eNovel Pecas Ndahe

Januari 6, 2010 § 66 Komentar

Pada mulanya adalah sketsa. Cerita-cerita pendek dan ringan yang muncul beberapa hari sekali di blog ini. Lama-lama menjadi cerita bersambung karena setiap bagian berkaitan dengan bagian berikutnya.

Terbit pertama kali dengan judul Lajang pada 13 Juni 2007 dan diakhiri oleh Harapan pada 17 September 2007, kisah bersambung ini mengambil tokoh sentral bernama Diajeng.

Sketsa-sketsa itu bercerita tentang cinta yang pedih antara seorang family man dan perempuan urban. Sebuah kisah klise tapi selalu memancing perhatian orang. Saya ingat, setiap kali cerpen tentang Diajeng terbit, para pembaca seperti sampean berkomentar macam-macam. Dan beberapa pembaca terus terang mengaku selalu menunggu kelanjutan kisah itu — sesuatu yang membuat saya terharu. « Read the rest of this entry »

Iklan

Milan Pecas Ndahe

November 19, 2007 § 52 Komentar

Kota Milan baru bangun dari tidurnya ketika kami berjumpa di trotoar depan Hotel Principe di Savoia, di Piazza Della Repubblica 17, yang berdiri pada 1920 itu.

Langit jingga, seperti warna dinding hotel yang diterpa sinar matahari pagi yang meletek. Bayang-bayang pepohonan lindap. Embun merabas. Burung-burung melayap di antara dedaunan.

Jalanan yang diaspal lancap itu lengang. Hanya satu dua prahoto lewat. Lampu jalanan mulai padam satu per satu. Angin November mengremus kulit. Pedih. Saya lihat papan penunjuk temperatur di depan hotel menunjukkan angka 3 derajat Celsius. Pantes!

Diajeng merapikan mafela dan mengancingkan jaket kulit merahnya rapat-rapat. Parasnya yang lawa kemerahan tanda kedinginan. Tubuhnya bau lavender. Bibirnya dari tadi tak berhenti cengar-cengir … iseng. Saya tak tahan untuk mengacak-acak rambutnya.

Pagi itu Diajeng mau mengajak saya pelesir keliling Kota Milan. Ia hendak memamerkan kota yang membuatnya betah dan lupa pada seluruh kepedihan yang ditinggalkannya di Jakarta.

“Jadi kita mau ke mana dulu nih, Mas?” tanya Diajeng. “Ke Basilica di San Simpliciano yuk!” « Read the rest of this entry »

Bos Pecas Ndahe

Juli 18, 2007 § 16 Komentar

Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana …

Ruangan para bos terletak di belakang pabrik, terpisah dari bangunan utama. Luasnya sekitar dua puluh meter persegi, cukup lapang untuk menampung para bos yang cuma dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki. Bagian luar ruangan mereka berwarna putih. Bersih. Kami, para buruh, menjulukinya White House.

Dinding dalamnya yang tak disemen juga dicat putih. Foto-foto mereka dalam pelbagai ukuran tertempel di dinding kiri dan kanan – di antara lemari kayu berisi ratusan buku dan lemari kaca berisi piala, plakat, dan benda-benda memorabilia lainnya – menyerupai pameran simbol kesuksesan atau narsisme mereka. Ada foto bos sedang bersalaman dengan presiden dan menteri-menteri, bos merangkul seorang pejuang Afganistan, bos menerima penghargaan dari seorang utusan Bank Dunia, bos di atas kapal pesiar seorang taipan, dan banyak lagi.

Di dinding belakang terdapat dua jendela lebar dengan gorden kain broken white tanpa corak. Di tengah ruangan ada dua meja besar dengan masing-masing satu komputer di atasnya. Dari perangkat kerja yang tersambung oleh sebuah sistem jaringan itulah para bos memantau proses kerja para buruh. « Read the rest of this entry »

Berlian Pecas Ndahe

Juli 16, 2007 § 28 Komentar

Hujan mengamuk. Sesekali garis kilat menyambar dan memecahkan tirai hujan menjadi air terjun berlian yang berkilauan. Matahari bersembunyi di pojok kegelapan …

Hawa dingin pagi hari yang tak tertahankan membuat saya mandi cepat-cepat. Lagi pula saya harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tinggal beberapa bagian lagi. Sebentar lagi para bos datang dan menagih semuanya. Bisa gawat urusannya kalau saya melanggar waktu yang sudah mereka tetapkan.

Hampir tengah hari ketika saya membubuhkan titik terakhir sebagai penutup pekerjaan. Tinggal kirim via jaringan. Beres. Saya melirik jam di dinding. Hm, waktunya makan. Tapi, makan apa yang enak buat siang-siang yang mendung begini?

Mendadak telepon di meja berdering berbarengan saat saya hendak angkat pantat dari kursi.

Siapa, sih? Bos? Ada tugas yang terlewat? « Read the rest of this entry »

Kinky Pecas Ndahe

Juli 5, 2007 § 27 Komentar

Sejarah bisa dimulai dari sebuah ketidaksengajaan. Hanya butuh satu menit untuk membuatnya.

Tak selamanya Diajeng mengirim email berisi rasa cemasnya, ketakutan, atau kekangenannya pada saya. Sering kali ia juga menulis sesuatu yang remeh temeh atau sebaliknya justru serius. Ia misalnya pernah bertanya, “Mas tahu nggak, butir-butir Pancasila itu apa aja sih?“

Halah. Opo tumon sih? Mosok butir-butir Pancasila ditanyakan? Siapa yang hapal? Lagi pula ketika dia mengirim email waktu itu saya sedang ditunggu-tunggu para bos yang ingin segera tahu hasil proyek yang tengah saya kerjakan. Tapi, Diajeng mendesak, minta emailnya segera dibalas saat itu juga.

Terpaksa saya telepon. Ketika saya tanya mengapa ia menanyakan butir-butir Pancasila dan bukan butir-butir pasir di laut, ia langsung menelepon saya. Sambil ngakak ia menjawab, “Iseng aja, Mas. Abis, Masnya nggak nelepon-nelepon sih …”

Kali lain ia mengajak saya mengulas film yang baru saja kami tonton. Pernah juga ia mengirim email tentang sesuatu yang sangat lain daripada sebelumnya. Sesuatu yang berbeda. A kinky one. « Read the rest of this entry »

Kenangan Pecas Ndahe

Juli 4, 2007 § 18 Komentar

Gambar-gambar kenangan itu hidup lagi
Menari di atas pentas hati. Tapi, ia lekas pergi …

Membuka-buka kembali email-email lama Diajeng sama seperti kita membalikkan album foto masa lalu. Setiap surat seolah potret lama yang mengingatkan saya pada kenangan yang tak mungkin terulang lagi. Benar kata orang, dulu cuma abadi di masa lalu. Dan, tak bisa diapa-apakan.

Ada kenangan yang menyenangkan. Tak sedikit yang menyakitkan. Saya pun paham dan bisa menyesap kegetiran yang sama dengan yang Diajeng rasakan dan bicarakan dengan teman perempuannya itu.

It hurts real bad when you know what you want but you just can’t have it. Saya tahu, Jeng. Been there. Done that.

Siang ini, tujuh tahun kemudian, di pabrik yang mulai berdenyut, saya menikmati setiap lembar kenangan dari email-email yang pernah Diajeng kirim. Well, kenangan memang mengasyikkan untuk diulang-ulang, seperti halnya kita juga masih suka memutar lagu-lagu kelas “melodi memori” itu. « Read the rest of this entry »

Lonely Pecas Ndahe

Juli 3, 2007 § 26 Komentar

Hanya angin yang tahu betapa sepinya padang-padang ilalang. Hanya angin yang bisa merasakan perasaan kesepian sebatang pohon yang nyaris tumbang di tengah hutan …

Saya memutuskan lebih baik segera bekerja daripada dilanda kebimbangan. Matahari sudah cukup tinggi. Banyak pekerjaan menanti. Saya memang harus ke Melrimba dan menemui Diajeng. Tapi, itu bisa nanti. Toh perjalanan ke sana ndak sampai dua jam. Saya bisa sampai menjelang sore. Sekarang pun dia pasti belum sampai di sana.

Saya naik ke lantai dua, menuju ruangan saya di pojokan. Komputer sudah menyala, langsung mengakses Internet dan email. Saya tergoda membuka kembali surat-surat lama yang tersimpan di archive. Surat-surat dari Diajeng.

Dulu kami memang sering berdiskusi lewat email tentang apa saja, termasuk hubungan kami. Saya sering mengungkapkan kegelisahan saya tentang hubungan ini. Begitu juga dia.

Tapi, kemudian, biasanya kami saling menguatkan. Begitu seterusnya. Dengan cara itulah kami bertahan. Sampai kemudian saya pergi begitu saja dari apartemennya pagi itu. Dan tak pernah kembali lagi. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with diajeng at Ndoro Kakung.