Godaan Pecas Ndahe

Oktober 3, 2007 § 48 Komentar

Pada sebuah motel di pinggir selatan Jakarta. Malam belum terlalu tua. Baru juga pukul 21.00. Sepasang lelaki dan perempuan tergolek telanjang di atas ranjang yang kusut masai. Baju mereka berceceran di lantai. Botol-botol air mineral kosong berserakan di atas meja. Sebuah asbak bundar dari beling nyaris penuh puntung.

Si lelaki terpejam. Si perempuan menatap wajah lelaki paruh baya itu nyaris tak berkedip. Keringat mengalir pelan dari dahi si lelaki, turun ke leher. AC di dinding berkekuatan 1 PK itu tampaknya tak kuasa mendinginkan ruangan.

Si perempuan mengusap pelan butir-butir keringat itu, khawatir sang lelaki terbangun. Ia tak mau kenikmatannya menatap telaga yang teduh dan tak setiap hari ada di depannya itu terganggu. Begitu tenang, begitu nyaman. Hangat. Menenangkan.

“Are you staring at me, dear?” lelaki itu tiba-tiba terjaga dan bertanya. “Something wrong?”

Perempuan itu dengan sedikit tersipu menggeleng perlahan dan tersenyum. “Nothing, Mas. Aku cuma lagi menikmati wajahmu kok. Kenapa? Karena nggak setiap hari aku bisa melakukannya. Mungkin cuma sekali dalam sepekan. Mungkin kurang. Aku nggak ingin kehilangan momen seperti ini.”

Lelaki itu menggigit bibir. Direngkuhnya wajah perempuan itu ke dadanya. Diciuminya rambut hitam legam milik si perempuan. Ah, wangi itu ternyata belum pergi jua sejak sore tadi.

***

Sebuah tempat biliar di pinggir utara Jakarta. Dua lelaki muda berdiri di pinggir meja. Yang satu berkaos hitam dan jins ketat. Lengannya yang kekar berhiaskan tato naga. Lehernya diganduli seuntai kalung emas segede bagong. Sebatang rokok tak henti-hentinya mengepul dari sela bibirnya.

Pria yang satunya laki sedikit lebih kurus. Kulitnya putih mulus. Gerakannya gemulai. Ia memakai kemeja putih gombrong dan celana pendek kargo khaki. “Ngapain sih lo, Jack? Dari tadi ngliatin handphone mulu?”

Yang ditanya tak menjawab. Ia mengalihkan matanya ke bola-bola di sudut meja. Ditenggaknya segelas bir, lalu diletakkannya stik biliar itu menyender meja. “Brengsek, bokin gue ke mana sih? Gue telepon dari tadi nggak diangkat.”

“Halah, paling juga lagi creambath, Jack.”

“Prek!” Si kekar mengumpat, membuang rokok, lalu meraih handphone. Diketikkannya sebaris SMS. “Lo di mana sih? Teleponnya diangkat, dong.”

Send to 0818979XXX.

***

Pria itu bangkit dari tempat tidur. Dipungutinya satu-satu kemeja dan celananya, lalu dipakainya asal-asalan. Dasinya digulung dan dimasukkan ke kantong celana. Jas cokelatnya disampirkan di pundak. “I am going home, dear,” katanya singkat.

“So soon? Kamu nggak mandi dulu, Mas?”

“Nggaklah. Apa kata orang rumah nanti kalau aku pulang dalam keadaan segar seperti baru mandi.”

Perempuan itu nyengir, lalu menatap handphone-nya yang bergetar. Incoming message from 0818456XXX. Dibukanya lalu dibacanya pesan singkat itu. Ia menghela napas. Dengan cepat diketikkannya sebuah SMS balasan.

“Gue masih meeting. Tunggu aja di tempat biliar atau nanti gue jemput lo di club.”

Send to 0818456XXX.

***

“Anjrit!” lelaki kekar itu mengumpat keras ketika bola putih masuk lobang. Bola sembilan yang diincarnya melenting keluar meja.

“Hahaha … otak butek mana bisa nyodok, Jack,” si kurus mentertawakannya.

Si kekar meraih kursi dan membuka handphone-nya yang tiba-tiba menjerit. Incoming message from 0818979XXX. Dibukanya segera dan dibacanya.

“Shit!” ia mengumpat lagi. Kali ini lebih keras. Score girl di ujung ruangan sampai menengok.

“Kenapa, Jack? Bokin lo lagi coming moon? Hahaha … Rasain lo!” ejek si kurus. “Sudahlah. Lo kayak kucing gak makan seminggu aja. Cabut yuk, ke kos gue aja. Kita mandi kucing lagi … ”

Si kekar menyeringai.

Dua lelaki itu meninggalkan ruang biliar yang kian ramai. Malam beranjak kelam. Bulan sepotong mengapung di langit.

***

Pabrik es lilin di jantung Jakarta. Para buruh duduk takzim di depan televisi layar lebar menonton sebuah pertandingan Liga Inggris. Sebuah handphone butut tiba-tiba menjerit nyaring mengusik ketegangan para buruh yang tengah menunggu bola disepak dari titik penalti.

“Handphone sapah tuh, bunyiii … ” seseorang berteriak kesal.

Yang diteriaki membuka mata. Setengah malas. Kantuk yang tak tertahankan membuat kepalanya menyandar di kursi sejak tadi. Diraihnya handphone butut itu dari atas komputer. Dibacanya sekilas. Incoming message from 0818979XXX. Sebaris pesan pendek membuat matanya mendadak menyala …

“Ndoro, I need you. Got to talk ASAP. Same time, same place.”

Halah. Sopo maneh iki? Godaan kok ndak habis-habis …

Iklan

§ 48 Responses to Godaan Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Godaan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: