Green Pramuka Pecas Ndahe

Agustus 11, 2017 § 4 Komentar

Apartemen Green Pramuka Jakarta menjadi sorotan publik awal pekan ini. Banyak warganet mengecam apartemen tersebut di media sosial, namun pengelolanya dianggap tak merespons dengan baik.

ilustrasi apartemen

Photo by chuttersnap on Unsplash

Bagaimana kasus tersebut dilihat dari aspek komunikasi? Bagaimana sebaiknya perusahaan menangani keluhan konsumen sehingga tak memicu serangan di media sosial, seperti dalam kasus Green Pramuka? « Read the rest of this entry »

Rumah Pecas Ndahe

Desember 16, 2013 § 61 Komentar

Rumah konon adalah miniatur Indonesia yang berubah dan sekaligus beragam. Di dalamnya, orang harus bijaksana tak mendesak-desak dan tak memaksa, tapi menolak didesak dan dipaksa.

Seorang teman pernah bercerita tentang rumah idamannya. “Gue pengen rumah kecil, kamar tidurnya 3-4 biji, kalau bisa modelnya model rumah Belanda gitu, dengan sebagian besar terbuat dari kayu, serta pake kursi rotan. Biar rumahnya kecil, gue pengen halamannya luas, banyak pohon buah-buahannya soalnya gue demen makan buah. Pengennya sih, rumah itu nggak berpagar, tapi susah ya. Nggak aman gitu, loh.”

Kawan saya lainnya menginginkan rumah berlantai dua. “Aku demen banget sama rumah nuansa country, banyak kayu berwarna gelap, minimalis. Rumah itu harus bertingkat dua, kebun belakangnya luas, halaman depannya setengah kali luas kebun belakang, dan tanpa pagar. Trus pake rumput jarum dan ada pohon-pohon cemara yang tinggi sehingga berkesan teduh.” « Read the rest of this entry »

Prada Pecas Ndahe

Juni 14, 2007 § 36 Komentar

Bayangkanlah Anne Hathaway dibungkus Prada. Kulit langsat. Hidung mbangir. Bibir merah merekah. Dada padat.

Malam itu saya akhirnya mengantarkan sosok yang dalam imaji saya adalah Anne Hathaway mencari taksi beberapa meter dari kedai kopi tempat kami bertemu. Jalanan sepi. Sedikit gelap. Kawan perempuan saya itu berkali-kali melirik arloji Bvlgari yang melingkar di tangannya. Sesekali dia menarik dan menengok handphone Nokia merah hati dari tas tangan Prada maroon, barangkali ada SMS yang masuk tapi tak terdengar bunyinya.

“Ada yang ditunggu, Jeng?” saya berbasa-basi memecahkan keheningan di antara kami.

“Ah, enggak Mas,” jawabnya singkat. Tapi saya tahu matanya sangat gelisah.

Setelah hampir setengah jam, yang kami tunggu tak lewat juga. Saya menawarkan diri mengantarnya pulang naik gerobak butut hitam itu. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with apartemen at Ndoro Kakung.