Tumbal Pecas Ndahe

Februari 20, 2012 § 131 Komentar

Siapakah sesungguhnya narablog alias blogger itu? Apakah mereka yang setiap hari sekadar memproduksi isi — apa pun jenisnya — di blog bisa disebut narablog? Apakah tujuan mereka membuat blog?

Tiba-tiba pertanyaan itu menari-nari seperti kupu-kupu di pikiran saya sore ini. Saya sendiri tak tahu jawabannya. Dan saya tak mau membuat definisi yang menyesatkan.

Buat saya, narablog sejati – mereka yang memiliki blog – bisa disebut sebagai para amatir yang tekun. Mereka bukan jurnalis, atau pakar di bidang tertentu, tapi memiliki cukup pengetahuan dan pengalaman tentang informasi yang berguna buat orang lain yang hendak mencari sesuatu. Informasi itu rajin dibagikan melalui blog.

Beberapa narablog bahkan menjadikan diri sebagai penyedia informasi alternatif media tradisional. Mereka mirip sekumpulan orang yang kecewa pada konglomerasi media yang membuat informasi cenderung seragam. « Read the rest of this entry »

Pasangan Pecas Ndahe

Februari 7, 2012 § 85 Komentar

Kehebohan itu disulut oleh sebuah tanda pagar di linimasa pada pekan terakhir Januari silam. Beberapa pekicau menulis status di Twitter dengan mencantumkan #ItsAPerfectMatch.

Saking riuhnya orang menyebut, tanda pagar atawa tagar itu bahkan sempat menjadi trending topic. Situs SalingSilang mencatat tagar menghasilkan data seperti gambar di bawah ini.

data traffic itsaperfectmatch

Tapi ada apa sebenarnya di balik tanda pagar “pasangan yang sempurna” itu? « Read the rest of this entry »

Pedoman Pecas Ndahe

Februari 6, 2012 § 53 Komentar

Sejarah ditorehkan di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat, 3 Februari 2012. Dewan Pers dan komunitas pers hari itu mengesahkan Pedoman Pemberitaan Media Siber. Pedoman itu menjadi panduan untuk seluruh pengelola media siber di Indonesia.

Penyusunan Pedoman ini, kata anggota Dewan Pers Agus Sudibyo, untuk merespons perkembangan pesat media siber di Indonesia dan meningkatnya jumlah pengaduan terhadap media siber yang diterima Dewan Pers.

Adapun proses penyusunan Pedoman Pemberitaan Media Siber dimulai sejak tahun lalu. Saya juga sempat diundang satu kali dalam diskusi perumusan draft pedoman.

Dewan membuka peluang pedoman ini direvisi di masa mendatang karena media siber terus berkembang pesat. « Read the rest of this entry »

Pacar Pecas Ndahe

Februari 1, 2012 § 93 Komentar

Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.

Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.

Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.

Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.

Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.

Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui. « Read the rest of this entry »

Twitwar Pecas Ndahe

Januari 30, 2012 § 53 Komentar

TWITWAR. Saya mengenal kata itu dari linimasa di Twitter. Sampean boleh mengartikannya sebagai debat antara pengguna Twitter, boleh juga memaknainya sebagai “perang kata”.

Saya tak tahu sejak kapan dan siapa yang pertama kali melakukan twitwar. Yang saya tahu, laga ini meletup tanpa jadwal tetap. Sering kali terjadi begitu saja. Biasanya perang kata ini terjadi tanpa perjanjian, seperti kita hendak berobat ke dokter, atau memasang pengumuman seperti ujian akhir nasional.

Tapi anehnya, kabar tentang aksi seperti itu bisa dengan cepat beredar dari satu linimasa ke linimasa lain dan segera menarik perhatian para penyimaknya. Apalagi jika para pihak yang terlibat dari kalangan pesohor atau punya banyak pengikut.

Berbeda dari perang bersenjata, saya belum pernah mendengar ada korban cedera atau meninggal gara-gara twitwar. Paling banter, salah satu pihak yang terlibat segera mengunci akun atau menghilang dari linimasa. « Read the rest of this entry »