November 19, 2007 10:08 am
Kota Milan baru bangun dari tidurnya ketika kami berjumpa di trotoar depan Hotel Principe di Savoia, di Piazza Della Repubblica 17, yang berdiri pada 1920 itu.
Langit jingga, seperti warna dinding hotel yang diterpa sinar matahari pagi yang meletek. Bayang-bayang pepohonan lindap. Embun merabas. Burung-burung melayap di antara dedaunan.
Jalanan yang diaspal lancap itu lengang. Hanya satu dua prahoto lewat. Lampu jalanan mulai padam satu per satu. Angin November mengremus kulit. Pedih. Saya lihat papan penunjuk temperatur di depan hotel menunjukkan angka 3 derajat Celsius. Pantes!
Diajeng merapikan mafela dan mengancingkan jaket kulit merahnya rapat-rapat. Parasnya yang lawa kemerahan tanda kedinginan. Tubuhnya bau lavender. Bibirnya dari tadi tak berhenti cengar-cengir … iseng. Saya tak tahan untuk mengacak-acak rambutnya.
Pagi itu Diajeng mau mengajak saya pelesir keliling Kota Milan. Ia hendak memamerkan kota yang membuatnya betah dan lupa pada seluruh kepedihan yang ditinggalkannya di Jakarta.
“Jadi kita mau ke mana dulu nih, Mas?” tanya Diajeng. “Ke Basilica di San Simpliciano yuk!”
“Terserah kamu deh, Jeng. Saya buta peta, ndak tahu mana-mana. Kali ini kamu guide-nya deh. Yang penting jangan jauh-jauh ya,” jawab saya yang masih terpana oleh lanskap Kota Milan pada esuk umun-umun begini.
“Ah, dasar pelasuh, ” kata Diajeng sambil tersenyum, lalu memacik tangan saya. Berdua kami berlawalata menyusuri trotoar. Langkahnya langkas. Saya terseok-seok mengikuti di sebelahnya. Nafas tua saya tersengal-sengal.
Semula saya merasa agak aneh. Mosok jalan-jalan pagi kok mengunjungi gereja? Apa ndak ada pemandangan lain untuk memulai hari? Lagi pula kami berdua bukan regular customer misa pagi di gereja mana pun. Kami muslim dan muslimah. Halah.
Bayangan saya sih, Diajeng akan membawa saya berwisata kuliner dengan mendatangi kafe-kafe pinggir jalan untuk mengudap sarapan pagi dan menyesap secangkir kopi panas.
Awalnya saya menduga Diajeng bakal mengajak saya mengunjungi stadion dua klub sepak bola raksasa itu: Inter dan Milan. Eh, siapa tahu saya bisa bertemu salah satu pemain dan minta tanda tangan, kan?
Rupanya Diajeng punya rencana lain. Ia bahkan telah menyiapkan kata-kata rayuan mautnya, “Ini bukan gereja biasa, Mas. Kamu pasti suka.”
Saya pun jadi tergoda mengikuti rayuannya. Benar saja. Ketika sebentar kemudian kami sampai di mulut Basilica di San Simpliciano di jantung Kota Milan, saya terpana. Arsitekturnya ternyata sangat elok.
Dibangun pada abad ke-4, Basilica di San Simpliciano termasuk salah satu gereja tertua di Milan. Meski St. Ambrose yang pertama kali membangun gereja itu, namun St. Simpliciano-lah yang menyelesaikannya.
Karena itulah, namanya diabadikan sebagai sebutan gereja tersebut. St. Simpliciano dimakamkan di dalam gereja itu, berdampingan dengan tiga martir lainnya, Sisinnio, Martino dan Alessandro.
Sejak abad ke-4, gereja Simpliciano telah direnovasi beberapa kali, terutama pada abad ke-7 dan 11. Saya teringat bangunan-bangunan kuno di Kota Lama, Semarang, ketika menatap bagian depan Basilica di San Simpliciano.
Interior dalamnya yang berhiaskan lukisan kaca mengingatkan saya pada bagian dalam Lawang Sewu di Semarang.
Tapi, yang paling menggetarkan hati adalah dinding-dinding kapel yang dilumuri aneka dekorasi dari berbagai era, dari zaman Renaisans hingga Barok, Rococo sampai Neoklasik. Juga taburan mural-mural di plafon kapel yang mengingatkan saya pada film yang syahdu itu, English Patient.
Di dalam gereja itu kami berpalun-palun seraya menikmati sihir keanggunan seni abad lalu. “Tuh, kamu nggak nyesel ke sini kan, Mas?” tanya Diajeng yang dari tadi senyam-senyum melihat ketakjuban saya.
Saya cuma menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak terus-menerus. Saya tak punya madah lain selain satu kata untuk menggambarkan gereja tua ini: dahsyat!
Tapi, yang lebih dahsyat pagi itu tetap Diajeng. Dengan keanggunan seorang putri zaman Renaisans, ia berjalan sepanjang koridor mengarah ke jendela kaca. Sinar matahari yang menembus kaca membuat tubuh Diajeng menjelma jadi lekukan siluet indah. Duh, Gusti …
Perasaan saya puspas. Adakah Diajeng benar-benar sudah menanggalkan semua keperihan dan kepedihannya? Adakah hatinya benar-benar telah tertambat di Milan dan melupakan saya?
Wajah lejar para santo di dinding-dinding Basilica di San Simpliciano itu tak memberikan wangsit apa pun. Mereka hanya seperti mengisyaratkan bahwa dulu tetap abadi di masa lalu. Dan masa depan tak pernah bisa kita tebak kejutannya …
>> Mohon maaf atas pemilihan diksi yang tak biasa dan pemakaian beberapa kata arkaik. Silakan buka kamus untuk mengetahui artinya. Dan, selamat belajar bahasa Indonesia.
Diposkan oleh: Ndoro Kakung
Kategori: Sketsa
Tag: arkais, cerpen, cinta, diajeng, metafora, milan, prosa
Mobile Site | Full Site
Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.
pertamax… bacanya keduax
By jalansutera on November 19, 2007 pada 10:10 am
ditunggu foto-fotonya. milan khan kaya dengan arsitektur lawas. nanti fotonya dipajang juga di sini ya…
By jalansutera on November 19, 2007 pada 10:13 am
wahh diajeng lagi..sepp, tak tunggu tikungan mengejutkan selanjutnya..xixi
By mei on November 19, 2007 pada 10:17 am
jangan lupa oleh-olehnya… halah, hattrick lagi…
By jalansutera on November 19, 2007 pada 10:19 am
lha wingi tak parani neng stan koran tempo ga ono, tibaknya ke milan to?
By pitik on November 19, 2007 pada 10:34 am
foto2nya ada mas? saya fotografer, mengelola blog fotopengantin.blogspot.com
kota milan adalah kota yang fotogenik, diambil dari sudut manapun selalu menarik.. salam…
By Fotografer Pengantin on November 19, 2007 pada 10:35 am
ga ketemu rombongan tifosi kelas ultras kan?
By Hedi on November 19, 2007 pada 10:36 am
hehehe…bener ndoro, saya belajar banyak kosa kata baru. ngaku berbahasa satu, bahasa indo, tapi ga pernah pake dan ga tau artiya :p
By ngaku blogger on November 19, 2007 pada 10:45 am
Urutan dari yg paling menarik di posting ini:
1. Kosa katanya
2. Diajeng
3. Arsitektur Gereja
4. Milan
5. Ndorokakung tentunya
Ditunggu banget lanjutan ceritanya….
By aphopis on November 19, 2007 pada 10:54 am
habis itu naek vespa alias piaggio berdua sama diajeng ke roma yo ndoro 😛
By aprikot on November 19, 2007 pada 11:21 am
jangan lupa numpak fiat lho, kang.. 😀
By mbahatemo on November 19, 2007 pada 11:21 am
pertama baca, mo tanya beberapa arti kata.
sampe bawah, harah …. malah dikon searching dewe.
Btw, ketoknya kok hanya “Diajeng” seorang yg masalahnya keri ning JKT. Terus jenengan pripun?
.::he509x™::.
By MaNongAn on November 19, 2007 pada 11:24 am
Setuju Ndoro, dulu tetap abadi di masa lalu. Kadang tampak jelas di mata tapi tak pernah tersentuh. Sedang masa depan, tak terduga apa yang ada di balik tikungan.
Nikmati saja hari-hari bersama Diajeng, sebelum hari itu berubah menjadi masa lalu 🙂
By Bening on November 19, 2007 pada 11:25 am
Suhu 3 derajat tapi nek cedak diajeng pasti hangat terus, rasanya mak “nyus”, lanjut ndoro…
By Titis Sinatriya on November 19, 2007 pada 11:28 am
sing penting salaman disik, ben gak onok salah paham, ben koyok wong no (nahdatoel Oelama)
By network_pirates on November 19, 2007 pada 11:29 am
Ndoro … itu gambarnya ngambil di sini ya?
Jangan2 sampean masih di Cianjur, kalo menurut Mbok Venus hehehe….
By memangmunyuk on November 19, 2007 pada 11:40 am
mantab… ceritanya.. jangan lupa nonton Liga Italia Live dari Milan 😀
By Totoks on November 19, 2007 pada 12:37 pm
wuih, udh nyampe milan? oleh2 ya ndoro :p
By venus on November 19, 2007 pada 12:40 pm
wah jadi ingat jalan cerita di bukunya Dan Brown 🙂
Angels and Demon, who is the angel who is the demon? 😉
By Andri Setiawan on November 19, 2007 pada 12:42 pm
ndoro punya hobi ngacak-ngacak rambut diajengnya ya?
*siyul-siyul*
By Yeni Setiawan on November 19, 2007 pada 1:43 pm
Ndoro , buat apa mengejar mimpi sampai ke Milan?
By Gito on November 19, 2007 pada 1:56 pm
i’m jealous ndoro…uuuuh..tapi penasaran nunggu episode berikutnya 🙂
By upikabu on November 19, 2007 pada 2:43 pm
Viva la nDoro!!! The Diajeng Saga continues!!!
By kalengkrupuk on November 19, 2007 pada 3:28 pm
cepetan ndang mulih tekan milan
mumpung durung konangan karo Gendukblog …
*sopo toh kuwi*
By adipati kademangan on November 19, 2007 pada 3:39 pm
Walah… harus beli kamus nih!
Foto-fotonya Ndoro.
By Kombor on November 19, 2007 pada 3:44 pm
wahhh, diajeng is back!!
By nawita on November 19, 2007 pada 4:17 pm
wuis pilihan katanya muantab … terpaksa cari2 kamus nih. btw lanjoot ceritanya
salam deh utk diajeng (halah sok kenal)
By Aris on November 19, 2007 pada 4:21 pm
aku titip oleholeh ndoro…
By sarah on November 19, 2007 pada 4:36 pm
skrinsut diajeng dong ndoro ..
By pengamat on November 19, 2007 pada 5:02 pm
salam buat asterix, obelix n tolong mintain obat dari mbah dukun panoramix, jolali lho ndoro…
By kid lhadalah on November 19, 2007 pada 5:56 pm
asikkkkk enek postingan diajeng…..
/*comment dulu baru baca
By pinkina on November 19, 2007 pada 6:05 pm
Ndoro, diajeng itu sopo? belum dikenalin di cerita di atas 🙂
wah…asik ya jalan2 ke Milan. mau dong ikut jalan-jalan, sambil liputan. hehe… 🙂
By eriek on November 19, 2007 pada 6:25 pm
semoga ndoro juga ngga ikut2 an betah di milan dan meninggalkan kepedihan di jakarta. . .
By funkshit on November 19, 2007 pada 7:23 pm
huh.. sayah tertipu..
kirain di milan beneran..
By -tikabanget- on November 19, 2007 pada 7:54 pm
Ndoro,
Sekaligus terusin perjalanannya ke venetie ngga Ndoro?
Udah ngga jauh lho naik kereta api.
By Citra Dewi on November 19, 2007 pada 8:32 pm
bahasanya ketinggian ndoro. yang cocok gaya ngomongnya begitu itu paklik isnogud.
jangan2 yang nulis ini paklik isnogud ?! 😀
By phy on November 19, 2007 pada 8:46 pm
Diksi-nya waduh…bikin saya fusing ndoro…
Yo wes lah..terpaksa rela buka kamus besar bahasa indonesia.
By maruria on November 19, 2007 pada 8:54 pm
Oh aku kira ngeliput fashion. Ndoro kan fashionista. Dulu, celana kolornya aja selalu pake simbol “DG” (Dorce & Gamalama)
By Paman Tyo on November 19, 2007 pada 9:00 pm
Evan titip oleh-oleh Batik Milan dan music bamboo italy (angklung Italia), Ndoro.
By evan on November 19, 2007 pada 9:00 pm
ono opo iki….
itu pala kaga ancur2 udah pecah brp kali…
By moer on November 19, 2007 pada 9:10 pm
knapa mukaku jadi ketek iki piye…
By moer on November 19, 2007 pada 9:12 pm
“Langkahnya langkas. Saya terseok-seok mengikuti di sebelahnya. Nafas tua saya tersengal-sengal.”
Wis tuwo koq isih seneng “maen” karo daun muda. Hehehe…
Hidup DIAJENG…!!!
By adidassler on November 19, 2007 pada 9:41 pm
wah bahasa indonesianya tingkat tinggi! 😀
By aRdho on November 20, 2007 pada 4:09 am
Waw…
By galih on November 20, 2007 pada 8:45 am
benar atau tidaknya ke Milan gak masalah, yang penting jangan lupa foto Diajeng dalam scene cerita ini… :p
By sigit on November 20, 2007 pada 10:31 am
[…] November 20, 2007 by genduk Haiyah! Genduk sibuk sekali beberapa hari ke belakang. Pasalnya, Ndoro Kakung ujug-ujug dapat penugasan ke Milan, Italia, sementara Ndoro Putri sibuk dengan pekerjaan kantornya. […]
By ojek gendukblog « genduk blog on November 20, 2007 pada 9:13 pm
Elok, ndoro. Sering-sering nulis kayak gini ya? Saya jadi semakin cinta bahasa Indonesia.
By isman on November 28, 2007 pada 11:15 pm
Wuah ndoro, pas tanggal segitui lagi di Milan tokh sampeyan, tau getu mbok yao janjian, jadi aku bisa ganggu jalan2nya ama Diajeng hehehe. Milan emang bagus ya tapi luarange puol opo2 ;(. Sesuk maneh kalo ke Milan tilik diajeng, kabar2 yo sopo ngerti bisa barengan hehehe. Biar Ndoro gak macem2 ;p
By Indie_ana Jones on Desember 15, 2007 pada 10:50 am
aaaa… pengen ke Milano…. tapi nonton AC Milan tanding di San Siro sih..
By Billy Koesoemadinata on Juni 25, 2010 pada 10:17 am
pujangga balai pustaka memang beda. *menjura*
*tenggelam pada nada dan pemilihan kata, lupa mencermati cerita* jadi panjenengan cerita apa to ndoro? wahihi *dikeplak sak kayangnya*
By lantip on Juni 25, 2010 pada 11:03 am
I like Your Article about Milan Pecas Ndahe Ndoro Kakung Perfect just what I was looking for! .
By invest liberty reserve on Agustus 9, 2011 pada 4:57 am
The Mystery of the Crystal Portal Hello.This post was really fascinating, particularly since I was looking for thoughts on this subject last couple of days….
Hello.This post was really fascinating, particularly since I was looking for thoughts on this subject last couple of days….
By The Mystery of the Crystal Portal on Oktober 18, 2011 pada 12:35 pm