28 Hari Pecas Ndahe

Februari 25, 2010 § 83 Komentar

Awalnya adalah percakapan via Yahoo! Messenger pada sebuah siang. Antara @ndorokakung dan @beradadisini. Dan setelah beberapa menit berlalu, diselingi jeda akibat kesibukan pekerjaan masing-masing, obrolan yang melantur ke mana-mana itu tiba-tiba berbelok tajam seperti elang di angkasa menyambar tikus di selokan.

“Bagaimana kalau kita duet bikin cerita bersambung?” dia bertanya.

“Siapa takut?” saya balik bertanya. « Read the rest of this entry »

Iklan

Ranum Pecas Ndahe

Oktober 8, 2009 § 84 Komentar

:: untuk para alay di wetiga

hatiDi ujung malam yang basah, perempuan ranum memasuki kedai yang berlimpah asap rokok. Suasana sedang riuh-riuhnya. Pengunjung tenggelam dalam gelak dan tawa. Makanan dan minuman mengalir sederas sungai-sungai di musim hujan.

Perempuan ranum menebar senyum ke tengah pengunjung yang langsung menenggelamkan dirinya dalam obrolan hangat.

Kehadirannya bagaikan satu bintang di langit kelam. Menyedot perhatian para tamu. Perempuan ranum terlihat begitu menikmati setiap sapa. Parasnya berpendar-pendar terang bak kunang-kunang. Matanya menyala-nyala. Menari mengikuti gendang.

Tapi hanya sekejap. Perempuan ranum langsung berubah bagaikan burung onta dikejar musuh di tengah padang pasir begitu telepon genggamnya menyalak kencang. Mulutnya ditutupi tangan kirinya saat menjawab panggilan. Dia berbisik, seolah tak ingin orang lain mendengar perkataannya. « Read the rest of this entry »

Permintaan Pecas Ndahe

September 30, 2009 § 47 Komentar

Duhai lelakiku,
Aku tak pernah memintamu menghalangi jalanku di sudut toko itu. Waktu, kesempatan, takdir, mungkin yang mengaturnya. Dan ketika kau terpana memandang parasku yang lesi, itu juga kehendakku. Janganlah kau sesali pertemuan itu. Hidup, juga persilangan, terjadi setiap saat. Kalau bukan di sudut itu, mungkin di tikungan yang lain. Bukankah ombak juga bertemu karang tanpa mengeluh sejak dulu?

Duhai lelakiku,
Aku tak pernah berharap kau mengantarku siang itu. Aku sudah cukup bahagia berjalan sendiri di bawah cakar panas matahari yang memanggang Jakarta. Kau bilang aku tak berhak teriksa oleh panas yang menderai-derai. Tapi sebetulnya aku selalu baik-baik saja. Dengan atau tanpa terpaan cahaya berdaya jutaan kilowatt itu. Matahari dan angin sahabatku sehari-hari. Aku hidup bersama mereka.

Duhai lelakiku,
Aku tak pernah bermimpi waktu kau tawarkan segelas es lemon segar. Senyummu sudah lebih dari cukup. Bahkan jauh menyejukkan dibanding semua yang hijau di bumi ini. Mungkin kau tak tahu betapa aku terpana ketika tanganmu menggenggam uluran tanganku yang ragu-ragu. Lenganmu yang berotot kencang, tapi lembut, menyiratkan kau pekerja tangguh berhati sutra. Aku seperti kapas yang melayap ke langit dihembus topan kebahagiaan. « Read the rest of this entry »

Hati Pecas Ndahe

September 28, 2009 § 40 Komentar

Seperti apakah hati seorang lelaki? Cuaca yang mudah berubah atau lempung yang lembek?

Syahdan pada sebuah malam yang bisu, perempuan terakota duduk di atas bukit kelam. Ditatapnya nyaris tak berkedip lanskap langit yang bertabur gemintang. Sepi di sekitarnya. Hanya ada helaan napasnya sendiri. Dan desir-desir pasir yang terbang bersama angin. Kunang-kunang terbang kian-kemari. Terangnya mengerjap sebentar, lalu padam.

Di sebelahnya, lelaki wangi pandan rebah dalam buaian rumput lembut. Membeku. Tapi resah. Hatinya puspas. Malam ini saat terakhir mereka bersama. Esok, lelaki wangi pandan akan pergi meneruskan langkahnya, mengejar bayang-bayang.

“Look at the stars, dear. So untidy. I want to rearrange them,” kata perempuan terakota tiba-tiba. Suaranya memecah sunyi yang tipis seperti beling.

Lelaki wangi pandan seketika tertegun mendengarnya. Ia menganggapnya sebagai kegaduhan yang mencekam. Sebuah teror.

Hening. Jeda panjang. Detik berubah ke menit. “Begitukah yang selalu kau inginkan, perempuan? Kau selalu ingin menata kembali semua yang sudah menjadi puing-puing berserakan?” tanya lelaki wangi pandan kemudian. « Read the rest of this entry »

Perpisahan Pecas Ndahe

September 11, 2009 § 56 Komentar

senja-kereta:: untuk para pemudik yang mulai berangkat ke stasiun …

Senja memantulkan sinarnya di jendela kereta api sore itu. Para penumpang berdesakan naik ke gerbong. Stasiun berubah bagaikan sarang lebah yang digebah. Lampu-lampu peron menyala satu-satu.

Perempuan bermafela putih itu menyipitkan mata, meredam silau. Ditatapnya paras yang memerah dari jendela senja buram kereta api. Dia baru sadar. Pipinya tomat matang.

Di luar, rel kereta berliuk-liuk panjang seperti jalan hidup yang harus ditempuh esok hari. Angin dingin tiba-tiba mengelus tengkuk. Ia mendesah. Perlahan. Kerah bajunya dia naikkan.

Setiap detik jantung perempuan itu tambah berdetak kencang. Dadanya jadi bergemuruh mirip raung suara lokomotif di ujung stasiun. Ia mencemaskan senja yang jatuh di barat dengan muram. « Read the rest of this entry »

Kemarau Pecas Ndahe

September 3, 2009 § 61 Komentar

:: untuk seseorang yang selalu tersenyum

kalungPerempuan wangi pandan rubuh di peraduan dengan perasaan remuk redam. Sembilan purnama sudah lelaki hujan melayap ke negeri atas angin. Tapi tak ada sebaris kabar maupun setangkai puisi yang terkirim.

Malam pun jadi ungu. Dan siang jadi merah. Angin bersekutu dengan hujan. Berubah menjadi badai.

Ditemani sepisau sepi, di tengah gamang yang menikam, perempuan wangi pandan melepas hasrat pada pucuk-pucuk cemara yang menari resah. Diambilnya sebilah buluh dengan surai-surai di ujungnya. Dicelupkannya ke dalam secawan tinta. Lalu dituliskannya bait-bait liris di atas selembar daun yang mengering. « Read the rest of this entry »

Temaram Pecas Ndahe

April 3, 2009 § 67 Komentar

Seseorang pernah bercerita tentang cinta dan air mata. Malam sunyi diwarnai bintang-bintang membisu ketika kisah itu meluncur pelan dari bibirnya yang merekah. Mirip sebuah desah yang syahdu.

Cinta, katanya, adalah sepotong senja yang temaram. Langit gulita. Kerlip bintang di kejauhan. Api unggun yang menari-nari. Goyang bayang-bayangan. Sebuah sofa kulit empuk. Sepasang lelaki dan perempuan berbaju putih. Kepala menyandar di dada bidang. Pelukan hangat. Sedikit kecupan di kening. Dan, senyum bahagia.

“Tapi itu hanya ada di film-film,” kata lelaki berkotak pandora. “Di dunia nyata, cinta itu darah dan sumpah serapah. Kita hanya mendapat remah-remah.”

Perempuan selaksa senyum menautkan alis matanya. Lelaki berkotak pandora ternyata belum berubah. Ia masih sama seperti yang dulu. Lidahnya sarkastik. Tapi, dia mungkin benar. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with prosa at Ndoro Kakung.