Salon Pecas Ndahe

Desember 13, 2006 § 11 Komentar

Seandainya saja saya itu kirik — yang bisa baca koran — advertensi ini tentu sudah saya gunting, tempel, dan kliping. Kalau saja saya ini pitik nggaya, saya pasti sudah angkat telepon dan pesan tempat ke salon ini. Terus mbesuk-mbesuk saya juga mau mengajak Ndoro Tuan di rumah buat menemani saya ke tempat baru ini. Buat apa?

« Read the rest of this entry »

Kompas Pecas Ndahe

Desember 11, 2006 § 19 Komentar

Seorang wartawan dipecat dari Kompas. Dan keriuhan pun terjadi. Para aktivis kebebasan pers, asosiasi jurnalis, juga rekan-rekan sang korban mengecam tindakan itu. Mereka menganggap Kompas telah berlaku dengan tak semena-mena.

Suka tak suka, Kompas itu salah satu kelompok media terbesar di Tanah Air, baik secara bisnis, tiras, maupun jumlah karyawan. Tak heran bila insiden itu menjadi buah bibir, termasuk di pabrik saya.

Apa boleh buat, koran itu membuat mereka yang bekerja di industri yang sama bertanya-tanya: Mengapa hal itu bisa terjadi? Ke manakah perginya hati nurani, cita-cita, juga idealisme?

« Read the rest of this entry »

Skandal Pecas Ndahe

Desember 9, 2006 § 9 Komentar

Yahya Zaini, wakil rakyat yang ketahuan berbuat mesum dengan Maria Eva itu, akhirnya mundur dari Partai Golkar dan keluar dari gedung parlemen. Selesai sudah skandal sex, lies, and videotape itu.

Tutup buku? Eits, tunggu dulu. Lah kok enak amat? Terus terang saya getun, mangkel, kuciwa, mengetahui akhir skandal yang memalukan itu kok cuma jadi seperti ini — lah memangnya harus seperti apa ya? Ngarang deh … 🙂

Memang apalah daya saya? Siapa saya ini, Ki Sanak? Paling-paling saya cuma boleh jengkel, dan mengumpat, misuh-misuh, dalam hati. Tapi, kemangkelan ini kan tetap harus saya limpahkan supaya ndak jadi belatung di hati. Ke mana? « Read the rest of this entry »

Keinginan Pecas Ndahe

Desember 8, 2006 § 16 Komentar

.

Seorang wanita menangis di layar kaca. Matanya merah. Wajahnya sembab. Suaranya tersendat. Sambil terisak ia meminta masyarakat tak menzalimi suaminya. Ia juga minta masyarakat menghentikan pergunjingan tentang suami dan keluarganya.

Saya yang kadang-kadang merasa jadi anggota masyarakat jadi bingung. Perempuan iki sopo? Lah kok minta saya tak menzalimi suaminya. Salah apa suaminya?

Paklik Isnogud yang kebetulan lewat di dekat saya ikut berhenti dan menonton TV.

“Loh, ini kan istrinya Ndoro Wakil Rakyat sing tumpak-tumpakan sama penyanyi dangdut itu, Mas. Mosok sampean ndak ngerti?” kata Paklik. “Mau apa dia?”

« Read the rest of this entry »

Poligami Pecas Ndahe

Desember 8, 2006 § 7 Komentar

Poligami, katanya, bisa digolongkan sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena, praktek itu melanggar hak-hak seorang istri, hak-hak perempuan.

Masalahnya, dalam setiap keluarga memang selalu ada kekerasan: Dari suami kepada istrinya, istri kepada suaminya, bapak kepada anaknya, ibu kepada anaknya, atau anak kepada orang tuanya.

Saya justru menemukan ada kasus kekerasan oleh seorang kakak kandung kepada adiknya. Saya bahkan berhasil mendapatkan bukti dalam bentuk foto. Nama korban dan lokasi kejadian sengaja saya samarkan demi privasi yang bersangkutan. Ah, begitu tragis dan memilukan … « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.