Rakyat Pecas Ndahe

Desember 6, 2006 § 8 Komentar

Sampean tahu apa tentang rakyat? Ketika ada si miskin yang tergusur lumpur dan si jelata kebingungan melihat ulah para pemimpin yang semakin ndak mutu, sampean tahu apa? Apa pula yang sampean tahu tentang rakyat ketika wakilnya malah berbuat mesum?

Paklik Isnogud kaget ketika pagi itu saya memberondongnya dengan pertanyaan seperti itu. Mulutnya menganga. Alis matanya naik. “Mas, mas, sampean kenapa, Mas?”

“Ndak kenapa-kenapa kok, Paklik. Saya lagi sedih saja, bingung, setelah membaca berita-berita di koran dan televisi. Sampean mestinya rak yo mengikuti to? Apa sampean ya ndak sedih. Coba baca berita tentang wakil rakyat yang mesum itu. Coba baca berita soal dai yang mengingkari kotbahnya sendiri. Coba sampean dengar jeritan warga Sidoarjo yang ndak kunjung mendapat uang kompensasi setelah rumahnya terendam lumpur PT Lapindo itu, Paklik. Apa komentar sampean?” « Read the rest of this entry »

Gymnastiar Pecas Ndahe

Desember 3, 2006 § 37 Komentar

Dai kondang Aa Gymnastiar akhirnya mengaku punya istri muda. Dengan hati remuk, ibu-ibu pun menangis. Mereka merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini jadi idola, panutan.

Seorang wakil rakyat ketahuan berbuat mesum dengan penyanyi dangdut perempuan. Rekaman videonya beredar ke mana-mana. Dan orang ramai mengumpat-umpat. Mereka merasa tertipu — lagi.

Hari-hari ini kita membaca cerita tentang memudarnya sebuah imaji. Tentang para tokoh yang sosoknya ternyata berbeda dari yang kita bayangkan semula. Lalu orang pun mengumpat. “Ah, ternyata cuma segitu doang, sama saja dengan yang lain.”

Ki Sanak, selamat datang di dunia tempat roda terus berputar: from zero to hero, from hero to zero. « Read the rest of this entry »

Antimo Pecas Ndahe

November 30, 2006 § 11 Komentar

Seorang pemuda baru saja lulus pendidikan di Akademi Kepolisian. Saking bahagianya, di malam kelulusannya itu sang pemuda mengadakan pesta minuman bersama rekan-rekannya sampai mabuk.

Pagi harinya, tiba tiba ada panggilan dari kesatuannya untuk segera mengikuti apel bendera. Karena masih ada pengaruh minuman di kepala, polisi muda itu pun mampir ke warung dekat kantor untuk beli Antimo sebelum ikut upacara.

Pemuda : “Pak, beli Antimo.”

Warung : “Untuk apa, Pak? Bapak mau pergi jauh ya?”

Pemuda : “Oh, nggak. Saya pusing karena mabok.

Setelah minum Antimo, si pemuda pun ke kantor untuk ikut upacara. Namun, ia masih merasa mabuk dan kepalanya berat.

“Kurang ajar penjual warung itu. Katanya obat antimabuk, lah kok kepalaku masih pusing. Awas, nanti aku samperin dia sehabis upacara. Obatnya pasti palsu!”

Setelah upacara, pemuda itu pun langsung ke warung tempat beli Antimo dan ngomel-ngomel.

Pemuda : “Pak, obatnya palsu ya?”

Warung : “Emang kenapa, Pak?”

Pemuda : “Saya sudah minum 2 butir kok mabuknya nggak ilang-ilang?”

Warung : “Bapak dari Kepolisian, ya?”

Pemuda : “Iya. Emang kenapa kalau Kepolisian?”

Warung : “Pantesan ndak mempan, Pak. Lah wong Antimo itu hanya untuk Darat, Laut, dan Udara. Dari Kepolisian nggak ada, Pak.”

Pemuda : Ahgrgrrrrhhhrrrrhhhhh … @#%%#$@

Mohon maaf kepada yang pernah membaca lelucon gombal ini … 😀

Hujan Pecas Ndahe

November 30, 2006 § 19 Komentar

Hujan itu berkah atau musibah? Aha, tentu saja bisa kedua-duanya.

Hujan itu berkah bagi para petani yang sawahnya mengering. Hujan berubah jadi musibah bila membuat banjir yang menenggelamkan apa saja.

Hujan rintik-rintik, kata orang, itu romantis. Hujan lebat bikin hati miris. Hujan yang berlama-lama, kata orang Jawa, adalah criwikan sing dadi grojogan — sesuatu yang awalnya kecil berubah menjadi air bah. Pendeknya, ia ibarat dua sisi mata uang.

Sampean tentu juga kesan tersendiri dengan hujan, kan? Seperti Dewi, misalnya, yang mengaku suka mencumbui hujan. Halah. Hujan kok dicumbu? Cumbu dapur atau cumbu rujak? 😀

Tapi jangan coba tanyakan tentang hujan kepada Bulik Lita. Ia pasti akan bilang hujan itu sesuatu yang menjengkelkan bin menyebalkan.

Apa sebabnya? « Read the rest of this entry »

Gubernur Pecas Ndahe

November 28, 2006 § 8 Komentar

Sebuah peristiwa lumayan besar dan penting terjadi di Banten. Pada Minggu dua hari yang lalu, provinsi ini menggelar pemilihan kepala daerah — calon gubernur baru, Ki Sanak.

Sebentar lagi kita akan tahu siapa orangnya setelah kartu suara selesai dihitung. Tapi tetangga kiri-kanan saya kok kayaknya adem ayem ya, dan seperti tak pernah merasakan gregetnya hingga pagi ini. Apa yang salah?

Karena orang ramai ndak peduli, malas ikut coblos, atau karena hajatan itu dirasa kurang penting? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.