Tak ada konten yang sepadan dengan nyawa

Januari 18, 2023 § Tinggalkan komentar

Cerita hari ke-18.

Hari ini saya akan bercerita tentang pengalaman menjadi narasumber di program Apa Kabar Pagi, TVOne, Senin, 16 Januari 2023.

Di acara itu, saya diminta membahas fenomena remaja yang meninggal karena aksi mencegat truk yang sedang melaju kencang. Aksi itu divideokan dan diunggah ke media sosial.

Kasus terakhir menimpa dua remaja di Jalan Raya Exit Tol Gunung Putri, Bogor, Sabtu (14/1/2023). Salah satu remaja tersebut tewas di tempat, karena sopir truk yang dicegat kesulitan mengerem.

Pertanyaan utama presenter adalah, mengapa remaja nekat membuat konten berbahaya sampai kehilangan nyawa?

Saya dan narasumber lainnya, Devie Rahmawati, menjawab dari berbagai sisi dan sudut pandang.

Khusus untuk keperluan blog ini, izinkan saya mengutip artikel Bimo Mahendra dalam Jurnal Visi Komunikasi Vol. 16, No. 01, Mei 2017.

Di situ dijelaskan bahwa remaja adalah suatu usia di mana seseorang tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat lebih tua, tetapi merasa sama atau paling tidak sejajar. Remaja berada di antara usia anak dan usia dewasa.

Pada fase ini, remaja dikenal dengan fase “mencari jati diri”—masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya.

Pada fase mencari jati diri inilah, para remaja kerap mengaktualisasikan diri mereka lewat aksi-aksi tertentu atau mengikuti tren. Agar ingin mendapat kebanggan, aksi tersebut direkam atau difoto, kemudian diunggah ke media sosial.

Jelas pengunggahan itu ditujukan agar disukai, disebar, dan dikomentari. Semakin banyak respons warganet terhadap postingan mereka, maka semakin kuat rasa bangga tersebut. Menjadi bahagia.

Itu semua adalah satu perwujudan eksistensi mereka ke dunia luar, ke dunia jagat maya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, eksistensi diartikan ‘hal berada’ atau ‘keberadaan’.

Dalam artikel ilmiah berjudul “Instagram sebagai Media Eksistensi Diri”, Velantin Valiant mengutip teori Frankl bahwa arti dari eksistensi diri adalah kebutuhan manusia akan arti. Individu bebas mengambil sikap untuk menemukan arti hidup sebagai bentuk eksistensi diri.

Remaja yang menahan truk demi sebuah konten sebagai salah satu cara mengekspresikan jati diri mereka ke dunia luar. Akan tetapi, mereka lupa bahwa mereka bukan spiderman yang mampu melompat menggunakan jaring yang dikeluarkan dari tangannya.

“Demi sebuah konten” adalah satu dari banyak racun dalam menggunakan media sosial. Dalam artikel Kompas, (9/10/2021), “Facebook Files Ungkap Fakta Tersembunyi Dampak Buruk Instagram pada Remaja”, menuliskan:

“Hasil survei internal Instagram yang terangkum dalam Facebook Files dapat ditarik dua aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, yaitu dampak buruk dominan yang dialami pengguna. Kedua, dampak paling berbahaya risikonya, yaitu yang dapat mengancam nyawa atau dapat memicu bunuh diri.”

Di era teknologi super cepat kini, media sosial telah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian. Rasanya belum sah beraktivitas bila dalam sehari belum mengunggah satu konten.

Semua cara akan dilakukan demi sebuah konten, sehingga, jangan heran, bila ada kelompok remaja yang mau melakukan tindakan bebal. Mereka melakukan itu demi “sebuah tren”, “sebuah konten”, dan “sebuah kebodohan”.

Lantas bagaimana sebaiknya remaja beraktivitas di media sosial supaya tidak sekadar ikut tren, demi konten, dan menjadi bodoh?

Menurut ChatGpt, remaja sebaiknya menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk berperilaku baik di media sosial antara lain :

Jangan berbagi informasi pribadi yang tidak perlu atau yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain.

Hindari posting konten yang negatif atau menyakiti orang lain, seperti merundung, mengejek, atau menyebar fitnah.

Hindari mengambil atau membagikan gambar atau video tanpa izin dari orang yang terlibat.

Jangan mengambil atau membagikan gambar atau video yang mengandung konten yang tidak pantas atau melanggar hukum.

Jangan mengambil atau membagikan gambar atau video yang mengandung konten yang melanggar hak cipta.

Jangan mengambil atau membagikan gambar atau video yang mengandung konten yang merugikan orang lain.

Hindari membuat akun palsu atau menyamar sebagai orang lain.

Jangan berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal, khususnya jika tidak diinginkan.

Jangan merespons komentar negatif atau provokatif, sebaliknya hindari dan blok jika perlu.

Jangan lupa untuk melakukan pengaturan privasi yang memadai dan selalu berhati-hati dengan siapa kita berbagi informasi.

Selalu ingat, media sosial adalah bagian dari dunia nyata, dan perilaku yang tidak baik di dunia nyata juga tidak baik di dunia maya.

Beberapa contoh aktivitas positif yang dapat dilakukan remaja di media sosial adalah :

Berbagi konten yang edukatif dan inspiratif, seperti artikel ilmiah, video tutorial, atau karya seni.

Menjadi aktif dalam komunitas yang positif, seperti komunitas olahraga, seni, atau sosial.

Menyebarluaskan informasi yang bermanfaat, seperti berita terbaru tentang virus corona, cara-cara menjaga kesehatan, dan sebagainya.

Berbagi konten yang menyenangkan, seperti musik, video lucu, atau foto-foto keluarga dan teman-teman.

Menjadi duta positif bagi lingkungan, seperti menyebarluaskan informasi tentang cara-cara menjaga lingkungan, atau mengajak teman-teman untuk ikut serta dalam aktivitas yang bermanfaat bagi lingkungan.

Menjadi aktif dalam kampanye sosial, seperti kampanye #savetheplanet, #stopbullying, atau kampanye lainnya yang positif.

Menjadi mentor bagi anak-anak yang lebih muda, dengan berbagi pengalaman dan memberikan dukungan positif.

Menjadi duta kesadaran mental, dengan berbagi tips dan trik untuk mengatasi masalah emosional, atau mengajak teman-teman untuk berbicara tentang masalah-masalah yang dihadapi.

Menjadi relawan dalam aktivitas sosial, seperti mengajar anak-anak yang kurang mampu, atau membantu orang-orang yang membutuhkan.

Menjadi aktif dalam diskusi yang positif dan konstruktif, dengan berbagi pendapat dan memberikan dukungan positif pada orang lain.

Para remaja harus terus diingatkan agar bijak saat membuat konten media sosial. Tidak ada konten yang sepadan dengan nyawa.

Setuju, Kisanak?

Iklan

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tak ada konten yang sepadan dengan nyawa at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: