Simbol Pecas Ndahe

Juni 14, 2012 § 78 Komentar

Nunun berkerudung. Neneng bercadar. Mengapa perempuan-perempuan yang terlibat dalam sebuah kasus mendadak mengubah gaya busananya?

Nunun Nurbaeti adalah terpidana kasus korupsi. Awal Mei 2012, dia divonis 2 tahun 6 bulan, dan denda Rp 150 juta karena terbukti terlibat dalam kasus penyuapan anggota DPR RI saat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dengan calon Miranda Goeltom.

Neneng Sri Wahyuni adalah tersangka kasus korupsi pembangkit listrik tenaga surya senilai Rp 8,9 miliar. Rabu, 13 Juni 2012, ia ditangkap Komisi Pemberantas Korupsi setelah buron selama berbulan-bulan. « Read the rest of this entry »

Iklan

Upeti Pecas Ndahe

Mei 27, 2011 § 48 Komentar

Syahdan di Etiopia. Sang Negus mengangkat Germame Neway, lulusan Amerika, menjadi gubernur. Pengangkatan seorang pejabat itu sebenarnya momen yang normal di mana pun, juga di Negeri Habsi itu. Apalagi Sang Negus alias Haile Selassie adalah penguasa yang memutuskan kedudukan bawahannya. Ia sendiri yang menunjuk menteri, gubernur, manajer hotel, bahkan kepala kantor pos. Ia Sang Penentu nasib.

Tak heran bila saat-saat penunjukkan pejabat adalah klimaks dari seluruh harap-harap cemas, juga kasak kusuk, gosip, info-info, dan fitnah-fitnah sesama pembesar. Dan H.S. tampaknya menikmati saat-saat seperti itu dengan senang.

Tapi gubernur yang satu ini aneh, dan menimbulkan risau: ia tak mau menerima suap atau upeti. Semua yang diterimanya disumbangkannya untuk membuat sekolah.

Perbuatan semacam ini, bila diikuti gubernur lain, pasti akan menyebabkan keresahan. Germame pun dicopot, tapi ia membangkang. Dengan menolak upeti, bahkan dengan berpikir lain dari pola yang umum di Etiopia, Germame memang telah melawan.

Orang celaka! Maka, ia pun tewas. Yang aneh ialah bahwa ternyata perlawanannya menyebabkan orang tersadar dari tidur. Tak ayal, bahaya pikiran pun menyebar. Sang Negus bernama Haile Selassie itu akhirnya copot. Ia dimakzulkan dan dikurung di Istana Menelik. « Read the rest of this entry »

Nyanyian Pecas Ndahe

Mei 13, 2010 § 63 Komentar

Di Indonesia, kita tak pernah tahu seberapa dalamkah sebenarnya kuku korupsi menancap. Tapi di Italia, pada 1990an, korupsi sudah begitu parah sehingga perlu Operasi Tangan Bersih yang dilancarkan pada awal 1993.

Temuan-temuan operasi itu membuat orang Italia kaget. Rakyat marah dan mempermalukan para politikus dan pengusaha yang bertahun-tahun menikmati kemewahan hasil korupsi. Korban berjatuhan.

Raul Gardini, seorang pengusaha terkemuka Italia yang dijuluki tukang sulap keuangan Italia dasawarsa 1980, awal Agustus 1993 bunuh diri karena malu atau tak bisa membayangkan disekap di sel tahanan. Ini kasus bunuh diri ke-12 setelah Operasi Tangan Bersih.

Operasi yang dilancarkan Hakim Antonio Di Pietro itu tergolong pemberantasan korupsi terbesar di Eropa. Dan Di Pietro tidak pandang bulu. Bekas Perdana Menteri Giulio Andreotti dan Bettino Craxi ia tarik masuk ke ruang pengadilan. Sedangkan Perdana Menteri Guiliano Amato terpaksa mengundurkan diri bulan Maret 1993.

Russel Miller, wartawan The Sunday Times Magazine, mewawancarai Pengusaha Carlo De Benedetti, orang nomor satu di Olivetti, yang membuat pernyataan penting di depan Hakim Di Pietro.

Wawancara itu dilengkapi dengan reportase dan riset Peter Semler, yang membeberkan liku-liku korupsi di Italia, dan dimuat di The Sunday Times Magazine, Juli 1993. Majalah Tempo lalu menuliskannya kembali pada Agustus 1993. Berikut ini petikannya. « Read the rest of this entry »

Gayus Pecas Ndahe

Maret 26, 2010 § 69 Komentar

Apa yang bisa kita lakukan dengan uang Rp 25 miliar di tangan? Mungkin sampean bisa membeli 25 mobil mewah Toyota New Alphard seri 3.5 G. Sampean dapat pula membeli 25 kamar tipe Vaganza yang sangat luks di Apartemen Bellagio Residence, Jakarta. Atau bisa juga sampean membangun empat sekolah dasar mewah di Tangerang City.

Gayus Halomoan P. Tambunan memilih menyimpan uang sebanyak itu di bank. Dan kegegeran pun meledak gara-gara uang Rp 25 miliar itu konon hasil penggelapan pajak.

Tentang pajak, saya jadi teringat sebuah cerita lama yang tersimpan di antara ribuan koleksi perpustakaan pabrik saya. Saya ingin membagi cerita itu ke sampean hari ini.

Syahdan, suatu hari di masa kolonialisme Belanda di Indonesia, seorang penduduk Desa Sambong, Blora, telah menolak membayar pajak. Tidak ragu lagi, asisten wedana menurunkan perintah agar si pembangkang dipenjarakan.

Tetapi sebelum masuk kurungan, orang itu meminta kepada kawan-kawannya untuk memberikan “penghargaan” kepada penguasa daerah begitu dia selesai menjalani masa hukuman. Para sahabatnya setuju.

Benar saja. Setelah hukuman selesai dijalani, ratusan penduduk mendatangi kantor asisten wedana. Inilah saatnya si bekas terhukum dan kawan-kawannya akan memberikan “penghargaan”. « Read the rest of this entry »

Etika Pecas Ndahe

Desember 14, 2009 § 37 Komentar

Umurnya baru sebelas tahun, dan setiap kali ada kesempatan, dia pergi memancing di dermaga di depan kabin keluarganya di sebuah pulau di tengah sebuah danau di New Hampshire.

Syahdan menjelang dimulainya secara resmi musim penangkapan ikan bass, anak laki-laki itu dan ayahnya memancing di awal senja.

Mula-mula mereka hanya berhasil menangkap sunfish dan perch (sejenis ikan air tawar) dengan umpan cacing. Namun ketika malam datang, joran anak itu melengkung. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang sangat besar tersangkut di ujung pancing. Segera saja ia menarik-ulur senar.

Dari jauh, ayahnya mengamati dengan kagum saat anak lelaki itu dengan tangkas menangani tangkapannya di sepanjang lantai dermaga. Ia melihat anaknya benar-benar sosok yang gigih dan tak mudah menyerah.

Pertarungan ternyata hanya berlangsung sebentar. Setelah bertahan dari menit ke menit, melawan tarikan dan uluran joran, ikan itu kelelahan. Ia pasrah ketika anak itu mengangkatnya keluar dari air.

Olala! Tangkapannya memang benar-benar seekor ikan yang besar. Anak itu berteriak kegirangan melihat hasil tangkapannya. Itu ikan terbesar yang pernah dilihatnya.

Tapi itu ikan bass! « Read the rest of this entry »

Mafia Pecas Ndahe

November 23, 2009 § 44 Komentar

Dalam pidatonya di Istana Senin malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan tekadnya untuk memberantas mafia hukum. Pemerintah, katanya, juga akan membentuk Satgas Antimafia Hukum.

Saya ndak tahu bagaimana cara Presiden memberantas mafia dan berapa lama perang melawan mafia itu akan berlangsung. Tapi saya jadi teringat tentang upaya pemerintah Amerika Serikat memerangi gerombolan mafia di era 1980-an. Waktu itu, pemerintah federal sampai mengeluarkan orang-orang terbaiknya untuk menumpas serikat-serikat darah asal Sisilia itu.

Sejumlah benggolan mafia berhasil diseret ke balik terali besi. Sebagian lagi terpaksa didor. Salah satu kisah yang menarik dibaca di era perang melawan mafia itu adalah ketika pemerintah federal mulai menjangkau wilayah mafia yang paling basah: bisnis. « Read the rest of this entry »

Ajisaka Pecas Ndahe

November 16, 2009 § 70 Komentar

Syahdan di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Ajisaka berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Dia mempunyai dua orang pengikut: Dora dan Sembada. Kedua punggawa itu sangat setia kepada Ajisaka dan sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya.

Pada suatu pagi yang basah, Ajisaka meninggalkan Pulau Majethi. Ia hendak berkelana melanglang buana. Ia ditemani Dora. Sedangkan Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi karena menjaga pusaka milik Ajisaka. Sebelum berangkat, Ajisaka berpesan kepada Sembada agar tak menyerahkan pusaka tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka sendiri — apa pun taruhannya. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Ketika Ajisaka berkelana itulah, di tanah Jawa waktu itu ada kerajaan yang terkenal makmur, tertib, aman, dan damai. Kerajaan itu namanya Medhangkamulan dan dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with korupsi at Ndoro Kakung.