ini,

https://twitter.com/fusiontea/status/849103452743507968

https://twitter.com/slmsv/status/849104749655760898

https://twitter.com/achannarizqi/status/849106298876461057

https://twitter.com/btsrgr/status/849109699693649920

https://twitter.com/trijayanti93/status/849124244793434112

Mengapa kita jarang melihat kunang-kunang, terutama di kota besar seperti Jakarta?

Berarti ada kemungkinan kunang-kunang menyingkir dari kota-kota karena tak sanggup hidup dikepung polusi. Bagaimana anak-anak kota kelak mengenal kunang-kunang?

Mungkin generasi urban mendatang hanya akan mengenal kunang-kunang dari buku biologi, video di Youtube, bukan bertemu langsung di alam.

Apakah ini menyedihkan atau sesuatu yang normal dan wajar karena hidup terus berubah. Yang dulu ada, kelak bakal tiada. Bukankah semua di dunia ini fana?

Entah, saya tak tahu. Tetapi saya merasa bahwa hidup ini tak melulu soal pilkada yang hari-hari ini menyita perhatian masyarakat. Ada banyak hal lain, seperti kunang-kunang, kupu-kupu, gelatik, tonggeret, jangkrik dan sebagainya. Sayang kita tak selalu punya waktu memedulikan banyak hal, termasuk mengapa kunang-kunang menyala seperti tertulis di situs  Mother Nature Network.

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Kapan sampean terakhir memegang kunang-kunang?

§ 22 Responses to Kunang-kunang Pecas Ndahe

Tinggalkan komentar

What’s this?

You are currently reading Kunang-kunang Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta