Kemangi Pecas Ndahe

September 12, 2008 § 70 Komentar

Perempuan itu wangi daun-daun kemangi. Khas. Kuat, tapi lembut. Aku bertemu dengannya pada sebuah siang yang redup di tepi kebun tebu.

Langkahnya ringan, melayang, nyaris tanpa suara, seperti kijang di rimbun pepohonan hutan. Geraknya menawan, mirip penari-penari bedoyo kasultanan.

Matahari tunduk di bawah hitam rambutnya. Rembulan lesi disiram bening matanya. Perempuan itu wangi daun-daun kemangi.

Kami berserobok jalan di sela tebu-tebu yang tinggi menguning. Kupu-kupu berlarian, burung berkicauan, dan ranting-ranting bertautan ketika dia mendesah pelan, “Maaf, numpang lewat.”

“Silakan. Puan, hendak ke mana?” tanyaku sopan.

“Ke titik nol,” jawabnya singkat.

Aku terpana memandang parasnya yang putih dan sedingin puncak Himalaya. Apakah api itu sudah pergi? Ke manakah gerangan hasrat dan gelora?

Perempuan itu tak menoleh. Langkahnya lurus menuju belukar. Kian lama, kian samar. Hanya wangi daun-daun kemangi yang masih tertinggal di ujung hidung. Meremas angan, mengeremus kenangan. Kuat, tapi lembut, mesra.

>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean mau mengudap lalapan daun kemangi untuk buka puasa nanti?

Iklan

Imajinasi Pecas Ndahe

September 9, 2008 § 74 Komentar

Seorang kawan lama mendadak menelepon tadi pagi menjelang siang. Setelah berbasa-basi melempar kata yang tetap segar karena kami memang selalu menghangatkan percakapan, bagaimanapun caranya, dia mengajukan pertanyaan yang agak sulit saya jawab.

“Jawab dengan jujur. Seandainya kamu punya lebih banyak keleluasaan dan uang, kamu mau bikin apa di Pesta Blogger 2008? Seliar apa sih imajinasimu?” dia bertanya.

“Kenapa sampean ingin tahu imajinasi saya?” saya balik bertanya.

“Ha-ha-ha … sudahlah, nggak usah ngeles!” kata kawan saya seraya tergelak. “Ayo jawab!”

Saya tersenyum kecut. Taktik yang biasa saya pakai untuk membelokkan percakapan ternyata sudah terendus oleh kawan setali jiwa saya itu.

“Saya sudah memaparkan semua rencana di blog Pesta Blogger, sampean bisa membacanya sendiri di sana. Apakah rencana itu bakal terwujud atau tidak, ya mari kita usahakan bersama,” jawab saya.

“Halah, kayak aku ini baru kenal kamu kemarin. Itu kan penjelasan resmi, versi press release. Aku ingin tahu versi isi hatimu … seperti biasanya,” kata teman saya setengah mendesak.

Eits, dia rupanya melempar kail. Apakah saya ikan yang dungu? « Read the rest of this entry »

Hening Pecas Ndahe

Agustus 5, 2008 § 78 Komentar

Di tengah suara bising dan berisik yang berkelindan menjadi sengkarut, mungkin sekarang saatnya kita berhenti sejenak dan menengok telaga yang tenang.

Becerminlah dan melihat lebih dalam di balik bayang-bayang yang lindap. Barangkali kini waktunya kita merumuskan kembali apa yang mesti kita susun dalam ujaran kehidupan.

Begitulah piwulang Paklik Isnogud yang selalu terngiang di telinga setiap kali saya di tengah kelimun kabut dan badai yang membutakan mata angin.

“Sebab hidup,” kata Paklik, “bukan cuma kata-kata yang berisik. Diam, kekosongan, juga keheningan, adalah penduduk lain dari kehidupan.” « Read the rest of this entry »

Daun Pecas Ndahe

Juni 19, 2007 § 23 Komentar

Daun-daun kenangan berdesah sedih dalam gelap — Longfellow.

Saya bangun ketika rumah sudah sepi. Anak-anak pasti sudah berangkat ke sekolah diantar ibunya sejam yang lalu.

Angin merayap pelan melalui jendela mengelus badan. Saya menengok keluar dan melihat daun-daun rontok satu-satu di halaman. Kemarau tampaknya sebentar lagi datang.

Setengah mengantuk, agak keliyengan, saya ke dapur, mencari-cari toples kopi dan gula. Ah, rasanya tak perlu. Saya lihat ada secangkir kopi hangat masih mengepul di meja. Istri saya tadi pasti sempat membuatkan sebelum pergi. Ritual setiap pagi.

Saya memang suka kopi. Rasanya ada yang kurang jika bangun pagi dan tak menyesap cairan hitam berkafein itu. Biasanya saya menikmatinya menjelang mandi. Baru setelah itu berangkat ke pabrik. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with daun at Ndoro Kakung.