Lamunan Pecas Ndahe

Februari 19, 2008 § 45 Komentar

Dear lamunanku,

Tadi pagi kukirim sepucuk rinduku kepadamu
Aku menitipkannya pada Pak Pos yang naik sepeda kring-kring-kring itu
Sengaja tak kupakai SMS atau email seperti anak-anak sekarang
Aku lebih suka cara yang klasik — seperti wajahmu

Aku tak tahu apakah titipan berbungkus amplop biru itu sudah sampai
Pak Pos belum memberi tahu
Mungkin kiriman itu terjebak kemacetan di jalan
Biasa, pagi begini, mana gerimis pula, lalu lintas kan sedang lucu-lucunya
Barangkali juga nyasar ke tetangga sebelah
Coba kau tanyakan saja ke mereka

Moga-moga kamu suka kiriman itu
Meski kutahu hatimu sedang berkelindan resah
Tak banyak yang kutulis
Hanya sebaris rindu dan keinginan bertemu

Kalau kau tak sempat membacanya
Simpanlah saja dulu di salah satu laci hatimu
Siapa tahu kamu mau menjenguknya nanti
Bila gundahmu sudah pergi … jauh

PS: I love you

:: untuk perempuan di persimpangan.

Spasi Pecas Ndahe

Februari 14, 2008 § 34 Komentar

Bahkan sebaris kalimat pun butuh spasi, jarak yang memisahkan antara satu kata dengan yang lain.

Spasi hanyalah penanda, sementara saja, agar tak membingungkan.

Toh hidup tak selalu berjalan di atas garis lurus tanpa putus. Ada kalanya sebuah rehat menyela, agar kita berjarak, dan memandang lebih jernih.

Begitu pula sebuah relasi. Ia juga butuh spasi. Sejenak.

Aku pasti kembali. Itu pasti. Kota kita cuma terpisah 50 menit kok, Jeung.

Sampai nanti … kita bikin pesta Valentine sendiri.

Perlambang Pecas Ndahe

Februari 12, 2008 § 28 Komentar

Pohon. Langit. Dan burung dara. Ya, ini tentang perlambang. Kartu-kartu yang terbuka di atas meja.

Ah, tapi tentu saja tetap susah kuurai. Aku bukan penujum yang sanggup menafisir lambang dan simbol-simbol. Aku cuma perahu kecil yang tengah mencari bintang utara.

Tapi aku tahu. Ada baiknya kalau aku menuruti kata penafsir takdir itu saja: menjadi pohon. Supaya bisa merindangi. Meneduhkan … hatimu yang gelisah.

Sebab, kamu burung dara. Dan aku langit. Kita bertemu di ujung ranting. Titian yang rapuh dan getas.

Ah, inikah makna lambang-lambang itu? Hanya kamu yang tahu …

Hati Pecas Ndahe

Januari 30, 2008 § 26 Komentar

Pernah ada masanya seseorang berada di simpang jalan. Hatinya bingung. Di manakah aku gerangan berada? Ke manakah perginya orang-orang itu? Di manakah pedoman?

Lalu seseorang berkata. Hati yang bingung bukanlah hati yang mampu untuk setiap bentuk. Hati yang bingung adalah hati yang hanya menghendaki sesuatu yang pasti, final.

Maka seorang yang bingung bukanlah seorang yang dengan terbuka memandang sekltar, tapi seorang yang ketakutan. Ia menggapai-gapai mencari patokan yang paling gamblang. « Read the rest of this entry »

Pelangi Pecas Ndahe

Januari 10, 2008 § 37 Komentar


aku matahari
kamu hujan

KITA melahirkan pelangi …

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.