Fuad Pecas Ndahe

Desember 9, 2007 § 21 Komentar

Fuad Hassan adalah seorang guru dengan jejak panjang.
Ia wafat pada usia 78 tahun, Jumat dua hari yang lalu.

Pagi itu, saya lihat Paklik Isnogud sedang memegang selembar koran di depan pabrik. Matanya menatap lekat-lekat pada larik-larik kalimat yang mengabarkan perginya salah satu tokoh besar yang pernah kita punya: Fuad Hassan.

Sebentar kemudian, Paklik meletakkan koran itu. Matanya ganti melihat saya, lalu ke atas, memandang langit. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mendesah perlahan … « Read the rest of this entry »

Antasari Pecas Ndahe

Desember 6, 2007 § 52 Komentar

And the winner goes to …

Oh, noooooooooo …

Bagaimana mungkin membersihkan dengan sapu kotor?

Repetitif Pecas Ndahe

November 29, 2007 § 67 Komentar

Tadi malam, di Jalan Raya Daan Mogot, kilometer sekian, dari arah Jakarta ke Tangerang. Saya sedang mengemudikan kendaraan perlahan-lahan. Tiba-tiba dari jauh terlihat ada gerombolan — sekitar 20 orang — petugas berseragam berdiri di pinggir jalan.

Wah, razia nih. Kebetulan. Sudah lama saya ndak mengumbar keisengan. Show time!

Benar saja. Begitu saya mendekat, salah satu petugas itu melambai-lambaikan tangannya yang memegang sentolop, meminta saya ke pinggir dan berhenti. Lalu terjadilah percakapan ini.

Polisi : Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu perjalanan. Boleh lihat surat-suratnya?

Saya : Silakan. Silakan. Sebentar saya cari dulu … Eh, tapi boleh ndak saya tanya dulu?

Polisi : Siap. Silakan, Pak.

Saya : Bener nih? Janji ndak tersinggung?

Polisi : Siap, tidak Pak. « Read the rest of this entry »

Albar Pecas Ndahe

November 28, 2007 § 30 Komentar

“Dunia ini panggung sandiwara, cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura-pura … “

Ah, Ahmad Albar mungkin memang sudah menujumkan nasibnya seperti lagu itu. One down, many more to go

Guru Pecas Ndahe

November 26, 2007 § 30 Komentar

Digugu lan ditiru. Itu wajah guru di masa lalu. Artinya, dipercaya dan diteladani.

Dulu kebanyakan orang mencitrakan guru sebagai sosok yang pintar, lurus, idealis, mengayomi, galak, dan kebanyakan kere — cuma punya sepeda yang bisa “standing dan terbang” seperti lagu Oemar Bakrie yang dinyanyikan dengan getir jenaka oleh Iwan Fals].

Sekarang?

Giliran sampean menilainya, Ki Sanak …

>> Salam hormat saya kepada semua guru — siapapun dan di manapun sampean berada — yang hari ini merayakan Hari Guru Indonesia.

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.