Edaran Pecas Ndahe
September 6, 2007 § 18 Komentar
Inilah surat edaran yang bikin resah sebagian warga Jakarta beberapa hari ini.
Saya mendapatkan surat edaran ini dari seorang tetangga kemarin pagi. Katanya, surat itu beredar dari satu ibu ke ibu yang lain di pasar kompleks perumahan kami. Entah siapa yang mengedarkannya. « Read the rest of this entry »
Bebek Pecas Ndahe
September 5, 2007 § 32 Komentar
Berita duka itu masuk via SMS ke handphone saya. Pengirimnya Mbakyu Enny dan Mas Bangsari. Mereka mengabarkan bahwa seorang kawan kita sesama blogger, Susiawan Wijaya, meninggal dalam sebuah kecelakaan di laut Aceh pada 2 September 2007. Jenazahnya sudah dimakamkan di kampung halamannya di Jember, Jawa Timur. « Read the rest of this entry »
Makinseru Pecas Ndahe
September 3, 2007 § 17 Komentar
Sampean sering sebel melihat orang yang kalau menelepon sampai berjam-jam? Pengen nimpuk orang itu?
Hahaha … sama. Tapi, ndak usah buru-buru nimpuk beneran, Ki Sanak. Sampean bisa melakukan simulasi saja. Caranya? « Read the rest of this entry »
Raisya Pecas Ndahe
Agustus 22, 2007 § 15 Komentar
Oalah Nduk, Nduk … malang benar nasibmu. Masih kecil, baru juga lima tahun, kok sudah digondol orang. Padahal apa salahmu? Apa dosa bapak-ibumu?
Tega bener para penculik yang mencegatmu di jalan dan membawa dirimu entah ke mana. Apa mereka ndak punya anak perempuan ya? Bagaimana perasaan mereka seandainya anak perempuan mereka yang masih kecil diculik? Apa ya ndak sedih dan nelangsa?
Raisya Ali, si genduk yang lucu. Sudah berapa lama kamu menghilang? Sepekan? Oh, lebih ya? Apa kabarmu di sana, Nduk? Semoga kamu baik-baik saja. Moga-moga para penculik itu masih punya sedikit belas kasihan dan memberimu makan.
Kami di sini semua cuma bisa mendoakan agar kamu bisa cepat pulang …
UPDATE: Raisya akhirnya kembali ke pangkuan orangtuanya dengan selamat. Mereka dipertemukan di Markas Polda Metro Jaya, Jumat, 24 Agustus 2007, sekitar pukul 10.30 WIB. Penculiknya tertangkap. Alhamdulillah …
Daendels Pecas Ndahe
Juli 9, 2007 § 26 Komentar
Pernah dengar Jalan Raya Daendels? Aha, yang rajin buka buku sejarah pasti ingat.
Ya, itu sebuah poros jalan yang dibangun pada masa Hindia Belanda, membentang dari Anyer sampai Panarukan. Pembangunan jalan ini diwarnai oleh peluh dan darah pribumi. Pramudya Ananta Toer menuliskan sebuah novel yang bagus tentang jalan itu, judulnya Jalan Raya Pos.
Tapi, suka ndak suka, jalan raya ini telah menjadi urat nadi Pulau Jawa, membuat roda ekonomi bergulir lancar. Setiap Lebaran, jalan itu bahkan selalu padat oleh pemudik.
Komunitas :wikimu mengajak teman-teman semua, baik itu penulis, pewarta, blogger maupun fotografer meniti tali sejarah masa lalu dengan menyusuri Jalan Raya Pos dalam acara Rally de Bloggers Postweg. « Read the rest of this entry »


