Asuransi Pecas Ndahe
April 19, 2011 § 41 Komentar
Asuransi itu seperti ban serep di mobil. Ia merupakan perlindungan terhadap kemungkinan buruk, misalnya ban kempes di tengah jalan. Ban cadangan memberikan semacam rasa aman bagi pengemudi: ada sesuatu yang bisa diandalkan ketika kesulitan datang.
Ibarat mobil, hidup kita juga memerlukan ban cadangan. Asuransi memberikan perlindungan terhadap risiko-risiko dalam hidup setiap orang, seperti kecelakaan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.
Pertanyaannya, siapa yang perlu asuransi? Apa keuntungan dan kerugian memiliki asuransi? Bagaimana memilih perusahaan asuransi yang andal? « Read the rest of this entry »
iPhone4 Pecas Ndahe
Desember 22, 2010 § 48 Komentar
Para pecinta produk Apple di Indonesia sekarang sudah bisa membeli iPhone4. Tersedia di banyak lokasi dengan pelbagai paket harga. Seberapa canggih iPhone4 ini?
Menjadi narablog itu ada enak dan tak enaknya. Mendapat banyak teman baru, diajak kumpul dan makan-makan, diundang mengunjungi tempat-tempat wisata adalah beberapa contoh bagian yang enak-enak.
Lantas di mana bagian tak enaknya? Seorang blogger kawan saya punya cerita. Suatu hari dia ditanya temannya. “Eh, kamu tahu nggak jadwal kereta api Solo-Prambanan?”
Kawan saya yang narablog itu dengan jujur menjawab tidak karena ia memang jarang naik kereta api itu sehingga tak hapal jadwalnya. Eh, temannya malah heran. “Kok nggak tahu sih? Kamu kan blogger?”
Hohoho … saya tertawa ngakak mendengar kisah yang sungguh-sungguh terjadi itu. Mungkin dia mengira bahwa narablog itu kelompok orang yang tahu segalanya. Blogger pasti mengetahui banyak hal, dari soal tulis-menulis sampai fotografi. Dari politik hingga antropologi. Dari peniti sampai jadwal kereta api.
Padahal narablog itu orang biasa, seperti kita ini. Keterampilan dan pengetahuannya macam-macam. Ada yang pintar menulis dan mempunyai pengetahuan luas. Ada yang hanya piawai memotret tapi pengetahuan umumnya pas-pasan. Mereka tak selalu mampu menjawab setiap pertanyaan. Jadi anggapan bahwa blogger selalu tahu segalanya itulah bagian tak enaknya. « Read the rest of this entry »
Tablet Pecas Ndahe
November 18, 2010 § 34 Komentar
Seperti apakah sosok Samsung Galaxy Tab itu? Karena penasaran, saya pun mulai mengenal lebih dekat perangkat tablet dengan layar berukuran 7 inchi.
Saya merekamnya dengan bantuan seorang sahabat, Andre Adianto, sebagai pendemo sekaligus narator.
Saya ingat, malam itu setelah adegan rekaman itu, Andre langsung menulis Twitter begini, “Mencoba Galaxy Tab untuk pertama kalinya bersama @ndorokakung dan @kumandigital, cukup lucu… :D.”
>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Bagaimana kabar sampean hari ini?
Galaxy Pecas Ndahe
November 15, 2010 § 49 Komentar
Samsung Galaxy Tab itu akhirnya mendarat di depan saya. Terbungkus rapi dalam sebuah kotak hitam, peranti yang pertama kali diperkenalkan secara resmi di Jakarta pada 30 Oktober 2010 itu langsung membuat saya penasaran.
Saya lalu memutuskan membuat video proses pembukaan kotak pembungkus dengan bantuan sahabat baik saya, Dipto Djatmiko alias @kumandigital. Proses pembuatan rekaman ini tak lama, hanya sekitar 5 menit.
Ini dia hasilnya ….
>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean tertarik mencoba Galaxy Tab?
Refill Pecas Ndahe
Oktober 7, 2010 § 55 Komentar
Jakarta basah kuyup malam itu. Hujan jatuh luar biasa deras sejak sore. Air menciptakan genangan di mana-mana. Tak ayal, kendaraan melambat, lalu lintas pun tersendat.
Di dalam mobil, saya menengok keluar, melihat gelap yang semakin pekat. Mata saya nanar. ATM, tempat yang hendak saya tuju tak jua bertemu. Seperti ayam rabun senja, saya mencari-cari gerai ATM sebuah bank di kawasan Kebayoran.
ATM itu berada di pinggir jalan besar, persis di bawah pohon mahoni rimbun yang malam itu seperti raksasa yang tunduk oleh tumpahan air hujan. Saya harus berlari setelah menepikan mobil dan parkir agar tak basah oleh air hujan yang jatuh berderai-derai menuju bilik kaca tempat ATM berada.
Di ruang kaca itu, ada tiga ATM. Yang paling kiri untuk pecahan Rp 100 ribu dan dua mesin di sebelah kanannya untuk pecahan Rp 50 ribu. Di mesin paling kiri itulah saya melihat seorang perempuan berblazer dan pantalon hitam sedang berdiri seperti menanti sesuatu. Karena tak ingin mengganggu, saya pun memilih mesin dengan pecahan yang lebih kecil. Saya hanya ingin mengisi ulang pulsa kartu telepon yang sudah habis.
Setelah beberapa menit, saya menyelesaikan transaksi dan beranjak ke pintu keluar. Ketika itulah perempuan necis itu menoleh dan menahan langkah saya. « Read the rest of this entry »