Kinky Pecas Ndahe

Juli 5, 2007 § 27 Komentar

Sejarah bisa dimulai dari sebuah ketidaksengajaan. Hanya butuh satu menit untuk membuatnya.

Tak selamanya Diajeng mengirim email berisi rasa cemasnya, ketakutan, atau kekangenannya pada saya. Sering kali ia juga menulis sesuatu yang remeh temeh atau sebaliknya justru serius. Ia misalnya pernah bertanya, “Mas tahu nggak, butir-butir Pancasila itu apa aja sih?“

Halah. Opo tumon sih? Mosok butir-butir Pancasila ditanyakan? Siapa yang hapal? Lagi pula ketika dia mengirim email waktu itu saya sedang ditunggu-tunggu para bos yang ingin segera tahu hasil proyek yang tengah saya kerjakan. Tapi, Diajeng mendesak, minta emailnya segera dibalas saat itu juga.

Terpaksa saya telepon. Ketika saya tanya mengapa ia menanyakan butir-butir Pancasila dan bukan butir-butir pasir di laut, ia langsung menelepon saya. Sambil ngakak ia menjawab, “Iseng aja, Mas. Abis, Masnya nggak nelepon-nelepon sih …”

Kali lain ia mengajak saya mengulas film yang baru saja kami tonton. Pernah juga ia mengirim email tentang sesuatu yang sangat lain daripada sebelumnya. Sesuatu yang berbeda. A kinky one.

Email itu dia tulis tak lama setelah menonton film Million Dollar Hotel. Ia memang menonton sendirian. Saya tak bisa menemani karena ada tugas dari pabrik yang tak bisa ditinggal. Ia nyaris ngamuk waktu itu karena saya menolak ajakannya. Soalnya sudah berhari-hari kami tak bertemu. Dan, ia begitu sangat menginginkan saya. Tapi, setelah saya beri alasan karena ada tugas dari pabrik, barulah ia mengerti dan mau berangkat ke bioskop sendiri. Tentu saja tetap dengan wajah cemberut.

Nah, email itu menunjukkan betapa iseng dan gokilnya Diajeng.

From: diajeng@hotmail.com
To: mas@hotmail.com
Subject: kinky one
Date: 02 Dec 2000 22:46:56 -0000

Dear my beloved,

I wanna tell you a story – a kinky one. Kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu ya, Mas, hehehe … Mau tahu nggak?

Well, gini ceritanya. Waktu itu film sudah diputar setengahnya. Mulai bosan, aku melihat ke kiri dan ke kanan. Uh, di balkon ini semuanya berpasang-pasangan. Cuma aku aja yang sendirian, sebel … Lantas aku jadi terkenang-kenang pada gemuruh keinginan yang sama-sama kita rasakan.

Ya sudah, aku cuma bisa menarik nafas. Panjang. Betul-betul panjang. Sambil meluruskan kaki yang menjuntai ke kursi depanku (kurang ajar betul aku ya? kalau ini bioskop 21, mungkin aku sudah diusir keluar), aku menengadah ke langit-langit bioskop. Terlihat burai blok-blok sinar menyembur keluar dari ruang proyektor. Cahayanya bergerak-gerak sesuai dengan adegan yang berganti-ganti. Aku jadi ingat khayalan kita tentang apa yang bisa kita lakukan di ruang proyektor.

Mataku berkeliling. Sebenarnya tentu menarik kalau kita ‘melakukannya’ di ruang preview bioskop ya. Kita tinggal pilih kursi yang mana saja kan? Begitu pikiran macam itu terlintas, langsunglah nafsu menyergap. Waduh, keinginan itu sudah mendesak-desak keluar semenjak aku membuka lembar-lembar buku di QB.

Ya sudahlah. Aku menyerah. So I put my black jacket on my lap to cover the most intimate part of my feminity. I unzipped my pant and excited myself, wishing it was your finger inside me. Picturing you pumping me, I reached my peak somewhere around the end of the movie.

So, when Tom Tom ran on the attic in the slow motion and waved her lover goodbye, I was gasping and biting my lips trying not to produce any sounds. When Tom Tom finally jumped, my body was trembling hard. Just before the credit title was shown, I zipped myself back.

I lit my cigarette up while walking out of the cinema.

Quite dramatic, isn’t it, Mas? Hahaha …

Saya tergelak panjang sambil misuh-misuh bila ingat email itu. Diajeng memang punya selera humor yang luar biasa. That’s why I like … err … love her so much.

Dia memang perempuan yang luar biasa. Ia dari jenis yang suka berterus terang, spontan, dan apa adanya. Kalau ngomong ndak pakai tedeng aling-aling. Saya kadang suka malu sendiri kalau mendengar. Well, mungkin sudah bawaan dia sejak lahir. Saya bisa apa? Padahal saya tak pernah menyangka dia seperti itu bahkan sejak pertama bertemu.

Saya pertama kali berjumpa dengannya di pabrik tujuh tahun silam. Pada sebuah pagi yang dingin di bulan April. Saat saya hendak mandi.

Waktu itu saya masih rookie di pabrik ini. Lagi giat-giatnya bekerja. Hampir 24 jam per hari, 7 hari sepekan, 30 hari dalam sebulan, saya ada di pabrik. Bahkan tak jarang saya menginap di pabrik pada hari-hari tertentu. Biasanya menjelang akhir pekan.

Para bos suka meledek, kuda pacu yang baik memang harus diberi banyak beban. Saya cuma bisa nyengir mendengarnya. Tapi, terus terang saya memang menyukai pekerjaan — dan bekerja — di pabrik ini. Jadi saya ndak pernah merasa keberatan apalagi menolak setiap pekerjaan yang para bos berikan.

Suatu pagi, saya terbangun ketika pabrik sedang memutar kencang mesin-mesin produksinya. Semua komputer di meja sudah menyala. Begitu juga pendingin-pendingin ruangan.

Saya membuka mata dengan segan. Malas tepatnya. Tadi malam saya memang bergadang dan baru menjelang subuh memejamkan mata. Ada satu tugas yang mesti saya selesaikan pagi itu juga.

Dengan mata setengah terpejam, langkah gontai, saya ke kamar mandi sambil menenteng sabun, handuk, sikat gigi, dan odol. Seperti biasa, saya cuma memakai sarung dan kaos oblong – “seragam kebangsaan” saya setiap kali tidur di pabrik.

Tangan saya sedang terulur hendak membuka pintu kamar mandi ketika mendadak saya seperti melihat ada sesosok bayangan dari arah dalam yang mau keluar. Begitu tiba-tiba. Tangan saya nyaris menyentuh dadanya. Seorang perempuan!

“Hei, awas!” perempuan itu berteriak kaget.

“Oh, maaf. Kirain ndak ada orang,” seru saya tak kalah kaget.

Saya mundur. Sedikit kikuk. “Eh, Anda siapa?” tanya saya heran. Rasanya baru kali ini saya melihat dia. Karyawan baru?

Dia tersenyum. Busyet. Matanya itu lo, Bung!

“Sori, Pak. Eh, Mas. Saya karyawan magang. Baru masuk hari ini,” jawabnya.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut saya.

“Kenalkan, saya Diajeng … “

Saya tergagap. “Ah, eh, salam kenal kembali. Saya mau mandi.”

“Iya, iya … Saya tahu, Mas,” dia terkekeh. “Saya panggil ‘Mas’ aja ya? Boleh, kan?”

Dalam hati saya misuh-misuh. Asyu. Pagi-pagi kok sudah ada perempuan cantik di pabrik. Bidadari dari mana? Wangi betul tubuhnya.

Begitulah saya bertemu dia pertama kali. Hanya semenit. Tidak lebih.

Saya tak pernah menyangka, yang satu menit itu akan membawa saya bertamasya ke masa-masa yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Bersama Diajeng.

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 27 Responses to Kinky Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kinky Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: