Harapan Pecas Ndahe

September 17, 2007 § 32 Komentar

One look at love and you may see
It weaves a web over mystery,
All ravelled threads can rend apart
For hope has a place in the lover’s heart.
Hope has a place in a lover’s heart … [Enya]

Malam yang murung di pabrik yang sepi. Para buruh sudah pulang sejak tadi. Tinggal satu-dua orang yang masih bertahan menyelesaikan pekerjaan. Sayup-sayup terdengar suara Enya menyanyikan Hope Has A Place yang nglangut itu dari pemutar CD milik seorang teman di pabrik. Ugh, hati saya ikut nglangut. Kosong.

Sudah tiga hari berlalu sejak Diajeng terbang ke Milan. Rasanya sudah bertahun-tahun. Saya masih belum mengerti juga bersama siapa dan mengapa ia mendadak pergi. Terlalu banyak yang saya ndak tahu. Saya sampai pecas ndahe memikirkan kelebatan bayangan demi bayangan hidup yang bersicepat melawan waktu. Seperti hubungan saya dan Diajeng dulu.

Berawal dari yang biasa-biasa saja, sampai kemudian kami terjebak dalam pusaran hubungan yang kian rumit. Sebetulnya saya bukan tak menyadarinya. Begitu pula Diajeng. Tapi, mungkin kami terlalu bebal atau justru keasyikan menikmati sesuatu yang sebetulnya kurang patut kami lakukan.

Pernah saya mendiskusikannya dengan Diajeng soal kelanjutan hubungan kami. Seperti biasa, kami melakukannya di sebuah kedai kopi yang cozy di jantung Jakarta. Saya mau mengajaknya berpikir lebih jernih untuk tak melanjutkan hubungan yang kian lama kian susah saya kendalikan.

“We did start something, Jeng. So, sooner or later, we have to finish it,” saya membuka percakapan, straight to the point.

“Makanya, Mas. Don’t start what you cannot finish,” jawab Diajeng enteng.

“Asyem, bukan aku yang memulai,” jawab saya ndak mau kalah.

“Ok. The question is: how? How are we going to finish it, Mas?”

“That is up to us. Apa pun yang kita pilih, sebaik-baiknya, merupakan kesepakatan dari saya dan kamu.”

“Memangnya kita punya pilihan, Mas?”

“Cuma dua: kalah atau menang. Kamu atau Mbakyu. Well, memilih itu hal biasa dalam hidup bukan?”

“Aku nggak tahu, Mas. Toh semua pilihan dan kemungkinan itu punya kebolehjadiannya sendiri.”

“Masalahnya Jeng, kekalahan terbesar terjadi apabila kita harus mengorbankan apa yang paling kita cintai dalam hidup. Saya tahu kamu sayang saya Jeng, dan percayalah, saya pun sayang sekali sama kamu. Namun, the real thing is, yang paling kita cintai adalah pasangan, nama baik, atau hidup kita masing-masing. Pertanyaan terbesar yang harus kita jawab adalah apakah kita bersedia untuk masuk ke pertaruhan terbesar, yakni meletakkan kepingan-kepingan berharga itu di atas meja kehidupan?

Sekarang mari kita berhitung soal risiko. Ketika saya mempertaruhkan Mbakyu, risiko terbesar yang mesti saya tanggung adalah perceraian. Sedangkan kamu mungkin ndak punya konsekuensi yang kamu harus tanggung. Rasanya sulit bagi diri saya menemukan apa saja yang kamu cintai dalam hidup kemudian diletakkannya dalam skala prioritas. Suka ndak suka, harus diakui, saya menanggung risiko yang amat jauh lebih besar.

Marilah kita bermain asumsi. Ini pertanyaannya: bagaimana seorang istri sekaligus ibu akan bereaksi ketika mengetahui bahwa suaminya terlibat affair dengan teman kantornya yang jauh lebih muda?”

Diajeng diam saja. Sepertinya tengah berpikir keras. Sesaat kemudian, dengan suaranya yang melodius, dia bicara.

“Mas, mungkin kita memang tak perlu mengalami pertaruhan kelas berat seperti yang kamu gambarkan itu. Bisa saja, sampai kita mati nanti, baik Mbakyu dan anakmu tidak akan pernah tahu soal hubungan kita. Kemungkinan ini ada dan harus dipertimbangkan, dan aku rasa kita berdua cukup cerdas dan tidak bodoh untuk menjaga hal tersebut.

Sebaliknya, bisa pula Mbakyu tahu dan ternyata tak ambil pusing tentang hubungan kita ini. Mungkin, kan? Atau, bisa jadi kita ternyata mampu menjalani dua kehidupan ini dengan seimbang dan teramat baik. Bisa juga. Bisa jadi hubungan kita justru mampu membawa kita dalam satu titik equilibrium dari our good and evil side. Bisa jadi.

Sebaliknya, bisa saja kita bertengkar hebat, saling membanting telpon, pintu, dan entah apa lagi, lalu hubungan kita pun hancur berantakan. Semuanya punya kemungkinan dan ketidakmungkinannya masing-masing, Mas.

One thing you should know. Sebenarnya, yang ingin aku sampaikan itu sederhana sekali. Di tengah-tengah segala kalkulasi yang selama ini aku paparkan dan aku perkirakan, aku kepingin kamu tahu bahwa aku tuh punya lho sisi sentimentil yang sangat emosional. Ketika sisi itu berkuasa, segala urusan bisa berjalan dengan sangat tidak sistematis dan di luar kerangka logis, Mas.

Satu hal aja deh, ngapain sih pakai nangis di kantor? Kenapa coba? Nangis? Di kantor? Dan nggak kerja? Ngapain juga sih aku begitu? Apa perlunya coba? Namun, ya harus diakui, aku punya sisi itu. Sekalipun kita sudah melakukan ‘semuanya’ dalam waktu kurang dari 6 bulan, sisi kacau balau ini rasanya belum termasuk ‘paket instan’ itu deh.

Jadi, kalau sekarang kamu bertanya, apakah aku ingin mengakhiri semuanya sekarang? Wah, sebenarnya yang aku mau kasih tahu ke kamu adalah … hehehe, aku … aku lagi kangen sekali nih sama kamu … dan maaf ya, aku menyatakannya dengan rada-rada cengeng dan kacau balau… hehehe, jadi malu … ”

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban, err … isi hati Diajeng. Rupanya dia sudah ndak bisa dibelokkan lagi ke mana-mana. Satu kata, satu hati, satu keinginan: hidup bersama saya.

Mengenangkan kembali percakapan itu dan kenyataan bahwa Diajeng sudah terbang ke Milan membuat saya seperti terlempar dalam pusaran hidup yang paradoksal. Benarkah Diajeng benar-benar pernah punya harapan bakal hidup selamanya di samping saya? Adakah harapan itu masih tersimpan rapi di sudut hatinya?

Sayup-sayup saya mendengar Enya bersenandung lirih, Hope Has A Place

One look at love and you may see
It weaves a web over mystery,
All ravelled threads can rend apart
For hope has a place in the lover’s heart.
Hope has a place in a lover’s heart

Whispering world, a sigh of sighs,
The ebb and the flow of the ocean tides.
One breath, one word may end or may start
A hope in a place of the lover’s heart.
Hope has a place in a lover’s heart.

Look to love you may dream,
And if it should leave then give it wings.
But if such a love is meant to be;
Hope is home, and the heart is free

Under the heavens we journey far,
On roads of life we’re the wanderers,
So let love rise, so let love depart,
Let hope have a place in the lover’s heart.
Hope has a place in a lover’s heart.

Look to love and you may dream,
And if it should leave then give it wings.
But if such a love is meant to be;
Hope is home, and the heart is free.
Hope is home, and the heart is free …

Iklan

§ 32 Responses to Harapan Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Harapan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: