Ahli Pecas Ndahe
Oktober 8, 2010 § 106 Komentar
Dicari: Gubernur yang mampu membenahi Jakarta!
Setiap kali hujan jatuh membasuh Jakarta, saya seperti ikut merasakan betapa kedinginannya patung-patung di sudut-sudut kota. — kecuali patung Pak Dirman yang berjas lengkap di ujung Jalan Jenderal Sudirman itu.
Dingin makin terasa kencang menggigit bila hujan menderas. Dan saya terbayang pada genangan-genangan di jalanan. Lalu kemacetan lalu lintas yang panjang. Orang-orang yang frustrasi dan mengumpat sepanjang jalan.
Jakarta pada 2010 adalah kota yang amburadul meskipun dipimpin oleh ahli tata kota lulusan Jerman: Fauzi Bowo. Ia dilantik pada 7 Oktober 2007 sebagai gubernur ibu kota negara.
Pada mulanya dia berjanji memperbaiki keadaan. Kemudian sejumlah rencana disusun rapi, dikerjakan dalam ruang yang senyap. Bahkan nyaris tak ada yang sadar apa yang sebetulnya sudah dia kerjakan untuk memoles wajah Jakarta. « Read the rest of this entry »
RMS Pecas Ndahe
Oktober 5, 2010 § 56 Komentar
“Ah, RMS kan sudah tidak ada!”
Kata-kata itu keluar dari mulut Johannes H. Manuhutu, presiden pertama “Republik Maluku Selatan” atau RMS. Saya mendapatkan kisah ini dari arsip lama majalah Tempo terbitan 15 Februari 1975.
Saya publikasikan ulang di sini sebagai pengingat, setelah siang tadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba-tiba membatalkan rencana lawatan ke Belanda. Apa sebabnya?
“Karena ada pergerakan yang tuntut permasalahan Hak Asasi Manusia di Indonesia ke Pengadilan di Den Haag. “Yang tuntut organisasi yang di dalamnya ada RMS (Republik Maluku Selatan),” kata Yudhoyono seperti dikutip Tempo Interaktif.
Nama RMS mendadak disebut-sebut lagi sore ini setelah batalnya kepergian Yudhoyono ke Belanda. Siapakah gerangan RMS? Mari kita baca tulisan di Tempo itu tentang Johannes H. Manuhutu.
Bugil Pecas Ndahe
Agustus 31, 2010 § 186 Komentar
Sebuah SMS aneh masuk ke HP saya sore itu. Saya sebut aneh karena berasal dari nomor yang tak saya kenal. Dan isinya pun menyengat perhatian.
Begini bunyinya:
Saya heran, sejak kapan nama saya jadi Gwen? Saya pun tak punya kawan bernama Laras. Dan, ini yang penting, saya belum pernah menawari siapa pun untuk berpose tanpa busana. « Read the rest of this entry »
65 Tahun Pecas Ndahe
Agustus 17, 2010 § 73 Komentar
Bloggers, Facebookers, Tweeps, dan teman-teman sebangsa dan setanah air,
Hari ini kita memperingati 65 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Di hari yang berbahagia ini, mungkin ada baiknya kita merenungkan beberapa hal: Masih adakah yang membuat kita bangga sebagai bangsa dan negara? Mampukah kita selamat mengarungi perjalanan panjang sebuah bangsa merdeka dengan segala kemudahan dan kesukarannya?
Jika kita adalah bagian dari sebuah bangsa yang pesimistis, bisa saja kita mengatakan bahwa rasa bangga itu telah terbang bersama nilai-nilai luhur yang kita miliki. Segala macam keruwetan dan keberengsekan sama-sama kita alami hari-hari ini. Korupsi yang memboyot dan menggerus akal budi. Kekerasan yang meruyak di mana-mana. Aksi teror yang mengintip setiap saat. Kemiskinan. Kemacetan lalu lintas dan seterusnya. « Read the rest of this entry »
Perempatan Pecas Ndahe
Juli 30, 2010 § 134 Komentar
Sekali-sekali, perhatikanlah pemandangan di sebuah perempatan di Jakarta pada setiap tiap hari kerja. Ketika jarum jam mendekati titik pukul jam tujuh pagi, di perempatan mana pun, dari keempat arah, puluhan — atau ratusan — kendaraan serentak berjejal berebut di depan.
Sebuah kemacetan dahsyat pun segera tercipta. Klakson memekik-mekik. Brisik! Orang mengumpat-umpat dan berteriak-teriak. Di dalam bus-bus penumpang merengut, cemas, berkeringat. Di sedan-sedan yang bagus dan mengkilap, orang juga merengut sambil membaca koran pagi. Tapi mereka tak berkeringat. Maklum, mobil mereka dilengkapi AC dan kacanya dibalut selapis seluloid hitam untuk menahan terik matahari.
Lampu lalu lintas perempatan itu normal, ada setrumnya. Tapi rupanya orang-orang tak sabar. Juga para sepeda motor yang, seperti kuda kecil yang lapar, melontarkan diri ke depan. Lampu menyala merah di depan mereka. Tapi siapa peduli? Bukankah orang dari sebelah sana para pengguna jalan lain juga melanggarnya? « Read the rest of this entry »

