Tanda Pecas Ndahe
Januari 6, 2008 § 32 Komentar
Benarkah ada hubungan antara perginya seorang tokoh dan resahnya alam? Saya ndak tahu. Saya bukan ahli nujum.
Tapi, Bengawan Solo juga meluap dan bandang menghumbalang daerah sepanjang aliran sungai yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur; tanggul penahan lumpur Lapindo pun sempat jebol; ketika bekas orang nomor satu negeri ini masuk rumah sakit dan sempat kritis.
Adakah hubungannya? Mungkin tidak, barangkali juga ada hubungannya.
Saya ingat, Paklik Isnogud pernah bercerita bahwa alam memang sering menunjukkan tanda-tanda yang aneh ketika terjadi peristiwa luar biasa. « Read the rest of this entry »
Cendana Pecas Ndahe
Januari 5, 2008 § 22 Komentar
Mantan orang nomor satu Indonesia itu masuk Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat menjelang sore. Kondisinya memburuk sepanjang Sabtu ini. Sampai kapan dia sanggup bertahan? Cendana segera menjadi rumah duka?
Posting ini bertautan dengan komik di sebelah.
Pesta Pecas Ndahe
Januari 1, 2008 § 42 Komentar
Baiklah, sekarang pesta sudah usai. Lampu padam. Piring kotor menumpuk di dapur. Kembang api hangus. Mercon gosong. Tapi, kenangan itu belum pergi juga.
Saya terkenang pada wajah-wajah lesi para pengungsi korban banjir di Bojonegoro. Mereka melewatkan malam pergantian tahun dalam dingin dan lapar di dalam gerbong kereta api yang menjadi tempat penampungan sementara.
Saya teringat pada guratan kesedihan warga yang rumahnya terendam luapan Bengawan Solo. Mereka termangu menatap layar kaca televisi yang memamerkan pendar-pendar cahaya warna-warni di kota lain.
Sebuah pesta. Sebuah tragedi. Keduanya lahir dalam kenangan yang berbeda. « Read the rest of this entry »
Current Pecas Ndahe
Desember 22, 2007 § 18 Komentar
Seseorang bertanya, ke mana perginya current issue dari sini? Lah ini, Mas!
Ini? Iya! « Read the rest of this entry »
Risau Pecas Ndahe
Desember 21, 2007 § 16 Komentar
Ketika matahari menghilang dan rembulan ganti menyembul, saya kerap bertanya-tanya, bakal lebih cerahkah hari esok? Akankah hidup kita jadi lebih baik dari kemarin?
Sampai gelap menelikung badan dan hujan mengguyur peradaban, jawaban tak juga saya dapatkan.
Saya lalu berbincang dengan Paklik Isnogud tentang masa-masa yang kian sulit dan membuat pinggang kita kian lisut seperti sekarang.
Pabrik masih sunyi. Paklik tepekur di mejanya. Ia mengenakan surjan lurik biru kesukaannya. Tangannya melinting tembakau dan kertas Marsbrand. Cangkir kopi dinginnya masih separuh, seperti tak disentuh. « Read the rest of this entry »

