Jangan biarkan anak-anak dilibas hoaks

Januari 13, 2023 § Tinggalkan komentar

Cerita hari ke-13.

Hari ini saya akan bercerita tentang sebuah artikel di laman The New York Times. Artikel tersebut mengisahkan bagaimana Finlandia mengajari anak-anak sekolah tentang literasi media.

Bagaimana caranya?

Di kelas 8, misalnya, seorang guru mengajak anak-anak membuka sebuah artikel media. Guru lalu mengajak anak-anak membahas apa tujuan artikel tersebut ditulis, kapan dan bagaimana artikel ditulis, dan apa saja klaim utama yang diajukan penulisnya.

Pada kesempatan lain, guru itu menunjukkan tiga video di TikTok. Ia meminta anak-anak berdiskusi mengenai motivasi si kreator membuat video itu dan dampaknya bagi para siswa.

Dengan cara seperti itu, anak sekolah diajak mengenal apa itu media, konten, dan informasi palsu.

Finlandia memang dikenal negara nomor 1 dari 41 negara di Eropa dalam melawan hoaks. Jangan dibandingkan dengan negara kita.

Posisi itu dicapai bukan hanya karena sistem pendidikan di Finlandia merupakan salah satu yang terbaik di dunia, tapi juga karena para pendidik di sana mempunyai kepedulian yang besar terhadap hoaks. Literasi media merupakan salah satu inti kurikulum di tingkat pendidikan dasar.

Indonesia tentu bisa seperti Finlandia. Kenapa tidak? Tantangannya adalah bagaimana mengenalkan literasi media kepada anak sekolah.

Saya pun bertanya kepada ChatGpt bagaimana memberikan literasi media untuk anak sekolah?

Begini jawabannya:

Untuk memberikan literasi media untuk anak sekolah, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:

Memberikan pendidikan tentang media: Anak-anak perlu diajarkan tentang cara kerja media, seperti bagaimana berita dibuat, dan bagaimana interpretasi subjektif dapat mempengaruhi apa yang kita lihat atau dengar.

Mendorong sikap kritis: Anak-anak harus diajarkan untuk menganalisis dan mengevaluasi sumber-sumber media yang mereka gunakan, dan untuk mempertanyakan keabsahan informasi yang mereka dapatkan.

Menggunakan beragam sumber: Anak-anak harus diajarkan untuk mencari informasi dari beragam sumber untuk mendapatkan pandangan yang beragam dan untuk mengecek keabsahan informasi.

Membuat media: Anak-anak harus diajarkan cara membuat media, seperti menulis artikel atau membuat video, sehingga mereka dapat memahami bagaimana media dibuat dan diinterpretasikan.

Mempromosikan kebiasaan positif: Anak-anak harus didorong untuk tidak terlalu banyak menonton atau mengakses media, dan untuk mencari kegiatan yang produktif dan bermanfaat lainnya.

Apa saja ciri media yang baik untuk anak sekolah?

Beberapa ciri media yang baik untuk anak sekolah antara lain:

Informasi yang diberikan akurat dan valid: Media harus memberikan informasi yang benar, dapat dipertanggungjawabkan, dan didukung oleh bukti yang kuat.

Konteks yang sesuai dengan umur: Media harus sesuai dengan tingkat pemahaman dan perkembangan anak-anak, dan harus menyajikan informasi dalam bentuk yang mudah dipahami.

Berkontribusi positif bagi perkembangan: Media harus memberikan konten yang bermanfaat bagi perkembangan anak-anak, baik secara intelektual, emosional, maupun sosial.

Kekayaan konten: Media yang baik akan menyediakan banyak konten yang berkualitas dan menarik, sehingga anak-anak dapat belajar dan bermain dalam lingkungan yang positif dan menyenangkan.

Sesuai dengan norma dan nilai-nilai: Media harus memperlihatkan norma dan nilai-nilai yang positif, yang dapat mendukung perkembangan anak-anak secara moral dan etis.

Apa ciri-ciri media yang tidak pantas untuk anak sekolah?

Beberapa ciri media yang tidak pantas untuk anak sekolah antara lain:

Konten yang tidak sesuai dengan umur: Media yang tidak sesuai dengan umur anak-anak, seperti konten yang terlalu dalam atau konten yang terlalu menantang, dapat merusak perkembangan anak-anak.

Konten yang tidak aman: Media yang menyajikan konten yang tidak aman, seperti konten yang mempromosikan kekerasan, konten yang menjijikan, atau konten yang dapat menyebabkan trauma, tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak.

Konten yang salah arah: Media yang mempromosikan norma dan nilai-nilai yang salah, seperti rasisme, diskriminasi, atau perilaku yang merugikan, tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak.

Konten yang tidak baik untuk perkembangan: Media yang memberikan konten yang tidak baik untuk perkembangan anak-anak, baik secara intelektual, emosional, maupun sosial, harus dihindari.

Konten yang menyesatkan: Media yang menyediakan informasi yang salah atau tidak dapat dipertanggung jawabkan, yang dapat menyesatkan anak-anak dan mempengaruhi pandangan mereka secara negatif, harus dihindari.

Apa yang harus dilakukan media untuk memberikan literasi media kepada anak sekolah?

Untuk memberikan literasi media kepada anak sekolah, media dapat melakukan beberapa hal:

Membuat konten yang informatif, akurat, dan objektif: Media harus menyajikan informasi yang benar dan dapat dipercaya, sehingga anak-anak dapat belajar untuk membedakan antara fakta dan opini.

Menyediakan pendidikan media: Media dapat menyediakan program pendidikan atau aktivitas yang didesain khusus untuk membantu anak-anak belajar tentang media dan bagaimana menggunakannya dengan bijak.

Menyediakan sumber-sumber belajar: Media dapat menyediakan sumber-sumber belajar seperti buku, artikel, atau video pendidikan yang berkaitan dengan literasi media.

Bekerja sama dengan sekolah: Media dapat bekerja sama dengan sekolah dalam menyediakan pendidikan media dan literasi media kepada anak-anak.

Menjadi contoh yang baik: Media harus menjadi contoh yang baik dalam menyajikan informasi yang benar dan menghindari menyebarkan hoaks atau berita yang tidak benar.

Kisanak, apakah kita akan mampu memberikan literasi media kepada anak-anak sesuai saran Chat Gpt?

Iklan

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jangan biarkan anak-anak dilibas hoaks at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: