Fuad Pecas Ndahe

Desember 9, 2007 § 21 Komentar

Fuad Hassan adalah seorang guru dengan jejak panjang.
Ia wafat pada usia 78 tahun, Jumat dua hari yang lalu.

Pagi itu, saya lihat Paklik Isnogud sedang memegang selembar koran di depan pabrik. Matanya menatap lekat-lekat pada larik-larik kalimat yang mengabarkan perginya salah satu tokoh besar yang pernah kita punya: Fuad Hassan.

Sebentar kemudian, Paklik meletakkan koran itu. Matanya ganti melihat saya, lalu ke atas, memandang langit. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mendesah perlahan …

“Saya ingat, Mas,” kata Paklik dengan suara melodiusnya. “Hari itu, di ruang kuliah yang tua, datang seorang dosen muda mengajar satu bagian dari psikologi perkembangan. Dia kurus, pakaiannya putih-putih, tapi lebih penting lagi: kalimat-kalimatnya ringan seperti tubuhnya dan terang seperti bajunya.”

Saya mendengarkan dengan takzim. Paklik pasti tengah mengingat sepotong kenangan hidupnya di masa lalu.

“Seseorang lalu mengisahkan bagaimana dosen itu mengajar,” Paklik melanjutkan ceritanya. “Ia mengutip Nietszche dan lain-lain, tapi mahasiswa-mahasiswa mengerti.”

“Lebih 30 tahun kemudian, salah satu mahasiswa yang hadir bercerita pada saya, Mas. Ia masih ingat beberapa bagian kuliah mengasyikkan itu, meskipun dia tak mencatat sepatah kata pun di buku.

Dosen kurus berpakaian putih-putih itu bernama Fuad Hassan. Kelak ia diangkat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Saya tak tahu bagaimana kelak ia akan dikenang sebagai seorang menteri dalam sejarah, tapi ia akan tetap diingat sebagai seorang guru dari jenis yang punya jejak panjang.

Guru jenis ini bisa menggugah minat. Ia bisa merangsang keasyikan menalar, hingga kita pun jadi tekun menggunakan kapasitas pemikiran kita untuk memecahkan soal. Ia menghidupkan generator dalam diri kita untuk menjelajahi cakrawala pengetahuan — dan menjelajahi cakrawala adalah proses yang tak habis-habisnya. Karena itu, jejaknya panjang.

Sayang, tak semua guru seperti Fuad Hassan, Mas …” kata Paklik mengakhiri kenangannya.

Saya mengangguk. Pagi itu, gerimis mendadak jatuh …

Iklan

§ 21 Responses to Fuad Pecas Ndahe

  • adit berkata:

    Sama ndoro, saya pas baca kaget banget. Walau ngga pernah diajar oleh beliau, tapi saya bisa melihat bahwa beliau orang yang pantas dijadikan contoh.

    Semoga beliau tenang di peristirahatannya.

    Ps: Dia katanya meninggal karena kanker ya? Jangan-jangan kanker paru lagi? Dia ngerokoknya kan kuat bukan?

    Another reason to smoke smoking guys πŸ˜‰

  • Praditya berkata:

    Moga2 setelah ini alm Fuad akan dikenang dan dijadikan inspirasi untuk para guru…

    Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya
    Amiin…

  • Aris berkata:

    Pak Fuad Hassan bukan hanya guru dengan jejak panjang, beliau juga seorang mantan diplomat yg patut diteladani. Saya turut mendoakan semoga arwah beliau diterima disisi Allah SWT. Amiin …

  • extremusmilitis berkata:

    Turut Ber-duka Cita Atas Meninggal-nya Salah Seorang Bapak Pendidikan Indonesia Modern, Ndoro 😦

  • Rystiono berkata:

    Turut Ber-duka Cita Atas Meninggal-nya Bpk. Fuad Hassan. Semoga amal-amalnya diterima disisi-Nya…

    Bener kata paklik Isnogud ndoro…sekarang ndak banyak guru yang kayak gitu…

  • kw berkata:

    pak fuad, kenal dari bukunya “menapak jejak khalil gibran” saja. semoga damai di sana

  • Bening berkata:

    Menteri yang keren dan nganteng!

    Semoga ilmu yang beliau ajarkan jadi amal jariah yang tak putus limpahan kebaikannya.

  • Dee berkata:

    Ndherek belosungkowo. Kapan lagi ya, ada menteri yang hobi main biola?

  • annots berkata:

    ndoro, datang melayat sama paklik isnogud ya?

  • kemaren itu, sayah kaget waktu baca Fuad Hassan meninggal.
    trus momon bilang : “emang kalo menteri ndak boleh mati, tik?”

    huks..
    **pentung momon**

  • MaNongAn berkata:

    Innalillahi Wa’Innailaihi Rodjiun.
    Semoga 4JJI membukakan pintu ma’af dan menerima segala amal baiknya. Dan semoga keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan serta kesabaran.
    -Aamiinn-

    .::he509xβ„’::.

  • Ida Arimurti berkata:

    Jumat sore baru buka siaran saya dapat kabar dari teman UI langsung saya kabarkan kepada pendengar, banyak orang kaget dan punya kesan tersendiri menyatakan lewat sms.
    Bapak Fuad Hasan orang yg hebat dan saya kagumi, pernah saya ngobrol dg beliau, begitu banyak perhatian beliau kepada dunia pendidikan dan anak2.
    Selamat jalan Bapak Fuad Hasan, jasamu tak kan kulupakan..

  • harid berkata:

    Turut berduka cita, semoga jerih payahnya dalam dunia pendidikan dapat terus berhembus dan menjadi panutan agar pendidikan indonesia terus maju.

  • ndahmaldiniwati berkata:

    sewaktu beliau jd mentri pendidikan daku msh kuecill tp udah kagum banget ma sosok yg ganteng dan berwibawa, apalagi sewaktu mba’ku brkesempatan foto bareng dgn beliau wahh seneng bgt punya fotonya. semoga Allah memberi tempat terbaik u’ pak Fuad Hasan, met istirahat pak…;((

  • tehaha berkata:

    selamat jalan pak fuad…!!!

    klo saia paling familiar ma wardima djojonegoro ndoro, soalnya waktu sekolah menterinya beliau sih, walau terkahir sempat kontroversial lewat issu keikutsertaan Indonesia di ajang miss univers πŸ™‚

  • Fabian berkata:

    Saya beruntung masih sempat diajar beliau.Meski sudah kepala Tujuh, tetapi masih semangat mengajar. Dengan kemeja putih dan tangan yang selalu memegang kapur tulis dia berbicara tentang manusia…
    Selamat jalan Pak!

  • leksa berkata:

    Di balik sejarah suram, pemikiran beliau adalah teladan. Saya masih suka ngelirik buku Gibran itu…

    πŸ™‚
    orang hebat, hidup nya di kenang…

  • wieda berkata:

    yup saya pak Fuad Hasan memang jempol…selamat jalan bapak pendidikan….

  • nina harada berkata:

    beberapa hari ndak buka berita tiba-tiba dapet berita duka begini di pecas ndahe.
    nderek belasungkawa sedalam-dalamnya.
    masih ada gak ya penerus beliau?
    sampai detik ini kalo disuruh nginget guru yang mbekas di hati dan pelajarannya mbekas di otak ku rasanya aku harus berpikir lama …….

  • dee berkata:

    #Dia kurus, pakaiannya putih-putih, tapi lebih penting lagi: kalimat-kalimatnya ringan seperti tubuhnya dan terang seperti bajunya.”#

    saat itu, delapan tahun lalu, dia tidak kurus (maupun gemuk), pakaiannya putih-khaki, dan kalimatnya tetap ringan dan terang..

    guru, pemain biola, perokok berat, humanis, eksistensialis –saya beruntung dapat satu semester mendengar kuliah beliau, dan sama seperti fabian, saya juga tak punya catatan kuliah, keasyikan mendengar..

    selamat jalan pak fuad..
    di meja kerjanya ada stiker: be aware of the smokers, we are endangered species.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Fuad Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: