Toko Pecas Ndahe
Maret 14, 2008 § 41 Komentar
Mengapa mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan terus bertumbuhan di Jakarta? Tanda-tanda kemakmuran? Pertumbuhan ekonomi yang meroket?
Saya tak tahu. Tapi, kemarin siang, di Pacific Place yang menjulang, luas, dan dingin itu, saya melihat toko-toko sepi tanpa pembeli. Tapi, tempat-tempat makan, kafe, rata-rata ramai pelanggan.
Bapak-bapak berdasi LV, ibu-ibu dengan tas Prada di tangan, mengudap jajanan. Sesekali terlihat mereka menyesap kopi berlogo duyung dalam bulatan hijau itu.
Saya heran, bila toko-toko baju, parfum, arloji, dan sebagainya itu tiada laku, dan itu artinya tiada pemasukan, bagaimana mereka bertahan? Bukankah menyewa lahan di dalam kompleks pertokoan mewah jelas butuh uang tak sedikit? « Read the rest of this entry »
Monyet Pecas Ndahe
Maret 10, 2008 § 53 Komentar
Perang [iklan] tarif antaroperator telepon selular memang sudah ndak masuk akal. Yang satu mengiming-iming tarif nol koma sekian rupiah per detik, satunya lagi ndak mau kalah masang ongkos nol koma sekian-sekian rupiah per detik.
Akibatnya, para pelanggan, terutama sekali, kartu pra bayar seperti monyet beneran: pindah sana pindah sini mengikuti tarikan sang dalang. Gimana ndak kayak monyet coba? « Read the rest of this entry »
Asus Pecas Ndahe
Maret 8, 2008 § 40 Komentar
Asus Eee PC benar-benar produk yang layak dicoba. Mungil, ringan, ringkas, sederhana — dan harganya cukup terjangkau. Begitulah kesan saya setelah mencoba subnotebook itu milik seorang kawan di pabrik.
Asyik juga bikin posting pakai perangkat ini. Cuma saya masih agak kesulitan mengetik di keyboard yang ukurannya lebih kecil dari milik notebook biasa. Beberapa kali salah pencet. Mungkin hanya karena belum biasa saja. « Read the rest of this entry »



