Pers Pecas Ndahe

Februari 9, 2008 § 37 Komentar

Seseorang mengeluh. Bukan karena hujan yang terus-menerus jatuh. Bukan karena kemacetan yang kian menjadi-jadi. Ia mengeluh kenapa mutu pers kita makin jeblok belakangan ini.

Ia tak sendirian. Rasanya makin banyak orang punya keluhan yang sama. Bukan cuma mutu pers yang mundur. “Wartawan zaman sekarang tak ada bedanya dengan preman,” kata seseorang yang lain.

Preman? “Iya, mereka main sradag-srudug tanpa menghiraukan tata krama, hak privat, dan sopan santun. Nggak punya etika sama sekali.”

“Lihat itu di televisi,” katanya. “Artis-artis dikejar-kejar, dipepet, dipojokkan. Lantas ditanya-tanya. Konfirmasi kabar ini dan itu. Apa iya kerja wartawan seperti itu? Artis kan juga manusia. Bisa kesal dan gondok.”

Saya cuma bisa menunduk dalam diam. Ada apakah gerangan? Benarkah pers sudah kehilangan laku yang bermoral? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa penyebabnya? Persaingan bisnis yang kiat ketat? Para pemodal? « Read the rest of this entry »

Tikus Pecas Ndahe

Februari 7, 2008 § 20 Komentar

Hari ini kita memasuki Tahun Baru, Tahun Tikus [tanah], menurut kalender Cina.

Apakah ini pertanda tikus-tikus makin banyak berkeliaran dan berjaya? « Read the rest of this entry »

Hati Pecas Ndahe

Januari 30, 2008 § 26 Komentar

Pernah ada masanya seseorang berada di simpang jalan. Hatinya bingung. Di manakah aku gerangan berada? Ke manakah perginya orang-orang itu? Di manakah pedoman?

Lalu seseorang berkata. Hati yang bingung bukanlah hati yang mampu untuk setiap bentuk. Hati yang bingung adalah hati yang hanya menghendaki sesuatu yang pasti, final.

Maka seorang yang bingung bukanlah seorang yang dengan terbuka memandang sekltar, tapi seorang yang ketakutan. Ia menggapai-gapai mencari patokan yang paling gamblang. « Read the rest of this entry »

Prasangka Pecas Ndahe

Januari 29, 2008 § 22 Komentar

Baiklah, Nduk … Kuberi tahu sesuatu. Sejarah arti kata-kata memang bukan sejarah sebuah rencana yang disusun beres sebelum bahasa lahir.

Kata “prasangka” dan “bau”, misalnya, tak bisa dengan segera diberi arti. Kita harus menunda artinya sebelum kita tahu di mana ia terletak dan bagaimana hubungannya dengan kata yang lain — dan bagaimana pula situasi si pembicara dan si penerima.

Sebab, kata memang senantiasa bergerak antara kamus dan konteks. Ia terus-menerus berada dalam keadaan yang tak stabil dan tak 100 persen pasti. « Read the rest of this entry »

Kepalsuan Pecas Ndahe

Januari 28, 2008 § 47 Komentar

Sepanjang hari kemarin, juga hari ini, rakyat Indonesia disuguhi tayangan yang nyaris seragam di televisi. Sebuah in memoriam. Sebuah obituari. Sekilas sejarah perjalanan sosok seorang Soeharto yang wafat kemarin.

Tiba-tiba pikiran saya terganggu oleh aneka pertanyaan. Kenapa sejarah sering terasa palsu di Indonesia ini? Apakah karena kita adalah orang-orang yang “secara liar tak tahu dan tak toleran” kepada “kebenaran sejarah”?

Dari mana gerangan datangnya semangat penulisan sejarah seperti ini? Dan kenapa orang mau menulis sejarah yang palsu? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Pitutur category at Ndoro Kakung.