Lovers Pecas Ndahe

September 12, 2014 § 51 Komentar

Antara Jakarta – Los Angeles. Betapa jauh jarak membentang. Tapi teknologi meringkusnya sedemikian dekat. Aku baru menyadarinya ketika larik-larik teks singkat mendadak nongol di depanku sore ini; mengusik konsentrasiku.

Seseorang dari masa lalu mendadak terlempar di depanku, dalam wujud teks yang berpendar di layar komputerku. Berikutnya adalah sebuah obrolan — sesuatu yang entah sekian tahun silam berhenti.

Teks-teks obrolan mengalir kencang, bersicepat dengan kegugupan. Dari sapaan ringan yang kasual sampai kenangan yang tak pernah hilang…sampai akhirnya … « Read the rest of this entry »

Gamang Pecas Ndahe

November 5, 2008 § 32 Komentar

Hujan membasuh malam yang penat oleh resah. Ranting luluh. Daun-daun kering merintih nyaring ditikam kristal-kristal bening. Rembulan telah lama hilang bersama bintang-bintang di balik gedung jangkung yang menjilat hamparan langit kelabu di atas Jakarta.

Lelaki pecinta mimpi itu terbangun dengan setengah mata terpejam. Udara yang lengas memompa resah. Bidadari senja tersenyum di sampingnya. Parasnya sempurna bagaikan permadani malam bertabur bintang-bintang berkilauan. Sinarnya matanya berkeredep seperti ratna mutu manikam Sungai Mahakam.

“Aku belum mengenalmu dengan sangat. Siapakah sesungguhnya dirimu? Kau seperti rama-rama dengan sayap retak. Adakah kau pernah kehilangan dan dilanda cinta yang pahit?” bidadari itu bertanya seraya merebahkan kepalanya ke dada lelaki pecinta mimpi.

Lelaki itu tersenyum. Tapi hatinya puspas. Dia seperti terpelanting ke masa silam. Berbelas musim berganti, berpuluh purnama lalu, lelaki itu pernah mendapat pertanyaan yang sama. Tentang diri, cinta yang pahit dan arti kehilangan. Lama ia membiarkan tanya itu mengapung di udara yang muram.

“Kenapa kau diam? Apakah pertanyaanku terlalu sulit kau jawab?” bidadari itu mulai kehilangan kesabaran.

Lelaki pecinta mimpi bangkit. Matanya menatap jauh ke jantung gelap malam. Gerimis mempercepat kelam. Ia bersicepat dengan masa silam yang mendadak kembali datang. « Read the rest of this entry »

Aesthetica Pecas Ndahe

Oktober 9, 2008 § 38 Komentar

aestheticaPerempuan itu datang dari pinggir galaksi yang kelam pada awal musim gugur yang biru dan membeku. Dia melayang, menggelandang bersama bintang-bintang di ruang kekal tanpa sinar, tanpa jalur, dan bumi yang dingin, bergoyang: buta.

Sosoknya adalah bangunan yang sempurna, pahatan patung Yunani yang mulus tanpa cacat. Sepasang matanya perpaduan terang cahaya matahari dan keteduhan sanubari — membuat diriku tenggelam ke dasar palung yang membahayakan: antara cinta dan hasrat memiliki.

Ia datang pagi, dan pergi tanpa membawa siang. Aku terkesima melihat sayapnya yang lisut, geraknya yang gemulai, perlahan, menari di antara gelap debu-debu purba yang muntah dari kepundan Tambora.

Siapakah dia? Bidadari yang tak pernah menangis? Peri dari negeri kabut?

Entah. Tapi setiap kali terkenang padanya, ingatanku melayang pada bait-bait liris lagu Sinatra yang dilantunkan Sting lagi dengan suara serak … « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with pahit at Ndoro Kakung.