Daun Pecas Ndahe

Juni 19, 2007 § 23 Komentar

Daun-daun kenangan berdesah sedih dalam gelap — Longfellow.

Saya bangun ketika rumah sudah sepi. Anak-anak pasti sudah berangkat ke sekolah diantar ibunya sejam yang lalu.

Angin merayap pelan melalui jendela mengelus badan. Saya menengok keluar dan melihat daun-daun rontok satu-satu di halaman. Kemarau tampaknya sebentar lagi datang.

Setengah mengantuk, agak keliyengan, saya ke dapur, mencari-cari toples kopi dan gula. Ah, rasanya tak perlu. Saya lihat ada secangkir kopi hangat masih mengepul di meja. Istri saya tadi pasti sempat membuatkan sebelum pergi. Ritual setiap pagi.

Saya memang suka kopi. Rasanya ada yang kurang jika bangun pagi dan tak menyesap cairan hitam berkafein itu. Biasanya saya menikmatinya menjelang mandi. Baru setelah itu berangkat ke pabrik.

Tapi, saya ndak pernah minum kopi lebih dari dua cangkir sehari. Saya pernah baca di sebuah majalah kesehatan, minum kopi terlalu banyak tak baik buat perut, juga kesehatan. Saya kira segala yang “terlalu” memang tak pernah baik.

Nah, perempuan berwajah malaikat itu bukan hanya suka, ia keranjingan kopi. Ia bisa minum bergelas-gelas kopi dalam sehari hanya untuk menemani acara mengisap Marlboro mentolnya itu. Saya ingat, dia pernah mengatakan sesuatu tentang kopi dan percakapan.

“Good communication is as stimulating as black coffee, Mas,” katanya mengutip Anne Morrow Lindbergh sambil mengaduk secangkir kopi Irlandia di kedai langganan kami itu.

Ini pertemuan kami yang kesekian di tempat yang sama — tempat favoritnya. Hampir semua pelayannya hapal kami berdua, termasuk apa yang selalu kami pesan. Saya pernah mengusulkan kedai lain. Ia menolak.

“Enakan di sini, Mas. Tempatnya cozy,” katanya sambil memeluk pinggang saya dengan manja.

Kalau sudah begini, saya biasanya nyerah. Percuma pula berdebat, ngotot membawanya ke tempat lain dengan risiko bertemu kawan-kawan saya di pabrik yang terkenal sebagai petualang-petualang kedai di Jakarta itu.

“Ndak heran kalau komunikasi itu begitu menggairahkan seperti kopi hitam, lah wong kamu aja maunya ngajak ngobrol saya terus ya, Jeng.”

Ia tergelak. “Ah, si Mas … ”

“Sebetulnya bukan kopi yang membuat aku bergairah, tapi kamu, Mas.”

Halah. “Saya ini apalah, Jeng. Lah wong ndesit, kuper, pemalu, kayak gini kok menggairahkan. Kamu mengada-ada, ah … “

Lagi-lagi ia tergelak. “Jangan minder gitu ah, Mas. Kamu itu ndak sadar ya? Atau kamu sebetulnya pura-pura aja? Kamu tuh punya sesuatu yang ndak setiap laki-laki punya. Kamu punya sesuatu yang dibutuhkan perempuan. Kata-kata yang menyejukkan dan hati yang meneduhkan. Kamu sabar, mau mendengarkan keluhan. Perempuan butuh laki-laki seperti itu, Mas. Aku berani taruhan, pacarmu dulu pasti banyak ya, Mas?”

“Banyak dari Hong Kong? Aku baru punya pacar setelah kerja di Jakarta. Pacar satu-satunya itu ya yang sekarang jadi istriku. Aku pemalu, ndak punya keberanian mendekati gadis-gadis. Apalagi meminangnya … ”

“Huuu … boong banget. Dengan pesona dan gombalmu yang kek gini, kamu pasti gampang menaklukan setiap perempuan yang kesepian di Jakarta ini, Mas,” katanya sambil mencolek ujung hidung saya dengan jarinya yang lentik.

“Eh, saya kasih tahu ya, Jeng. Saya tuh bukan penakluk perempuan. Saya juga bukan orang yang sengaja datang ke Jakarta buat nyari perempuan. Saya cuma mau kerja, nyari duit, biar saya bisa menghidupi keluarga. Biar saya bisa menyisihkan sedikit uang untuk ibu di Yogya sana. Itu saja, Jeng.”

“Loh, loh, kok marah sih, Mas? Aku kan ndak bermaksud menyinggung egomu. Maaf deh, Mas,” katanya dengan wajah memelas.

Saya lihat ada setitik kristal bening di ujung matanya. Saya trenyuh, ndak tega.

“Kita jalan-jalan saja yuk, Jeng,” ajak saya untuk mengubah suasana.

Ia mengangguk, dan mulai tersenyum lagi.

Speaker di kedai itu memperdengarkan suara Phil Collins.

One more night. Just give me one more night …

Pagi itu, saya terkenang potongan-potongan hari yang pernah kami lalui bersama-sama. Ada saat-saat yang menyenangkan, banyak pula yang mengesalkan. Adegan-adegan itu berputar ulang dengan cepat seperti film dokumenter bikinan Michael Moore.

Saya menduga dia belum bangun pagi ini di rumah maminya. Setelah melewatkan reuni pertama kami sejak empat atau lima tahun yang lalu itu tadi malam, ia pasti tidur panjang. Maminya pasti juga ndak tega membangunkan anak bungsunya itu. Mami sosok yang terlalu baik, terlalu penuh pengertian.

Saya menimbang-nimbang apakah perlu meneleponnya sekarang, sekadar bertanya sudah bangun atau belum. Atau haruskah saya menelepon maminya untuk minta maaf karena tadi malam tak sempat bertemu?

Dalam bimbang itulah, handphone saya berbunyi. Aha, sebuah kebetulan. Saya lihat layar. Diajeng calling.

“Halo Jeng … “

“Pagi Mas, ini Mami … “

Ups. Mami? Rasanya sudah berabad yang lalu sejak terakhir saya mendengar suaranya lewat telepon. Ada apa? Mendadak saya seperti kesetrum listrik ribuan watt. Syaraf saya menegang. Peluh menitik satu-satu …

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 23 Responses to Daun Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Daun Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: