Ketika Sri Mulyani jadi korban media

Januari 14, 2023 § 2 Komentar

Cerita hari ke-14.

Hari ini saya akan bercerita tentang Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mendadak jadi berita di banyak media. Ia jadi berita bukan karena mengumumkan perubahan anggaran dan belanja negara, kenaikan pajak penghasilan, naiknya devisa negara, dan sejenisnya.

Ia masuk berita lantaran pernyataannya tentang anak muda. Menteri Keuangan yang tahun lalu masuk ke dalam jajaran 100 wanita berpengaruh di dunia itu disebut-sebut, dalam berbagai variasi judul berita, mengaku heran anak muda sekarang tak suka bekerja di kantor.

Judul itu tentu saja sangat menarik audiens, karena mengandung kata kunci populer: Sri Mulyani dan anak muda. Pertanyaannya: benarkah Sri Mulyani menyatakan hal itu?

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Rahayu Puspa, menjelaskan di akun Twitternya seperti ini.

 

Banyak media yang semula salah kutip lalu ramai-ramai membuat berita koreksi. Ada beberapa yang tidak.

Saya heran, mengapa jumlah media yang salah kutip atau melakukan disinformasi itu mencapai belasan atau bahkan puluhan? Ada apa dengan media dan jurnalisnya?

Gara-gara kasus ini saya jadi merasa bahwa literasi media itu penting bagi publik agar tak mudah terpengaruh berita di media.

Saya pun mengajak ChatGpt berdiskusi tentang literasi media. Ini cuplikannya.

Literasi media itu apa?

Literasi media adalah kemampuan seseorang untuk mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang diterima melalui berbagai jenis media, termasuk televisi, surat kabar, internet, dan sosial media. Ini termasuk kemampuan untuk memahami konteks, mendeteksi bias, dan mengevaluasi keabsahan informasi yang diterima. Ini juga mencakup kemampuan untuk menggunakan teknologi media dengan efektif dan bertanggung jawab.

Apakah literasi media itu penting?

Literasi media sangat penting karena kita hidup di dunia yang sangat terkoneksi dan didorong oleh informasi. Kita terus menerima informasi dari berbagai sumber melalui berbagai jenis media.

Kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang diterima melalui media sangat penting untuk membuat keputusan yang tepat, mengambil tindakan yang tepat, dan memahami isu-isu yang terjadi di sekitar kita. Literasi media juga penting untuk membantu kita memahami dan mengelola dampak media pada diri kita dan masyarakat.

Siapa yang wajib mendapatkan literasi media?

Semua orang wajib mendapatkan literasi media, karena media sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, literasi media dianggap sebagai keterampilan yang penting untuk membantu individu menjadi warga negara yang informasi dan kritis.

Apakah pemilik media, awak media, pengelola media, dan wartawan juga perlu literasi media?

Ya, pemilik media, awak media, pengelola media, dan wartawan juga perlu literasi media. Mereka merupakan pelaku utama dalam industri media dan bertanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat dan bermanfaat kepada masyarakat.

Literasi media yang baik akan membantu mereka untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan adalah benar dan dapat dipercaya, serta membantu untuk mengevaluasi sumber informasi dan menghindari propaganda atau berita palsu.

Literasi media yang baik juga akan membantu mereka untuk menyajikan informasi dengan cara yang efektif dan menghormati hak privasi dan martabat individu.

Apa faktor terpenting dalam literasi media?

Kemampuan untuk mengakses informasi: Kemampuan untuk menemukan dan mengakses informasi yang valid dan relevan melalui berbagai jenis media.

Kemampuan untuk menganalisis informasi: Kemampuan untuk mengevaluasi keabsahan, kelengkapan, dan relevansi informasi yang diterima.

Kemampuan untuk mendeteksi bias: Kemampuan untuk mengenali dan mengevaluasi pandangan yang tidak seimbang atau tidak objektif dalam informasi.

Kemampuan untuk mengevaluasi sumber: Kemampuan untuk mengevaluasi keandalan dan kredibilitas sumber informasi.

Kemampuan untuk berkomunikasi: Kemampuan untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi dengan orang lain dengan efektif menggunakan berbagai jenis media.

Kemampuan untuk mengelola media: Kemampuan untuk mengelola dampak media pada diri sendiri dan lingkungan sosial.

Kemampuan untuk menggunakan teknologi media: Kemampuan untuk menggunakan teknologi media dengan efektif dan bertanggung jawab.

Kemampuan untuk mengevaluasi informasi dalam konteks: Kemampuan untuk mengevaluasi informasi dalam konteks sejarah, budaya, sosial, dan politik.

Apa risiko bagi orang yang mengabaikan literasi media?

Orang yang mengabaikan literasi media berisiko terkena berbagai masalah, antara lain:

Kekeliruan: Tanpa kemampuan untuk mengevaluasi keabsahan informasi, orang yang kurang literasi media mungkin akan percaya pada informasi yang salah atau tidak sah.

Bias: Tanpa kemampuan untuk mendeteksi bias, orang yang kurang literasi media mungkin terpengaruh oleh pandangan yang tidak seimbang atau tidak objektif.

Kecurangan: Tanpa kemampuan untuk mengenali tanda-tanda propaganda, orang yang kurang literasi media mungkin terjebak dalam manipulasi atau penipuan.

Kemampuan untuk berkomunikasi: Orang yang kurang literasi media mungkin kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain karena kurangnya pemahaman tentang isu-isu yang terjadi di sekitar mereka.

Menjadi tidak kritis: Orang yang kurang literasi media akan cenderung untuk mengikuti arus tanpa mengevaluasi informasi yang diterima, sehingga menjadi kurang kritis.

Dampak negatif terhadap keputusan : Orang yang kurang literasi media akan cenderung membuat keputusan yang salah atau tidak tepat karena kurangnya informasi yang valid atau kurangnya kapasitas untuk mengevaluasi informasi yang diterima.

Ada beberapa saran untuk masyarakat supaya semakin melek media.

Mendapatkan beragam sumber informasi: Jangan hanya mengandalkan satu atau dua sumber saja, tapi carilah berbagai sumber yang berbeda.

Mengembangkan kemampuan analisis: Belajar untuk mengevaluasi keabsahan, kelengkapan, dan relevansi informasi yang diterima.

Mempelajari teknik deteksi bias: Belajar untuk mengenali dan mengevaluasi pandangan yang tidak seimbang atau tidak objektif dalam informasi.

Mengevaluasi sumber informasi: Belajar untuk mengevaluasi keandalan dan kredibilitas sumber informasi.

Mengembangkan kemampuan berkomunikasi: Belajar untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi dengan orang lain dengan efektif menggunakan berbagai jenis media.

Mengelola dampak media: Belajar untuk mengelola dampak media pada diri sendiri dan lingkungan sosial.

Menggunakan teknologi media secara bertanggung jawab: Belajar untuk menggunakan teknologi media dengan efektif dan bertanggung jawab.

Mengembangkan kemampuan konteks: Belajar untuk mengevaluasi informasi dalam konteks sejarah, budaya, sosial, dan politik.

Memperbanyak membaca: Banyak membaca dari berbagai sumber dan jenis media akan menambah wawasan dan meningkatkan literasi media.

Demikian Kisanak, cerita saya hari ini. Semoga tidak membuat sampean jengkel kepada media. Atau sudah?

Iklan

Tagged:

§ 2 Responses to Ketika Sri Mulyani jadi korban media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ketika Sri Mulyani jadi korban media at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: