Aulia Pecas Ndahe
Desember 2, 2008 § 47 Komentar
Penjara adalah tempat di mana waktu berhenti.
Itulah kalimat Andre Malraux dalam salah satu bagian yang muram dari novel La Condition Humaine, menjelang Kyo menelan racun di lantai tahanan kaum revolusioner Tiongkok.
Di penjara, waktu memang berhenti karena masa depan telah diputuskan tak ada. Hukuman bukanlah awal suatu perubahan, atau metamorfosa, dari seorang kriminal jadi seorang warga negara yang baik. Hukuman telah jadi suatu keputusan final, seperti pepatah lama itu, sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak percaya.
Lalu apa gunanya bui? Dan kenapa selama ratusan tahun kegiatan mengurung orang itu diteruskan juga? « Read the rest of this entry »
Gantyo Pecas Ndahe
November 26, 2008 § 66 Komentar
Panggung kehidupan ternyata bukan hanya menjanjikan kejutan di setiap tikungan. Setiap lakon kehidupan juga memunculkan para pemainnya. Ada pahlawan dan pecundang, ada si miskin dan si kaya, ada penolong dan penikam dari belakang, ada Tom Sawyer dan Brutus, teman dan musuh, juga para pengeluh dan penginspirasi, dan seterusnya.
Seorang kawan lama, ya dia seorang blogger, mengingatkan saya kembali soal itu melalui tulisan-tulisannya yang sangat menggugah di blog WriteNow.
Dia Gantyo Koespradono, jurnalis senior di grup Media Indonesia. Saya beruntung pernah mengenalnya di pabrik yang sama pada sebuah masa. « Read the rest of this entry »
Syukur Pecas Ndahe
November 23, 2008 § 238 Komentar
Apa lagi yang bisa diceritakan setelah lampu-lampu padam, layar turun, dan pesta usai? Mungkin sebuah renungan. Barangkali kenangan.
Begitulah yang saya pikirkan dan rasakan ketika menulis posting ini, belasan jam setelah pelaksanaan perhelatan akbar Pesta Blogger 2008 Sabtu kemarin, di auditorium BPPT, Jalan HM Thamrin, Jakarta.
Saya mengucap syukur alhamdulillah acara kemarin berlangsung cukup lancar. Terus terang hati saya bergetar dan jantung bergemuruh kencang ketika berdiri di atas panggung dan menatap sampean semua yang menyesaki kursi-kursi. Lidah kelu, nyaris tak bisa mengeluarkan kata-kata. Semua kalimat yang sudah disiapkan dan disusun buyar entah ke mana. « Read the rest of this entry »
Kartun Pecas Ndahe
November 20, 2008 § 118 Komentar
Kartun Nabi Muhammad kembali menjadi pembicaraan di ranah blog. Meski sudah beberapa bulan muncul, baru pekan ini memicu kegegeran setelah media arus utama menyantapnya sebagai berita panas. Pemerintah bereaksi. Polisi bergerak. Para blogger menyikapinya secara beragam.
Seorang kawan khawatir kasus ini akan membuat citra blogger tercoreng. “Masyarakat bisa menganggap kita, para blogger, sebagai kelompok yang ndak bener, Mas. Publik yang tak begitu paham blog akan mengira kita sejenis gerombolan pengacau belaka,” katanya.
Buat saya, begitulah kehidupan di ranah Internet dan blog. Blog memang bukan wilayah atau benda suci. Ia bisa tercemar oleh bakteri dan kuman pengganggu. Lalu ada kelompok yang tersinggung dan marah.
Tapi, sebaiknya kita lebih arif dan bijaksana menghadapi kasus ini. Tak perlu emosional. Blog bisa berpengaruh sekali. Isi blog yang tersebar bisa menghasut. Pendapat khalayak ramai bisa terbentuk. Dan seseorang atau sekelompok orang dirugikan. « Read the rest of this entry »
Sengketa Pecas Ndahe
November 18, 2008 § 58 Komentar
Inilah judul-judul berita yang menyeramkan hari ini dari beberapa situs berita daring. Tentu saja judul-judul itu sesuai selera dan sudut pandang pembuatnya.
Nah, judul yang ini lumayan adem.
Dan, setelah membaca berita-berita itu, saya merasa seperti mengalami deja vu. Been there, done that.
Semoga kasus ini tak perlu menjadi sengkarut berkepanjangan karena seperti yang dikatakan oleh anggota Dewan Pers Abdullah Alamudin, “Mahkamah Agung pernah mengeluarkan keputusan dalam kasus Tempo dengan Tomy Winata. Waktu itu, Ketua MA mengatakan, kalau ada perselisihan antara media dan masyarakat, hendaknya didahulukan UU Pers.”
Akankah sejarah berulang? Entah. Kalau Dewi Lestari sih, bilangnya, “Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya …” 😀





