Bos Pecas Ndahe

Juli 18, 2007 § 16 Komentar

Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana …

Ruangan para bos terletak di belakang pabrik, terpisah dari bangunan utama. Luasnya sekitar dua puluh meter persegi, cukup lapang untuk menampung para bos yang cuma dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki. Bagian luar ruangan mereka berwarna putih. Bersih. Kami, para buruh, menjulukinya White House.

Dinding dalamnya yang tak disemen juga dicat putih. Foto-foto mereka dalam pelbagai ukuran tertempel di dinding kiri dan kanan – di antara lemari kayu berisi ratusan buku dan lemari kaca berisi piala, plakat, dan benda-benda memorabilia lainnya – menyerupai pameran simbol kesuksesan atau narsisme mereka. Ada foto bos sedang bersalaman dengan presiden dan menteri-menteri, bos merangkul seorang pejuang Afganistan, bos menerima penghargaan dari seorang utusan Bank Dunia, bos di atas kapal pesiar seorang taipan, dan banyak lagi.

Di dinding belakang terdapat dua jendela lebar dengan gorden kain broken white tanpa corak. Di tengah ruangan ada dua meja besar dengan masing-masing satu komputer di atasnya. Dari perangkat kerja yang tersambung oleh sebuah sistem jaringan itulah para bos memantau proses kerja para buruh.

Para bos biasanya duduk di atas kursi kulit bersandaran tinggi. Bila sedang duduk dan bekerja, telinga mereka nyaris selalu tertempel di gagang telepon. Entah dengan siapa saja mereka bicara hampir seharian lewat alat komunikasi jarak jauh itu. Kadang saya merasa ada sesuatu yang aneh di antara mereka. Mengapa mereka justru jarang terlihat saling bercakap-cakap meski berada dalam satu ruangan?

Ah, embuhlah. Saya ndak mau ambil pusing urusan orang. Apalagi orang-orang seperti dua bos saya itu. Mereka boleh dikatakan legenda-legenda hidup di bidangnya. Meski usia dua orang itu belum lima puluh tahun, kaki mereka sudah melanglang nyaris ke seluruh pojok dunia. Mereka bertemu dengan bermacam-macam orang dari pelbagai kalangan. Tugas dan pekerjaan di industri yang mereka tekuni selama bertahun-tahun telah memahat pengalaman mereka. Banyak orang mengakui karya mereka nyaris tiada tanding.

Saya menaruh hormat pada mereka. Ibarat dalam jagad persilatan, mereka sepasang pendekar dunia kangouw. Bu Kek Siansu. Eh, atau mungkin Sepasang Pendekar Rajawali keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es karya Asmaraman S. Kho Ping Ho itu, Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee. Di depan mereka, saya seperti anak kemarin sore tanpa ilmu apa pun. Tidak punya ginkang, tidak juga iwekang. Jadi saya harus menjura dalam-dalam.

Ke ruangan para dewa itulah kaki saya menuju pagi itu, beberapa menit setelah sekretaris bos memberitahu bahwa saya dipanggil dengan pesan “Segera!”

Sindrom anak buah yang selalu curiga membuat benak saya penuh prasangka. Ada apa mereka memanggil? Adakah kesalahan yang telah saya lakukan? Ada pekerjaan yang belum beres? Atau ada sesuatu yang menyangkut urusan pribadi.

Hari-hari ini pabrik saya memang dipenuhi oleh banyak rumor dan gosip. Salah satunya tentang kedekatan saya dan Diajeng. Beberapa di antara mereka berkomentar langsung ke saya. Sebagian lagi hanya berani menyindir-nyindir.

“Masih laku juga, Mas? Bagi rahasianya dong …”

“Wah, kayaknya ceria terus nih, sekarang … ”

“Hati-hati, Mas. Cewek zaman sekarang galak, hihihi …”

“Kalau sudah bosen, bilang-bilang ya, Mas …”

“Nggak takut sama yang di rumah, Mas? Aku juga perempuan, bisa ikut merasakan sakitnya dikhianati …”

“Ingat anak-anak, Mas…”

Saya cuma bisa senyum kecut dan tak memedulikan mereka. Percuma menanggapi ocehan yang saya anggap sarkastis dan pedas itu. Mereka tahu apa. Mereka pasti tak paham bahwa kedekatan saya dan Diajeng tak lebih dari kedekatan seorang guru dan murid. Diajeng bertanya, saya menjawab. Technically speaking, saya tak melakukan sesuatu yang lebih jauh dari sekadar duduk berdekatan.

Memang Diajenglah yang nyaris setiap pagi meletakkan makanan kecil, sekadar kudapan, di meja saya. Beberapa potong semar mendem, arem-arem, bolu gulung, atau brownies. “Semuanya buatan mami,” katanya. “Buat sarapan, Mas. Tadi malam nglembur lagi, kan?” Tapi, ya cuma itu saja. Tidak lebih.

Memang Diajeng jugalah yang hampir selalu mengingatkan saya kapan harus menemui orang-orang di luar kantor itu, kapan saya mesti makan siang, atau sekadar memberi tahu ada pameran lukisan di Kemang, pembacaan puisi di Gedung Kesenian, atau peragaan busana di JCC. Kadang kami nonton bersama karena dia memang suka puisi, lukisan, juga trend busana. Kadang saya berangkat sendiri sebab pekerjaan mengharuskan demikian dan Diajeng punya acara lain.

Mungkin karena perhatian-perhatian kecil Diajeng secara khusus ke saya itulah para buruh bergunjing atau mungkin iri hati. Tapi, saya bisa apa? Saya toh tak perlu menjelas-jelaskan pada setiap orang bahwa hubungan kami tak lebih sekadar teman.

Well, saya justru lebih memikirkan panggilan para bos yang mendadak. Apakah mereka juga mau menanyakan soal hubungan saya dan Diajeng? Wah, kalau iya, jelas ndak bener. Ndak bisa bos mencampuri urusan pribadi buruh-buruhnya. Saya harus melawan. Bila perlu sampai titik darah penghabisan. Ini prinsip, Bung!

Begitu sampai di depan ruangan mereka, agak ragu-ragu saya mengetuk pintu.

Tok, tok, tok …

“Masuk, masuk … pintunya nggak dikunci kok.”

Suara bos perempuan.

Saya membuka pintu dan masuk ruangan. “Pagi Bu, Pak,” saya menyapa mereka ringan.

“Wah … pagi, Mas. Sudah saya tunggu dari tadi. Ayo, silakan duduk. Mau minum apa?” tanya bos perempuan sambil berdiri dari kursinya.

Ah, keramahan yang alami.

Bos laki-laki ikut berdiri dan tersenyum lebar. “Makin seger saja sampean, Mas,” katanya.

“Halah, seger apa sih, Pak? Lah wong kurus kering begini kok dibilang seger. Eh, ndak usah repot-repot, Bu. Saya baru saja ngopi tadi di meja.”

“Bener nih?”

“Iya, Pak. Saya mau cepat-cepat saja. Banyak kerjaan sudah menumpuk dan menunggu. Kalau telat nanti sampean marah,” jawab saya setengah bercanda.

“Haiyah, sampean memang paling bisa, Mas,” kata bos perempuan sambil tersenyum.

Wah, ini tak seperti yang saya bayangkan semula. Tak ada tanda-tanda mereka akan bertanya sesuatu yang serius. Atau pribadi. Mereka justru terlihat santai. Tak menunjukkan mau marah atau bersikap layaknya atasan kepada bawahan. Alarm kecurigaan saya matikan.

“Ngomong-ngomong, ada apa sih, bos? Kenapa saya dipanggil?”

Mereka tertawa. Saya terpana. Asyem ki. Lah kok malah semakin riang?

“Anak muda selalu nggak sabar rupanya. Nggak ada apa-apa, Mas. Nggak ada yang serius kok. Satu-satunya yang serius ya cuma ini, Mas,” jawab bos laki-laki sambil mengangsurkan sepucuk amplop putih ke saya.

Jantung saya berdebar. “Apa ini?” tanya saya.

“Itu isinya SK promosi untuk sampean, Mas. Kenaikan pangkat.”

“Promosi? Kenaikan pangkat? Kok bisa?” saya setengah tak percaya.

Bos laki-lakilah yang kemudian menerangkan semuanya. Mereka menganggap saya telah bekerja begitu keras, lebih keras dibanding buruh-buruh lain. Hasil kerja saya pun ternyata jauh lebih tinggi dari yang mereka targetnya semula. Singkat kata, pabrik untung. Mereka senang. Dan, saya layak mendapatkan imbalan.

“Ndak percuma sampean sering begadang di pabrik, Mas,” kata bos perempuan.

“Ah, ini semua kan juga berkat sampean berdua bos. Berkat bimbingan sampean juga saya bisa begini. Buat saya, ini amanah.”

“Ya sudah, Mas. Moga-moga tahun depan sampean bekerja lebih keras lagi. Lebih produktif. Saya juga ingin tahun depan sampean mendapatkan lagi amplop yang sama,” kata bos laki-laki.

“Moga-moga, Bos,” jawab saya takzim.

Saya kaget sebenarnya. Aneh, bos sama sekali tak menyebut satu kata pun soal Diajeng. Bahkan tentang kedekatan kami.

Begitu keluar dari ruangan, setelah mendapatkan kejutan yang menyenangkan itu, kaki saya terasa ringan sekali. Setiap kali kali melangkah rasanya seperti melayang. Terbang. Hati saya seolah dipenuhi bunga warna-warni cerah. Buyar sudah segala prasangka. Punah sudah semua rasa curiga.

Setengah berlari saya mencari Diajeng. Dia layak menjadi orang yang pertama kali mendengar kabar menggembirakan ini.

Saya menemukan Diajeng sedang duduk di belakang meja kerjanya. Saya acung-acungkan amplop itu di depan wajahnya yang terbengong-bengong melihat saya cengengesan.

“Apa sih, Mas?” tanyanya kebingungan.

“Buka deh, baca saja sendiri,” jawab saya sambil memberikan amplop itu.

Ia segera menyobek amplop itu perlahan, mengeluarkan isinya, lalu membacanya. Sebentar kemudian parasnya berseri. Senyumnya mengembang.

“Wah, selamat. Kamu hebat, Mas. Ayo, kita harus merayakannya,” katanya senang.

“Pasti. Kamu yang atur ya.”

“Beres. Jemput aku nanti jam 8?”

“Sip.”

Saya ingat, malam itu kami nyaris batal merayakan sukses kecil itu. Bos memberi tugas mendadak. Saya harus ke Gedung Kesenian menonton konser musik kamar. Diajeng sempat merengut, tapi setangkai mawar merah berhasil menaklukkan hatinya.

Dan, sepulang dari Gedung Kesenian, setelah jajan di depan Keris Gallery, Menteng, sehabis hujan yang menggila, perayaan yang tertunda itu akhirnya jadi juga kami lakukan di apartemennya — untuk pertama kalinya setelah enam bulan kami berkenalan.

Itulah kejutan di balik tikungan kehidupan saya yang akan mengubah segalanya …

Iklan

Tagged: , , ,

§ 16 Responses to Bos Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bos Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: