Comblang Pecas Ndahe

Oktober 31, 2007 § 18 Komentar

Manusia adalah makhluk sosial (homo socius), yang bergaul dan berinteraksi dengan sesamanya. Manusia membutuhkan relasi dengan manusia lain.

Aha, betapa sering kita mendengar kalimat itu. Seperti klise, kalimat itu telah dicetak ulang jutaan kali hingga kadang kita lupa siapa yang pertama kali mencetuskannya.

Saya juga ndak ingat siapa yang pertama kali mengeluarkan kalimat klise itu sampai seorang teman tiba-tiba bertanya lewat YM, tadi menjelang makan siang. Soalnya dia mau nulis tentang manusia sebagai makhluk sosial di blognya. Dan saya ngikutin saran dia untuk menulis juga … hihihi …

Untung saya punya Paklik Isnogud — telaga yang teduh itu. Saya bisa bertanya soal apa saja kepadanya. Menurut Paklik, Adam Smith pernah menulis The Theory of Moral Sentiments pada 1759. Di buku itu, Smith berbicara tentang manusia sebagai makhluk sosial.

“Tapi, kenapa sampean menanyakan soal itu, Mas?” tanya Paklik.

Parasnya terlihat agak jengkel. Wadoh! Kenapa nih? « Read the rest of this entry »

Brokoli Pecas Ndahe

Oktober 29, 2007 § 27 Komentar

Saya baru sampai di pabrik dan buka komputer pagi ini. Belum juga sempat meredakan napas yang ngos-ngosan. Belum juga minum air putih dingin. Ealah, lah kok setumpuk undangan dan memo sudah memenuhi meja.

Begitu buka komputer dan email, hwsayu … banyak amat pesan-pesan yang masuk. Saya buka satu per satu, saya intip dan baca pelan-pelan.

Hwadoh! Lah kok hampir semuanya mengingatkan saya bahwa pesta sudah berlalu dan mulai hari ini saya kembali menjadi buruh pabrik lagi seperti biasa — yang harus menaati perintah para bos dan juragan.

Setenggok tugas sudah menanti. Sebakul pekerjaan sudah menunggu. Ya, ampun … « Read the rest of this entry »

Kutang Pecas Ndahe

Oktober 20, 2007 § 47 Komentar

Gambaran perempuan tentang lelaki yang seksi itu memang macam-macam. Ada yang bilang pria seksi itu yang otaknya encer. Ada lagi yang menganggap pria itu baru bisa disebut seksi kalau bisa kulitnya putih, tubuhnya langsing, dan pantatnya penuh.

Seorang kawan, tentu saja perempuan, punya pendapat lain. Dia bilang lelaki yang seksi itu yang, “Tatapannya bisa membuat pedhot [putus] tali kutang.”

Halah. Saya ngakak mendengar komentarnya yang lucu bin wagu itu. Maklum saja, Ki Sanak. Teman saya itu memang mengaku rada ndesit karena berasal dari Semin, sebuah desa kecil di Gunung Kidul sana. [Ups, bakal ada yang protes nih]

Tapi, dia ngamuk ketika saya ngakak begitu mendengar istilahnya yang ajaib dan ndak umum itu.

“Sik, Mas. Sampean kok malah ngguyu. Ndak terima aku,” begitu katanya. « Read the rest of this entry »

Menstruasi Pecas Ndahe

Oktober 5, 2007 § 33 Komentar

Jumat sore yang sibuk di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Jalanan “pamer ruli” alias padat merayap ruwet sekali. Seorang lelaki muda duduk gelisah di atas jok kulit empuk di dalam BMW 130i M Sport warna perak metalik.

Berkali-kali ia menengok arloji Audemars Piguet berban kulit hitam di tangannya. Matanya memelototi bajaj dan metromini yang knalpot rombengnya memuntahkan asap hitam pekat dan sedari tadi nyaris tak bergerak di depannya.

Mendadak ia merasa gerah. Sangat gerah. Peluh mulai membasahi jidat dan punggungnya. Juga dadanya yang berbulu. Heran, kenapa AC mobil tiba-tiba tak berdaya mengusir panas matahari sore yang menyengat begini? « Read the rest of this entry »

Godaan Pecas Ndahe

Oktober 3, 2007 § 48 Komentar

Pada sebuah motel di pinggir selatan Jakarta. Malam belum terlalu tua. Baru juga pukul 21.00. Sepasang lelaki dan perempuan tergolek telanjang di atas ranjang yang kusut masai. Baju mereka berceceran di lantai. Botol-botol air mineral kosong berserakan di atas meja. Sebuah asbak bundar dari beling nyaris penuh puntung.

Si lelaki terpejam. Si perempuan menatap wajah lelaki paruh baya itu nyaris tak berkedip. Keringat mengalir pelan dari dahi si lelaki, turun ke leher. AC di dinding berkekuatan 1 PK itu tampaknya tak kuasa mendinginkan ruangan.

Si perempuan mengusap pelan butir-butir keringat itu, khawatir sang lelaki terbangun. Ia tak mau kenikmatannya menatap telaga yang teduh dan tak setiap hari ada di depannya itu terganggu. Begitu tenang, begitu nyaman. Hangat. Menenangkan.

“Are you staring at me, dear?” lelaki itu tiba-tiba terjaga dan bertanya. “Something wrong?” « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Sketsa category at Ndoro Kakung.