Seusai pesta yang menyakitkan

Januari 2, 2023 § Tinggalkan komentar

Cerita hari ke-2.

Setelah pesta tahun baru yang menyakitkan, Annabelle terbangun di kamar hotelnya sendiri. Kekasihnya, James, sudah pergi tanpa meninggalkan pesan atau jejak.

Annabelle merasa kehilangan dan tidak tahu harus melakukan apa. Ia merasa ada sesuatu yang hilang di hatinya, seolah ada kekosongan yang tak terisi.

« Read the rest of this entry »

Pesta yang berakhir menyakitkan

Januari 1, 2023 § 1 Komentar

Cerita hari ke-1.

Pesta tahun baru di kota kecil di pantai telah menjadi tradisi setiap tahun. Kebanyakan orang di kota kecil ini menyambut tahun baru dengan pesta di pantai, menyalakan kembang api, dan menyanyikan lagu-lagu tahun baru.

Tahun ini, Annabelle dan James, kekasih yang telah bersama selama tiga tahun, juga ikut serta dalam pesta tersebut.

« Read the rest of this entry »

Program 30 Hari Bercerita

Desember 31, 2022 § 4 Komentar

Di Instagram ada akun yang mengajak khalayak ikut proyek atau program 30 Hari Bercerita.

Ini program sosial yang intinya mengajak orang untuk berbagi cerita secara rutin setiap hari selama 30 hari. Program dimulai tepat 1 Januari 2023.

Saya jadi terpantik. Tapi mau bikin apa?

« Read the rest of this entry »

28 Hari Pecas Ndahe

Februari 25, 2010 § 83 Komentar

Awalnya adalah percakapan via Yahoo! Messenger pada sebuah siang. Antara @ndorokakung dan @beradadisini. Dan setelah beberapa menit berlalu, diselingi jeda akibat kesibukan pekerjaan masing-masing, obrolan yang melantur ke mana-mana itu tiba-tiba berbelok tajam seperti elang di angkasa menyambar tikus di selokan.

“Bagaimana kalau kita duet bikin cerita bersambung?” dia bertanya.

“Siapa takut?” saya balik bertanya. « Read the rest of this entry »

Ranum Pecas Ndahe

Oktober 8, 2009 § 84 Komentar

:: untuk para alay di wetiga

hatiDi ujung malam yang basah, perempuan ranum memasuki kedai yang berlimpah asap rokok. Suasana sedang riuh-riuhnya. Pengunjung tenggelam dalam gelak dan tawa. Makanan dan minuman mengalir sederas sungai-sungai di musim hujan.

Perempuan ranum menebar senyum ke tengah pengunjung yang langsung menenggelamkan dirinya dalam obrolan hangat.

Kehadirannya bagaikan satu bintang di langit kelam. Menyedot perhatian para tamu. Perempuan ranum terlihat begitu menikmati setiap sapa. Parasnya berpendar-pendar terang bak kunang-kunang. Matanya menyala-nyala. Menari mengikuti gendang.

Tapi hanya sekejap. Perempuan ranum langsung berubah bagaikan burung onta dikejar musuh di tengah padang pasir begitu telepon genggamnya menyalak kencang. Mulutnya ditutupi tangan kirinya saat menjawab panggilan. Dia berbisik, seolah tak ingin orang lain mendengar perkataannya. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with prosa at Ndoro Kakung.