Jangan pakai Influencer lagi untuk politik
Maret 14, 2024 § 2 Komentar
Bukankah, katanya, influencer itu berguna untuk mendongkrak popularitas kandidat? Katanya pemengaruh itu mampu memengaruhi opini publik. Katanya influencer itu dipercaya dan diikuti langkahnya oleh publik.
Mengapa sekarang politisi dilarang memanfaatkan mereka?

Mengapa orang antre beras?
Februari 23, 2024 § 1 Komentar
Mengapa tiba-tiba muncul banyak berita tentang orang antre beras? Apakah beras memang langka atau hanya naik harganya saja?

Benarkah antrean beras sekadar praktik fear mongering?
« Read the rest of this entry »Kekacauan politik: Denny Indrayana memicu polemik dengan klaim Mahkamah Konstitusi mengubah sistem Pemilu
Mei 29, 2023 § Tinggalkan komentar
Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana mencuitkan informasi yang memicu polemik.

Apa isi cuitannya? Mengapa memicu polemik?
« Read the rest of this entry »Kisah sebuah panggung
Februari 14, 2023 § 1 Komentar
Panggung belum resmi dibuka. Tapi sudah ada yang mencuri.

Lampu kilat menyala. Kamera televisi menyorot.
Dan sebuah pertunjukan pun dimulai. Saya jadi teringat pada novel Milan Kundera pada 1990. Novel itu dalam bahasa Ceko disebut Nesmrtelnost dan dalam bahasa Inggris disebut Immortality. Di novel itu, Kundera memperkenalkan sebuah istilah baru: “imagologi”.
apaan tuh?Revolusi Pecas Ndahe
November 30, 2011 § 192 Komentar
Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa.
Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Ia terhimpit.
Seperti biasa, sore itu ada dua cangkir kopi di atas meja. Satu kopi tubruk untukku. Satu cappucino kesukaannya.
Dua cangkir kopi. Dua manusia. Bumi dan langit. Tiba-tiba aku merasa yang namanya iba itu bisa datang dari mana saja. Ia kerap muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Paling tidak demikian yang kurasakan sore itu.
Ia bahkan bisa datang dari secangkir kopi. Seorang teman. Dan beberapa butir air mata yang bergulir perlahan di pipi.
“Maaf, kadang aku masih cengeng, Mas,” katanya perlahan. “Kamu nggak usah ketawa.”
Mukaku datar. Pura-pura tak mendengar. « Read the rest of this entry »