Prasangka Pecas Ndahe
Januari 29, 2008 § 22 Komentar
Baiklah, Nduk … Kuberi tahu sesuatu. Sejarah arti kata-kata memang bukan sejarah sebuah rencana yang disusun beres sebelum bahasa lahir.
Kata “prasangka” dan “bau”, misalnya, tak bisa dengan segera diberi arti. Kita harus menunda artinya sebelum kita tahu di mana ia terletak dan bagaimana hubungannya dengan kata yang lain — dan bagaimana pula situasi si pembicara dan si penerima.
Sebab, kata memang senantiasa bergerak antara kamus dan konteks. Ia terus-menerus berada dalam keadaan yang tak stabil dan tak 100 persen pasti. « Read the rest of this entry »
Kepalsuan Pecas Ndahe
Januari 28, 2008 § 47 Komentar
Sepanjang hari kemarin, juga hari ini, rakyat Indonesia disuguhi tayangan yang nyaris seragam di televisi. Sebuah in memoriam. Sebuah obituari. Sekilas sejarah perjalanan sosok seorang Soeharto yang wafat kemarin.
Tiba-tiba pikiran saya terganggu oleh aneka pertanyaan. Kenapa sejarah sering terasa palsu di Indonesia ini? Apakah karena kita adalah orang-orang yang “secara liar tak tahu dan tak toleran” kepada “kebenaran sejarah”?
Dari mana gerangan datangnya semangat penulisan sejarah seperti ini? Dan kenapa orang mau menulis sejarah yang palsu? « Read the rest of this entry »
Seragam Pecas Ndahe
Januari 27, 2008 § 53 Komentar
Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan presiden Soeharto pergi untuk selamanya hari ini pada 13.10 WIB. Tapi, bahkan setelah meninggal pun, dia masih sanggup menyeragamkan semuanya: fokus perhatian orang, berita di media massa, obrolan di kedai-kedai.
Hari ini, apalagi besok, semua media massa tradisional memasang headline meninggalnya orang kuat dari Cendana itu. Dan beberapa hari berikutnya. Begitu pula pembicaraan orang ramai.
Dahsyat betul pengaruh dan kekuasaannya. Sebagian di antara kita mungkin masih ada yang ingat bagaimana dia begitu mendominasi semua di masa lalu. Tak ada perbedaan, tak ada keragamaan. Hanya ada satu. Yang tak setuju, silakan minggir atau dipinggirkan.
Apa lagi yang bisa dikatakan ketika kematian itu akhirnya datang? Saya jadi ingat petikan sajak Chairil Anwar yang menggetarkan itu. « Read the rest of this entry »
Kesederhanaan Pecas Ndahe
Januari 25, 2008 § 33 Komentar
Mengapa setiap kali sebuah toko menggelar sale rabat atau diskon barang-barang bermerek di Senayan City, orang berbondong-bondong datang? Mengapa kedai-kedai kopi di Plaza Senayan selalu sesak di sore hari?
Inikah yang disebut gaya hidup? Snob?
Saya ndak tahu. Tapi, oleh karenanya, saya kerap iri pada Paklik Isnogud — telaga yang tenang itu. Bagaimana mungkin di tengah arus modernisasi yang gegap gempita dengan aneka simbolnya yang mentereng, ia kalem-kalem saja?
Bagaimana mungkin ia masih bisa bertahan dengan kendesitannya di tengah deru kapitalisme, hedonisme, juga kliyeng-kliyeng itu, lengkap dengan neon sign yang berpendar-pendar? Ia tak pernah menyentuh gendul-gendul Chivas Regal, Chardonnay, Dry Gin, dan seterusnya itu.
Mengapa ia seperti tak pernah tergoda mendatangi kedai-kedai moncer dengan cangkir-cangkir kertas putih berlogo hijau isi kopi panas yang mengepul itu? Mengapa ia tetap setia pada gelas butut berisi seduhan kopi dari dapur belakang pabrik? Adakah ia seorang yang ganjil? « Read the rest of this entry »
Sisifus Pecas Ndahe
Januari 25, 2008 § 31 Komentar
Dengan kata apakah kita sebut orang yang jatuh, bangun, jatuh, bangun, dan jatuh lagi, lalu bangun lagi? Tabah? Konsisten? Penuh determinasi? Atau tolol?
Saya ndak tahu. Tapi hampir setiap hari saya melihat orang-orang seperti itu. Artis X menikah, cerai, menikah lagi, lalu cerai, menikah lagi, beberapa kali. Dan akhirnya, impian tentang keluarga yang bahagia itu tak pernah terjangkau.
Ada lagi Bapak Y yang mencoba-coba berusaha jualan, tapi bangkrut dalam sekejap. Dagang lagi, bangkrut lagi. Buka usaha baru, tutup juga. Begitu seterusnya. Dan cita-cita menjadi kaya itu terbang dibawa angin.
“Ah, mungkin karena kita kini hidup tak lepas dari dongeng Sisifus, Mas,” kata Paklik Isnogud. « Read the rest of this entry »
