Steller Pecas Ndahe

April 12, 2016 § 79 Komentar

Setiap orang punya cerita. Tuturkan ceritamu dengan teks, foto, dan video. Aplikasi Steller akan menampung dan menerbitkannya dalam kemasan yang memikat hati.

Demam Steller mewabah di Indonesia sejak pekan lalu. Netizens ramai-ramai mengunduh Steller versi iOS dan Android (versi beta). Banyaknya orang Indonesia yang sudah punya akun Steller bisa dilihat dari kanal bertanda pagar #StellerID.

steller

Kategorisasi di Steller, salah satunya StellerID

Meski pertama kali diperkenalkan di Amerika pada 2014, aplikasi ini baru dikenal luas di Indonesia awal April 2016. Ini karena Steller baru bisa diunduh oleh pengguna iOS dari Indonesia awal bulan ini. Sebelumnya hanya pemilik akun Amerika yang bisa mengunduh aplikasi tersebut.

« Read the rest of this entry »

Ubud Pecas Ndahe

November 21, 2011 § 104 Komentar

“Kenyataan bahwa aku sudah pergi jangan sampai membuatmu terlempar dalam pusaran hidup yang paradoksal. Karena aku pernah benar-benar punya harapan bakal hidup selamanya di sampingmu. Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku. Sekian.”

Pesan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam BlackBerryku. Dari siapa lagi kalau bukan dia. Perempuan yang pelukan hangatnya mampu melumerkan seluruh salju di kutub utara.

Aku kaget. Tak kusangka mendapat kiriman mendadak dan mengagetkan seperti ini.

Aku segera membalasnya. Tanpa pikir panjang.

“Pernah? Apakah sekarang sudah padam?” Send!

Incoming message: “Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku.”

“Aku khawatir baranya makin lama makin kecil, dan akhirnya padam.” Send!

Incoming messange: “Ingat rumah di Ubud yang pernah aku ceritakan kepadamu? Dengan ayunan di taman depan? Dan kamu bilang dengan entengnya, ‘Tanya saja harganya berapa, nanti buat rumah kita di masa tua?'”

“Iya aku ingat. Sudah kau beli?” Send!

Incoming message: “Belum dong, memangnya kita sudah tua?”

“Tapi aku makin menua.” Send!

Incoming message: “Sudah siap hidup bersamaku?”

“Sudah siap beli rumah itu?” Send!

Kamu tertawa. Aku ngakak. Kita terbahak-bahak. Berdua. « Read the rest of this entry »

Buku Pecas Ndahe

September 7, 2009 § 53 Komentar

Terlalu banyak buku yang perlu dibaca. Terlalu sedikit kesempatan membaca.

Dua bungkusan mampir di meja saya pagi tadi. Dua-duanya memakai kertas cokelat sebagai pembungkus. Dua-duanya bukan sesuatu yang biasa di awal pekan. Tapi begitu saya baca pengirimnya, saya langsung bisa menebak isinya: buku!

dua buku

Voila! Benar saja. Dua bungkusan itu memang berisi buku. Buku pertama adalah Telling True Stories kiriman seorang sahabat lama. Kami pernah satu kantor pada tahun-tahun awal saya mencari nafkah di Jakarta. Buku itu adalah janji yang ditunaikannya. Pekan lalu, menjelang kepulangannya dari Bali ke Los Angeles, dia memang berjanji akan mengirim buku yang katanya, “Kamu pasti suka.”

Buku kedua adalah sebuah kumpulan cerita berjudul Kekasih Marionette, karangan Dewi Ria Utari. Kami pernah satu pabrik selama beberapa tahun, sebelum dia kemudian meneruskan peruntungan ke tempat lain.

Dua buku. Dua perempuan. Dua mantan teman satu kantor. Aha … saya tahu kenapa hari ini saya merasa begitu tersanjung. « Read the rest of this entry »

Mimpi Pecas Ndahe

Januari 22, 2009 § 45 Komentar

Syahdan pada sebuah malam yang basah. Perempuan berkalung pelangi menunggang kereta angin, membelah jalanan lempang nan lapang di jantung Kota Cahaya menuju pulang.

Matanya menatap keluar jendela, memandang keredep sinar lampu-lampu neon yang bersicepat dengan gelap. Gedung-gedung jangkung berdiri jemu. Patung-patung kota melengkung lunglai ketika ia melewatinya.

Bulan sepotong mengintip di balik awan hitam. Angin mendesir-desirkan sunyi di dalam kabin. Imaji berkelebat silih berganti dalam benaknya yang masygul. Rusuh. Potongan-potongan adegan kehidupan berkelindan antara jemu dan riang, antara tawa dan air mata.

Dari pemutar musik di dekat kemudi mengalun suara Sting yang nglangut,

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are
How fragile we are how fragile we are …

Kenangan perempuan berkalung pelangi melayang pada lelaki bermahkota mimpi yang pernah menjerat kupu-kupu dalam perutnya. Lelaki itu telah mengubahnya jadi kepompong, lalu masa hibernasi yang panjang. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with narasi at Ndoro Kakung.