Mala Pecas Ndahe
Oktober 27, 2010 § 54 Komentar
Hari ini mestinya kita merayakan Hari Blogger Nasional dalam suasana yang meriah. Sejak 2007 lalu, ketika Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh mencanangkan hari penting itu, ranah blogger terus bergemuruh. Layak disyukuri dan dirayakan.
Tapi, apa boleh buat, bencana tengah mengoyak Republik ini. Banjir bandang di Wasior, Papua. Gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawi. Gunung Merapi meletus di Yogyakarta. Kurang elok rasanya bila di hari yang penting ini kita mengabaikan penderitaan para korban bencana, terutama di tiga lokasi berbeda itu.
Kita, para blogger, berkesempatan bergandengan tangan dan menggalang bantuan. Bisa dengan menjadi relawan dan terjun langsung ke lokasi. Bisa juga dengan mengirimkan sumbangan berbentuk barang atau uang. Mereka yang hanya memiliki kemampuan menyebarkan kebutuhan para pengungsi pun tak dilarang ikut berpartisipasi.
Pada saat seperti ini kita membutuhkan semangat kebersamaan. Blogger Unite. « Read the rest of this entry »
Melbourne Pecas Ndahe
Oktober 20, 2010 § 85 Komentar
Musim semi di Melbourne. Angin berdesir-desir dingin pagi itu ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandar udara Tullamarine, Sabtu pekan lalu. Saya naikkan kerah jaket dan bergegas menuju meja imigrasi.
“Welcome to Melbourne, Sir. Have a nice day,” petugas imigrasi itu menyapa dengan ramah.
Saya membalas dengan tersenyum dan berlalu.
Jam di atas pintu keluar menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat. Melbourne sudah sibuk. Orang lalu lalang di trotoar. Kendaraan melaju di atas jalanan beraspal yang licin. Tiba-tiba handphone saya berdering. Sebuah SMS masuk.
Ehm! Rupanya dia tahu jadwal saya. Setelah bertukar kabar, saya pun masuk kendaraan yang hendak mengantar ke arah kota Melbourne. « Read the rest of this entry »
Ahli Pecas Ndahe
Oktober 8, 2010 § 106 Komentar
Dicari: Gubernur yang mampu membenahi Jakarta!
Setiap kali hujan jatuh membasuh Jakarta, saya seperti ikut merasakan betapa kedinginannya patung-patung di sudut-sudut kota. — kecuali patung Pak Dirman yang berjas lengkap di ujung Jalan Jenderal Sudirman itu.
Dingin makin terasa kencang menggigit bila hujan menderas. Dan saya terbayang pada genangan-genangan di jalanan. Lalu kemacetan lalu lintas yang panjang. Orang-orang yang frustrasi dan mengumpat sepanjang jalan.
Jakarta pada 2010 adalah kota yang amburadul meskipun dipimpin oleh ahli tata kota lulusan Jerman: Fauzi Bowo. Ia dilantik pada 7 Oktober 2007 sebagai gubernur ibu kota negara.
Pada mulanya dia berjanji memperbaiki keadaan. Kemudian sejumlah rencana disusun rapi, dikerjakan dalam ruang yang senyap. Bahkan nyaris tak ada yang sadar apa yang sebetulnya sudah dia kerjakan untuk memoles wajah Jakarta. « Read the rest of this entry »
Refill Pecas Ndahe
Oktober 7, 2010 § 55 Komentar
Jakarta basah kuyup malam itu. Hujan jatuh luar biasa deras sejak sore. Air menciptakan genangan di mana-mana. Tak ayal, kendaraan melambat, lalu lintas pun tersendat.
Di dalam mobil, saya menengok keluar, melihat gelap yang semakin pekat. Mata saya nanar. ATM, tempat yang hendak saya tuju tak jua bertemu. Seperti ayam rabun senja, saya mencari-cari gerai ATM sebuah bank di kawasan Kebayoran.
ATM itu berada di pinggir jalan besar, persis di bawah pohon mahoni rimbun yang malam itu seperti raksasa yang tunduk oleh tumpahan air hujan. Saya harus berlari setelah menepikan mobil dan parkir agar tak basah oleh air hujan yang jatuh berderai-derai menuju bilik kaca tempat ATM berada.
Di ruang kaca itu, ada tiga ATM. Yang paling kiri untuk pecahan Rp 100 ribu dan dua mesin di sebelah kanannya untuk pecahan Rp 50 ribu. Di mesin paling kiri itulah saya melihat seorang perempuan berblazer dan pantalon hitam sedang berdiri seperti menanti sesuatu. Karena tak ingin mengganggu, saya pun memilih mesin dengan pecahan yang lebih kecil. Saya hanya ingin mengisi ulang pulsa kartu telepon yang sudah habis.
Setelah beberapa menit, saya menyelesaikan transaksi dan beranjak ke pintu keluar. Ketika itulah perempuan necis itu menoleh dan menahan langkah saya. « Read the rest of this entry »
RMS Pecas Ndahe
Oktober 5, 2010 § 56 Komentar
“Ah, RMS kan sudah tidak ada!”
Kata-kata itu keluar dari mulut Johannes H. Manuhutu, presiden pertama “Republik Maluku Selatan” atau RMS. Saya mendapatkan kisah ini dari arsip lama majalah Tempo terbitan 15 Februari 1975.
Saya publikasikan ulang di sini sebagai pengingat, setelah siang tadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba-tiba membatalkan rencana lawatan ke Belanda. Apa sebabnya?
“Karena ada pergerakan yang tuntut permasalahan Hak Asasi Manusia di Indonesia ke Pengadilan di Den Haag. “Yang tuntut organisasi yang di dalamnya ada RMS (Republik Maluku Selatan),” kata Yudhoyono seperti dikutip Tempo Interaktif.
Nama RMS mendadak disebut-sebut lagi sore ini setelah batalnya kepergian Yudhoyono ke Belanda. Siapakah gerangan RMS? Mari kita baca tulisan di Tempo itu tentang Johannes H. Manuhutu.


