Toko Pecas Ndahe
Maret 14, 2008 § 41 Komentar
Mengapa mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan terus bertumbuhan di Jakarta? Tanda-tanda kemakmuran? Pertumbuhan ekonomi yang meroket?
Saya tak tahu. Tapi, kemarin siang, di Pacific Place yang menjulang, luas, dan dingin itu, saya melihat toko-toko sepi tanpa pembeli. Tapi, tempat-tempat makan, kafe, rata-rata ramai pelanggan.
Bapak-bapak berdasi LV, ibu-ibu dengan tas Prada di tangan, mengudap jajanan. Sesekali terlihat mereka menyesap kopi berlogo duyung dalam bulatan hijau itu.
Saya heran, bila toko-toko baju, parfum, arloji, dan sebagainya itu tiada laku, dan itu artinya tiada pemasukan, bagaimana mereka bertahan? Bukankah menyewa lahan di dalam kompleks pertokoan mewah jelas butuh uang tak sedikit? « Read the rest of this entry »



