Bintang Pecas Ndahe
September 10, 2007 § 42 Komentar
… And yet with neither love nor hate,
Those stars like some snow-white
Minerva’s snow-white marble eyes
Without the gift of sight … [Robert Frost]
Saya segera menuju ke telepon di sebelah kasir dengan sedikit tergopoh. Begitu sampai, saya langsung mengangkat gagang telepon.
“Kamu di mana, Jeng? Saya sudah nunggu kamu sejam lebih. Kalau … ”
“Mas,” Diajeng memotong pertanyaan saya. “Aku nggak punya waktu banyak. Tolong dengarkan aku dulu ya, Mas. Please.”
“Oke,” jawab saya pendek.
“Sebelumnya aku minta maaf, Mas. Aku nggak jadi ke Melrimba. Aku tahu kamu pasti marah. Tapi, tolong dengarkan aku dulu. Aku sekarang di bandara. Sebentar lagi pesawatku berangkat.”
“Di bandara? Ngapain? Kamu mau ke mana?” tanya saya penuh rasa heran. « Read the rest of this entry »
Seksi Pecas Ndahe
September 8, 2007 § 28 Komentar
Jumat malam tadi, saya sendirian di pabrik [beginilah nasib satpam, hiks!]. Layar televisi di depan saya jaga sedang menayangkan acara dari sebuah stasiun, malam penghargaan entah apa namanya. Kalau ndak salah sih, acara MTV Movie Award di Global TV.
Tiba-tiba tiga remaja perempuan muncul di layar, lalu berbicara di depan mikrofon. Saya ndak tahu mereka itu siapa, apalagi namanya. Mungkin mereka itu penyanyi, bintang film, atau bintang sinetron. Ketoke sih, seleb gitulah.
“Menurut lo, cowok seksi itu yang kayak gimana, sih?” salah satu dari tiga perempuan itu membuka percakapan dengan bertanya pada dua temannya.
Halah, apa coba hubungan antara cowok seksi dan acara penghargaan itu? « Read the rest of this entry »
Selingkuhan Pecas Ndahe
September 4, 2007 § 38 Komentar
Bagaimana rasanya menjadi perempuan kedua, perempuan yang bukan istri atau pasangan yang “sah” dari seorang lelaki?
Menyedihkan atau justru menyenangkan?
Saya beruntung punya seorang teman perempuan, seorang “mahmud” alias mamah muda [selingkuhan gitu deh …], yang bersedia saya ajak berdiskusi tentang hubungannya dengan lelaki yang sudah beristri.
Demi alasan keamanan dan nama baik, saya memilih tak menyebutkan siapa teman perempuan saya itu, juga url blognya. Kecuali dia berubah pikiran. Hehehe …
Saya beri gambaran saja, profil teman perempuan saya itu seperti ini: lajang, social smoker, usia 30+, lulusan perguruan tinggi negeri ternama, dan sekarang bekerja di lingkungan yang sangat terhormat di Jakarta. Err .. ada lagi, I considered her as a nice and good looking person. Halah … « Read the rest of this entry »
Kabut Pecas Ndahe
September 3, 2007 § 17 Komentar
Malam seperti itu, hujan sering turun
Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas
Kulit terasa lekat
Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang
Kaki-kaki telah bergegas
Orang mencari tempat dan atap — Fred de Silva
Bukan cuma hujan yang menepati janji. Di Puncak, kabut justru nyaris tak pernah ingkar janji untuk datang di senja hari.
Seperti sore itu, beberapa puluh meter menjelang Merlimba Garden, kabut mulai membungkus jalanan, lalu perlahan turun seperti kelambu putih menutup ranjang.
Saya menginjak rem, mengoper gigi, lalu belok kiri menuju pintu gerbang taman. Seorang petugas parkir menyambut ramah. Senyumnya mengembang seraya tangannya mengangsurkan selembar karcis.
“Lurus saja, Pak,” katanya. Tangannya menunjuk ke sebidang lahan kosong persis di depan Merlimba Kitchen, tempat makan favorit Diajeng. « Read the rest of this entry »
Belahan Pecas Ndahe
Agustus 31, 2007 § 33 Komentar
Seseorang tiba-tiba mengirimkan pesan pendek alias sandek (SMS) ke saya. Ia bertanya begini. “Ndoro, belahan jiwa itu apa sih? Sampeyan percaya nggak setiap orang punya belahan jiwa?”
Halah. Sopo iki? Saya kaget karena tak mengenali nomor telepon si pengirim SMS. Tapi, demi sopan santun [dan basa-basi], saya pun mengirimkan SMS balik.
“Maaf, ini siapa ya? Saya kok ndak kenal nomornya? Kenapa sampean tiba-tiba bertanya soal belahan jiwa?”
Dalam beberapa detik datang SMS balasan. “Saya pembaca setia blog sampeyan, Ndoro. Nggak usah curiga dan khawatir. Saya bertanya karena sampeyan menulis tentang belahan jiwa di blog, tentang cerita Diajeng itu loh.”
Oalah … Saya baru ngeh. Tapi, tetap saja saya penasaran pada si pengirim SMS itu. Siapa dia sebenarnya? Mengapa dia mendadak bertanya tentang belahan jiwa? Apa dikiranya saya ini tukang jual belahan? « Read the rest of this entry »

