Lembaga Pecas Ndahe
Februari 14, 2008 § 29 Komentar
Kadang-kadang saya berpikir, perlukah kita punya lembaga seperti Lembaga Sensor Film? Perlukah sebenarnya sebuah karya — apapun itu bentuknya — dilihat dulu, lalu ditentukan boleh beredar atau tidak? Bagian mana yang boleh ditengok, dan yang mana tak boleh diintip orang?
Entah. Saya ndak tahu jawabannya. Saya bukan orang film. Bukan pemain atau pekerja film. Karena itu, ketika ada ribut-ribut soal sensor dan lembaga penyensor, saya lebih suka mendengarkan. Menyimak. Belajar.
Saya cuma blogger kelas kambing yang tak punya kambing seekor pun. Karena itu, saya lalu bertanya pada telaga yang teduh dan menyejukkan, siapa lagi kalau bukan, Paklik Isnogud.
Orangnya sedang melamun di mejanya ketika saya datang. Di depannya ada secangkir kopi yang hampir habis dan sebatang rokok lintingan yang masih menyala.
Setelah mengucapkan salam, saya pun langsung memberondong Paklik dengan aneka pertanyaan tentang film, sensor, dan lembaga sensor.
“Begini ya, Mas. Menurut hemat saya, yang belum tentu hemat buat sampean, Lembaga Sensor Film itu institusi yang sebenarnya tak punya hak untuk mengatakan bahwa dialah yang paling berkompeten memutuskan apa yang baik dilihat dan tak baik dilihat orang.”
“Loh kenapa, Paklik?” « Read the rest of this entry »
Pers Pecas Ndahe
Februari 9, 2008 § 37 Komentar
Seseorang mengeluh. Bukan karena hujan yang terus-menerus jatuh. Bukan karena kemacetan yang kian menjadi-jadi. Ia mengeluh kenapa mutu pers kita makin jeblok belakangan ini.
Ia tak sendirian. Rasanya makin banyak orang punya keluhan yang sama. Bukan cuma mutu pers yang mundur. “Wartawan zaman sekarang tak ada bedanya dengan preman,” kata seseorang yang lain.
Preman? “Iya, mereka main sradag-srudug tanpa menghiraukan tata krama, hak privat, dan sopan santun. Nggak punya etika sama sekali.”
“Lihat itu di televisi,” katanya. “Artis-artis dikejar-kejar, dipepet, dipojokkan. Lantas ditanya-tanya. Konfirmasi kabar ini dan itu. Apa iya kerja wartawan seperti itu? Artis kan juga manusia. Bisa kesal dan gondok.”
Saya cuma bisa menunduk dalam diam. Ada apakah gerangan? Benarkah pers sudah kehilangan laku yang bermoral? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa penyebabnya? Persaingan bisnis yang kiat ketat? Para pemodal? « Read the rest of this entry »
Tikus Pecas Ndahe
Februari 7, 2008 § 20 Komentar
Hari ini kita memasuki Tahun Baru, Tahun Tikus [tanah], menurut kalender Cina.
Apakah ini pertanda tikus-tikus makin banyak berkeliaran dan berjaya? « Read the rest of this entry »
Kepalsuan Pecas Ndahe
Januari 28, 2008 § 47 Komentar
Sepanjang hari kemarin, juga hari ini, rakyat Indonesia disuguhi tayangan yang nyaris seragam di televisi. Sebuah in memoriam. Sebuah obituari. Sekilas sejarah perjalanan sosok seorang Soeharto yang wafat kemarin.
Tiba-tiba pikiran saya terganggu oleh aneka pertanyaan. Kenapa sejarah sering terasa palsu di Indonesia ini? Apakah karena kita adalah orang-orang yang “secara liar tak tahu dan tak toleran” kepada “kebenaran sejarah”?
Dari mana gerangan datangnya semangat penulisan sejarah seperti ini? Dan kenapa orang mau menulis sejarah yang palsu? « Read the rest of this entry »
Kesederhanaan Pecas Ndahe
Januari 25, 2008 § 33 Komentar
Mengapa setiap kali sebuah toko menggelar sale rabat atau diskon barang-barang bermerek di Senayan City, orang berbondong-bondong datang? Mengapa kedai-kedai kopi di Plaza Senayan selalu sesak di sore hari?
Inikah yang disebut gaya hidup? Snob?
Saya ndak tahu. Tapi, oleh karenanya, saya kerap iri pada Paklik Isnogud — telaga yang tenang itu. Bagaimana mungkin di tengah arus modernisasi yang gegap gempita dengan aneka simbolnya yang mentereng, ia kalem-kalem saja?
Bagaimana mungkin ia masih bisa bertahan dengan kendesitannya di tengah deru kapitalisme, hedonisme, juga kliyeng-kliyeng itu, lengkap dengan neon sign yang berpendar-pendar? Ia tak pernah menyentuh gendul-gendul Chivas Regal, Chardonnay, Dry Gin, dan seterusnya itu.
Mengapa ia seperti tak pernah tergoda mendatangi kedai-kedai moncer dengan cangkir-cangkir kertas putih berlogo hijau isi kopi panas yang mengepul itu? Mengapa ia tetap setia pada gelas butut berisi seduhan kopi dari dapur belakang pabrik? Adakah ia seorang yang ganjil? « Read the rest of this entry »

